Para Manula yang Ngetop berkat Medsos

Infografik Produktif di usia senja
Iris Apfel. FOTO/janeldyan.com
Oleh: Joan Aurelia - 6 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Mereka menangkal demensia dengan melakukan ragam aktivitas kreatif di usia senja. Mulai dari memadu padankan busana, menjadi fotografer, hingga pelukis.
tirto.id - Usia Iris Apfel mendekati 97 tahun. Pada tahun ini, wajahnya tampil pada sampul sebuah cofee-table-book berjudul Iris Apfel Accidental Icon. Pada halaman muka buku itu, kedua tangan Iris berhias gelang besar aneka warna. Jemarinya menyangga kacamata bulat yang menutup bagian atas mata hingga pipi. Ia mengenakan busana hijau mengilap rancangan desainer Alessandro Michele, direktur kreatif rumah mode Gucci.

Foto buku itu diunggah pada Instagram @iris.apfel, yang hari ini memiliki 789.000 pengikut. Unggahan itu sekaligus menginformasikan bahwa buku yang akan dipasarkan pada Maret nanti sudah bisa dipesan via online.

Unggahan tidak dilakukan oleh Iris yang emoh memakai media sosial. Baginya, media sosial terlalu berisik. Akun yang mengatasnamakan Iris dibuat oleh salah satu penggemarnya. Ada pula akun lain @irisapfel_, yang dibuat oleh penggemar Iris. Kedua akun itu memuat foto-foto gaya busana Iris, mengundang ribuan like dan ratusan komentar warganet.

Tumpukan kalung besar, gelang-gelang, kacamata bundar, dan busana berwarna vibran jadi benang merah gaya Iris. Ia tadinya seorang desainer interior yang sempat jadi pengusaha tekstil untuk produk furnitur. Beberapa kali ia menangani desain interior Gedung Putih. Usaha itu berhenti pada 1990-an.

Sejak saat itu profesi Iris berganti. Pada usia lanjut, ia pernah diminta oleh perusahaan produsen jam tangan Wise Wear mendesain smart watch bagi lansia. Sampai tahun ini ia masih melayani permintaan sebagai pembicara pada acara mode.


Gaya eksentrik Iris sempat membuat kurator Met Museum memintanya untuk memamerkan koleksi busana dan aksesori. Pameran Rara Avis: Selection from Iris Apfel Collection akhirnya digelar. Iris sendiri yang menata gaya busana dan aksesoris pada manekin di ruang pamer, yang mencerminkan penampilannya saat keluar rumah.

"Iris Apfel adalah salah satu persona paling riang di dunia fesyen, tekstil, dan desain interior. Selama lebih dari 40 tahun, ia telah menghasilkan gaya pribadi yang kuat, jenaka, dan nyeleneh," tulis pengantar pameran itu.

The Independent pernah menyebut bahwa Iris dipuja karena mampu memadankan busana lansiran rumah mode setaraf Dior dengan aksesori yang ia beli di pasar tradisional. Kemunculan para blogger dan fotografer jalanan membuat Iris makin terkenal di media sosial.

Salah satu blogger yang pernah menemuinya adalah Ari Seth Cohen. Ari mendirikan blog Advanced Style pada 2008. Blog ini fokus memotret gaya wanita berusia 50 tahun ke atas. Dalam wawancara dengan acara BYOD, Ari mengisahkan ia melihat ada banyak wanita paruh baya yang tampil menawan karena mampu berpikir kreatif dalam bergaya. Ia merasa ranah mode di Amerika Serikat luput dalam memotret hal ini.

Ari menilai halaman blog minim menonjolkan karakter para wanita tersebut. Karena itu, Ari bekerjasama dengan Royce Smithkin untuk membuat film dokumenter tentang gaya sejumlah lansia. Sebagian tayangan dokumenter bisa dilihat di YouTube. Alona, salah satu model Ari, berkata ia merasa seorang seniman pada usia senja. Wanita ini menggunakan bulu mata palsu yang ia buat sendiri dari rambutnya.



Tziporah Salamon, wanita yang juga kerap tampil pada blog Ari, berkata orang-orang yang melihatnya kerap bertanya tentang busana dan aksesori yang ia kenakan serta bagaimana caranya memadu padankan busana.

“Rasanya sangat melegakan ketika penampilan saya bisa membuat orang lain terinspirasi untuk melihat kembali apa yang mereka miliki,” katanya pada tayangan video Advanced Style.

Ari bertemu dengan wanita-wanita tersebut di jalanan. Profesi mereka beragam. Dari seniman, pemilik toko busana, hingga model. Coleen Heidemann, salah satunya, model berusia 68 tahun yang kini terafiliasi di Next Management.

Situs Beautiful Savage menulis Coleen menghabiskan masa mudanya sebagai pramugari. Ia suka bergaya. Ketika masa tugasnya usai, Ari beberapa kali memotretnya. Kemudian Coleen bergabung pada satu agensi model. Sekali waktu ia mengunggah aktivitas pemotretan yang ia lakukan di akun Instagram @coleen_heidemann.

Bila Coleen menikmati waktu dengan berpose di depan kamera, Kimiko Nishimoto, wanita 88 tahun asal Jepang, gemar memotret diri sendiri menggunakan kamera profesional. Ia mengaku baru mengenal cara menggunakan kamera profesional pada usia 71 tahun. Sejak saat itu ia “melatih” kemampuan memotretnya dengan berswafoto menonjolkan tema-tema unik.

Gambar-gambar yang dimuat pada situs My Modern Met menunjukkan fotonya dalam kantung sampah dengan ekspresi sedih. Kali lain pose dia tertindih sepeda motor. Rappler pernah memuat fotonya yang berlagak penyihir dan peri.

“Saya hanya ingin membawa kebahagiaan ke orang lain. Memotret ialah kunci kebahagiaan. Saya akan memotret sepanjang hidup,” ujar wanita yang selalu tidur berdekatan dengan kamera ini.


Rasa bahagia dirasakan pula oleh Haruna Yamazaki. Wanita berusia 94 tahun ini menjadi model aksesori yang didesain oleh cucunya. Ekspresi ceria Haruna bisa dilihat lewat akun @1000wave. Sang nenek rutin tampil di laman Instagram yang memuat ragam produk anyaman wol yang hendak dipasarkan oleh Chinami Mori. “Proyek ini telah memberi kesempatan pada nenek untuk mengalami beragam hal baru,” kata Mori kepada Buzzfeed.

Platform Instagram dimanfaatkan pula oleh seorang pria asal Korea yang berusia 75 tahun. Lewat akun @drawings_for_my_grandchildren ia mengunggah gambar-gambar karyanya. Gambar-gambar tersebut ia anggap sebagai cara agar dirinya terhubung dengan tiga orang cucu yang tinggal jauh darinya. “Ini adalah cara kami menunjukkan dan menceritakan setiap hal yang hendak kami bagi dengan mereka,” tulisnya dalam situs Drawings for My Grandchildren.

Setiap gambar disertai dengan caption berisi cerita yang menyiratkan kerinduan mereka terhadap para anggota keluarga. Pengikut akun Instagram tersebut berkembang sampai 300.000-an. Warganet berminat untuk membeli gambar karya sang kakek. Akhirnya gambar-gambar tersebut ia jual.

Sebagian hasilnya disumbangkan untuk organisasi Art and Healing, sebuah lembaga yang memiliki program untuk menyadarkan masyarakat agar bisa mendorong karya kreatif untuk mengusir rasa kesepian yang bisa berdampak pada kesehatan.

Rasa kesepian memang kerap melanda manula. Untuk mengatasi hal itu, manula harus mencari kegiatan yang bisa mengusir rasa kesepian. Usia senja juga tidak berarti harus terus-menerus istirahat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan manula berusia 65 tahun ke atas sebaiknya tetap melakukan kegiatan fisik maupun mengikuti kegiatan komunitas. Kegiatan fisik ini bisa aerobik hingga latihan otot. Durasi latihannya beragam. Dari 150 menit hingga 300 menit. Ia membantu badan tetap fit.

Cerita dari Iris sampai Haruna Yamazaki memberikan pesan bahwa manula tak selalu identik masa tua yang murung dan kesepian. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan agar tetap merasa bahagia. Haruna malah menemukan gairah baru di dunia fotografi, sebuah dunia yang asing baginya sebelum ia menginjak usia kepala tujuh.

Baca juga artikel terkait LANSIA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight