Paskah, Warga Tionghoa Rayakan Cheng Beng

- 27 Maret 2016
tirto.id - [caption id="attachment_71331" align="alignnone" width="1200"]
Warga Tionghoa mempersiapkan berbagai sesajian di depan makam pada perayaan tradisi Ceng Beng di Pekuburan China Pannara, Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (25/3). Ceng Beng atau Qing Ming merupakan ritual suci bagi masyarakat Tionghoa yang dilakukan secara turun-temurun setahun sekali dengan berziarah ke makam orang tua dan leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah tiada. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/aww/16.
Warga Tionghoa mempersiapkan berbagai sesajian di depan makam pada perayaan tradisi Ceng Beng di Pekuburan China Pannara, Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (25/3).  ANTARA FOTO/Dewi Fajriani[/caption]

Di tengah perayaan Paskah umat Katholik di Indonesia, warga keturunan Tionghoa, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri, hari ini juga sedang melaksanakan ritual Cheng Beng, atau ziarah ke makam leluhur, dengan mendatangi sejumlah perkuburan di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

"Ritual Cheng Beng ini dilaksanakan mulai 10 hari sebelum 5 April dan sampai dengan 10 hari sesudahnya yang dilakukan secara kekeluargaan," kata salah seorang peziarah Akiong (45) di Bagansiapiapi, Minggu, (27/3/2016).

Menurut Akiong, tradisi Cheng Beng sudah merupakan kegiatan setiap tahun dan ia bersama keluarganya selalu berkumpul di kuburan untuk berdoa serta memberikan sesaji makanan, membakar hio dan lainnya.

"Makanan dan buah-buahan yang disajikan ini merupakan kesukaan oleh leluhur dan sembari berdoa kepada arwah untuk kebaikan di surga," ujar Akiong yang juga akrab disapa Darman itu.

Dalam budaya warga Tionghoa sendiri, ada tiga kali sembahyang yang ditujukan bagi keluarga yang telah meninggal, yaitu sembahyang bulan tiga atau Cheng Beng, sembahyang di saat ritual Bakar Tongkang dan sembahyang Sayur pada bulan Oktober.

Sementara itu, penjaga kuburan Amat (60) mengatakan bahwa dalam tiga hari terakhir, warga keturunan Tionghoa yang melakukan ziarah kubur terus berdatangan mulai dari pagi, siang hingga sore hari.

Ia mengakui, saat Cheng Beng memang merupakan momen yang menyenangkan bagi para penjaga maupun pengurus kuburan karena mereka dapat rezeki yang berlebih, karena pada saat itu peziarah datang sangat banyak.

"Kalau Cheng Beng datang banyak orang sekitar kuburan yang semula tidak pernah kelihatan, saat ini, pada berdatangan dengan harapan dapat rezeki," kata penjaga makam itu. (ANT)

Baca juga artikel terkait CHENG BENG atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: