Orang-Orang Indonesia yang Bikin Keruh Konflik Marawi

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 25 Agustus 2017
Dibaca Normal 4 menit
Jaringan terorisme di Asia Tenggara bisa ditelusuri dari sebaran pengaruh plus senjata antara Indonesia, Filipina selatan, dan Malaysia.
tirto.id - Tidak diketahui pasti berapa banyak WNI yang terlibat dalam konflik Marawi. Meski begitu, kita bisa melacak sejauh mana peran mereka dalam memperkeruh konflik tersebut.

Tak semua WNI ini terlibat dalam pertempuran di Marawi. Mungkin hanya Abu Nida, Anggara Suprayogi, dan Yoki Pratama Windyarto yang ikut angkat senjata di ibu kota Lanao del Sur tersebut. Sementara Abu Walid tinggal di Suriah. Adapun Sanusi dan Sucipto tewas jauh-jauh hari sebelum Negara Islam Irak (ISIS) terbentuk.



Di bawah ini sejumlah peran dan latar belakang para WNI yang terlibat konflik di Marawi.

  • Anggara Suprayogi & Yoki Pratama Windyarto
Sepekan setelah konflik Marawi, militer Filipina merilis tujuh daftar pencarian orang dari Indonesia. Tujuh nama ini diketahui masuk ke Marawi lewat jalur resmi dengan pesawat dan melewati pos imigrasi.

Ketujuh orang ini terendus bergabung dengan ISIS setelah tak kembali lagi ke Indonesia.

Dua orang di antaranya, Anggara dan Yoki, diketahui sebagai pioner dan penggagas rekan-rekannya.

Anggara dan Yoki disebut berasal dari faksi al-Hawariyun yang aktif di Jabodetabek. Faksi ini dipimpin oleh Abu Nusaibah. Ia ditangkap Densus 88 pada 18 November 2016 setelah diketahui merancang keonaran saat Aksi 411 yang mengecam gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama dalam panggung Pilkada Jakarta.

Meski sama-sama mendukung ISIS, mereka enggan bergabung dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman, yang dukungan anggota dan finansialnya lebih besar.

Pada awal 2017, Anggara dan Yoki hendak pergi ke Suriah dan mengontak milisi Indonesia di Raqqa, Pak Ardun alias Abu Reza. Kondisi Raqqa yang tidak kondusif membuat Abu Reza menyarankan Anggara dan Yoki pergi ke Mindanao saja. Nomor kontak Dr. Mahmud pun diberikan.

Baca juga:


Selanjutnya, Anggara dan Yoki diminta Dr. Mahmud untuk menghubungi Rochmat Septriyanto, anggota JAD di Tegal, Jawa Tengah. Rochmat disebut-sebut berpengalaman karena pernah mengirim beberapa anggota JAD berlatih di Basilan pada awal 2016. Oleh Rohmat, Yoki diberangkatkan ke Manila pada 3 Maret 2017. Sementara Anggara berangkat sebulan kemudian.

Sebelum serangan terhadap Marawi dimulai, Dr. Mahmud meminta Anggara dan Yoki merekrut lebih banyak orang Indonesia. Dr. Mahmud juga mengontak Munawar, anggota JAD di Suriah. Munawar memberangkatkan beberapa orang JAD dari Bima, Nusa Tenggara Barat, ke Manila pada medio Mei. Namun, mereka tertahan di imigrasi dan dideportasi.

Nasib beda dialami Anggara dan Yoki. Mereka sukses mendatangkan rekan-rekan dari lingkaran studi di Tangerang. Yoki, misalnya, mengajak Muhammad Ghufron, teman seangkatannya di Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan (STIP) Cicurug. Dua sahabat ini diketahui telah tewas di Marawi. Yoki meninggal pada 20 Juni 2017, sedangkan Ghufon pada 28 Juli 2017.

  • Ibnu Qayyim alias Abu Nida
Abu Nida adalah tangan kanan Amir ISIS Asia Tenggara, Isnilon Hapilon. Diketahui ia telah bergabung dan tinggal lama bersama kelompok Abu Sayyaf di Pulau Basilan.

Abu Nida diketahui menikahi seorang perempuan lokal beretnis Yakan. Anaknya, yang berumur 12 tahun, mengikuti jejak sang bapak. Foto sang anak sering muncul menenteng M-16 yang terlihat kebesaran untuknya.

Abu Nida punya pengalaman malang-melintang sebagai kombatan. Ia sempat bergabung bersama Jemaah Islamiyah dan Mujahidin KOMPAK ketika Konflik Ambon. Di Kelompok Abu Sayyaf (ASG), ia dipercaya sebagai instruktur senjata bagi para kader baru.

Sebelum konflik Marawi pecah, Abu Nida dikabarkan ikut dengan Isnilon pindah dari Basilan ke Butig, Lanao del Sur. Ia disebut-sebut sebagai sosok penting yang membentuk korps khusus medis mengobati milisi ISIS yang terluka di Marawi. Di tangannya, kondisi Isnilon Hapilon dan Omar Maute yang dikabarkan terluka parah bisa lekas pulih.

  • Mohd Karim Yusop Faiz alias Abu Walid
Sama seperti Abu Nida, Abu Walid pernah bergabung kelompok Mujahidin KOMPAK. Tapi, beda dengan Abu Nida, Abu Walid kini berada di Suriah.

Pada 21 Juni 2016, ia muncul di sebuah video yang dirilis Al Fatihin, media ISIS berbahasa melayu. Di video itu Abu Walid tampil menggorok sandera.

Itu video propaganda pertama untuk memikat orang-orang Indonesia yang tak sanggup "hijrah" ke Suriah bisa diganti ke Filipina. Sejak 2016 memang terbentuk Katibah Nusantara, aliansi yang mempersatukan kelompok-kelompok jihadis Asia Tenggara yang bersatu di bawah panji ISIS di Suriah.

Pemimpin Katibah Nusantara adalah Bahrumsyah. Abu Walid disebut-sebut sebagai tangan kanan Bahrumsyah untuk menghubungkannya dengan simpatisan ISIS di Filipina, khususnya Kelompok Abu Sayyaf faksi Isnilon Hapilon. Untuk melihat kisah detail Abu Walid, Anda bisa membaca artikel Abu Walid Algojo ISIS yang Brutal dan Imut dari Solo.

Infografik HL Indepth Marawi

  • Ustaz Sanusi alias Ishaq
Sanusi memang sudah tewas sebelum ISIS terbentuk. Ia tewas pada 21 November 2012, sedangkan ISIS dideklarasikan oleh Abu Bakar Al-Baghdadi pada 29 Juni 2014.

Namun, tanpa peran Sanusi, dua pemimpin Grup Maute, Omar Khayam dan Abdullah Maute, tidak akan menjadi semengerikan sekarang. Sanusi disebut-sebut sebagai mentor dan inspirator Maute bersaudara.

Baca juga: Grup Maute dalam Perang Marawi: 'Anak Muda Tak Tahu Diri'

Sanusi berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Sanusi disebut anggota senior dari Jemaah Islamiyah. Pada 2003, ia sempat mengikuti pelatihan Al-Qaeda di Filipina Selatan di Kamp Muaskar Jabal Quba, bukit Cararao yang berhutan lebat di perbatasan Provinsi Maguindanao dan Lanao del Sur.

Di sana ia kenal dekat dengan Khadaffy Janjalani, pemimpin Kelompok Abu Sayaff. Laporan 28 halaman dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) pada 25 Oktober 2016, Pro-ISIS Groups in Mindanao and Their Links to Indonesia and Malaysia, menyebut bahwa Sanusi pernah pergi sebentar ke Poso pada 2004. Ia disebut-sebut sebagai penggagas pemancungan tiga siswi Kristen di Poso sebagai efek kejut terhadap lawan-lawannya.

Pada akhir 2006, Sanusi kembali ke daerah Filipina yang paling dikenalnya, Lanao del Sur. Di Marawi, ia memakai nama samaran Ibnu Gholib alias Jitli (Jet Lee). Sanusi disebut-sebut jadi otak di balik menjamurnya paham radikalisme di kampus Mindanao State University.

Di sinilah Sanusi menikah dengan salah seorang putri dari Abdulaziz Mimbatas, wakil ketua Front Pembebasan Islam Moro (MILF), seorang panglima perang yang begitu dihormati di Mindanao. Keluarga Maute memiliki ikatan keluarga dengan Abdulaziz Mimbatas, dan dari sinilah hubungan Sanusi dan Maute bersaudara terjalin.

Sanusi ditengarai membantu Kelompok Maute membangun koneksi dengan jihadis lokal lain terutama dengan para alumni Jabal Quba, termasuk Marwan, buronan nomor satu di Filipina.

Pada 2011, Marwan berperan memberi pelatihan militer kepada kelompok Maute tentang cara bertempur dan membuat bom hingga mereka membuat kelompok bernama Jamaah Tawhid wal Jihad. Sanusi diketahui punya andil saat pembentukan organisasi tersebut.

Selain dengan Marwan, Sanusi mengenalkan Maute Bersaudara kepada kontak di Poso dan jejaring Jemaah Islamiyah di Jawa Tengah.

  • Ahmad Saifullah Ibrahim alias Ibrahim Ali alias Sucipto
Jika Sanusi tak bisa dilepaskan dari pembentukan Kelompok Maute, maka Sucipto punya andil di faksi Ansharul Khilafah Philippines (AKP).

Jika Kelompok Maute melakukan aksi teror di sekitar pesisir Danau Lanao, AKP melakukannya di pesisir selatan Mindanao di daerah Sultan Kudarat dan Sarangani.

Sucipto lahir di Batang, Jawa Tengah, pada 14 Agustus 1974. Ia sempat sekolah di pesantren Al-Mukmin, Ngruki, milik Abu Bakar Ba'asyir. Saat berumur 20 tahun, ia jadi anggota Jemaah Islamiyah.

Sucipto tinggal di Kamp Hudaibiyah, Mindanao tengah, sebagai instruktur hingga tahun 1999. Dari 2002 sampai medio 2003, ia diberi mandat sebagai ketua kamp pelatihan Jabal Quba.

Pada 2002, Saifullah jadi dalang pemboman sebuah toko di General Santos yang menewaskan 15 orang. Setahun kemudian ia ditangkap di Malaysia dan diekstradisi ke Filipina pada 2005. Pada 2014, Sucipto dinyatakan bebas. Ia kembali ke Maguindanao dan bergabung bersama AKP.

Di Maguindanao, Sucipto diketahui menjalin komunikasi dengan pemimpin ISIS Indonesia di Suriah, Bahrumsyah.

Ia mengatur bantuan uang dari Suriah kepada kelompok AKP. Sucipto juga diketahui jadi konektor antara AKP dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso.

Sucipto diberi beban oleh Bahrumsyah untuk membelikan senjata di Filipina bagi MIT lewat AKP. Informasi ini terbongkar setelah kurir Wahyudin alias Iron tertangkap otoritas Filipina di Manado pada Mei 2015.

Pada 26 November 2015, marinir Filipina menyerang sebuah kamp AKP di Barangay Butril, Palimbang, Sultan Kudarat. Setelah baku tembak selama empat jam, delapan milisi AKP terbunuh, termasuk Sucipto.

==========

Keterangan foto: WNI dalam daftar pencarian orang kepolisian Filipina. FOTO/Kepolisian Filipina

Baca juga artikel terkait MARAWI atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan