Menuju konten utama

Nasib Laki-Laki Feminis

Bagi laki-laki yang sudah dimanjakan budaya partriarki ribuan tahun, menjadi feminis bukanlah perkara gampang.

Nasib Laki-Laki Feminis
Ilustrasi Laki-laki feminis. FOTO/Istock

tirto.id - Nona Willis Aronowitz biasanya berhati-hati saat bermain Tinder. Ia memang pilih-pilih dalam urusan berkencan dengan pria. Tapi pada suatu malam lembab di musim panas, ia dibikin nyaman seketika saat mengobrol dengan—sebut saja—Bob. Pria itu bicara jujur dan hormat tentang seks. Ia juga mengaku tipikal orang yang tak buru-buru mengejar komitmen, persis seperti Aronowitz. Hal itu jadi salah satu daya tarik yang bikin ia makin kesengsem pada Bob.

Di profil Tindernya, Bob juga mengklaim dirinya feminis, satu kemiripan lagi dengan Aronowitz. Tapi, pada suatu malam di rumah Bob, Aronowitz akhirnya tahu kalau profil Tinder pria itu cuma bualan.

Mereka memang memutuskan akan berkencan. Aronowitz sepakat pelukan, ciuman, dan pijatan kaki jadi agenda mereka malam itu. Tapi ia masih belum sepakat menjajali seks. Namun, yang terjadi selanjutnya tak sesuai kesepakatan.

Bob tetap bergerilya meski wanita itu sempat beberapa kali bilang tidak. Akhir cerita, mereka berdua memang tak jadi bercinta. Aronowitz tegas bilang bahwa ia benar-benar harus pergi, sebelum beranjak ke luar pintu. Ia menangis di jalan karena kaget dirinya sendiri tidak marah atas pelakuan Bob.

Dari cerita singkat ini, kira-kira berapa orang yang akan mengangkat tangan jika ditanya: siapa yang sepakat kalau kejadian di atas adalah kesalahan Nona Willis Aronowitz?

Bagi yang mengangkat tangan, Anda pasti setuju kalau berahi Bob tak bisa disalahkan karena Aronowitz setuju untuk bermesraan. Apalagi gairah seorang lelaki itu tak bisa ditahan, Aronowitz yang seorang feminis harusnya paham itu. Bukankah perempuan yang mendatangi rumah pria malam-malam adalah wanita murahan?

Lalu kenapa ia harus menangis di jalan?

Tangis Aronowitz pecah karena ia sendiri bingung dan terkejut melihat kehati-hatiannya rubuh, bahkan pergi tanpa jejak murka, alih-alih sempat mengecup Bob. Padahal dirinya adalah seorang feminis: ia sadar kalau ada yang salah. Tapi apakah kesalahan itu miliknya?

Coba bayangkan cerita yang sama dengan peran Bob dan Aronowitz yang di balik: Bob bermain Tinder, sepakat berkencan dengan Aronowitz , datang ke rumah wanita itu, lalu mengajak bermesraan. Awalnya Bob bergairah, tapi mendadak syahwatnya hilang dan meminta Aronowitz berhenti meraba-rabanya. Perempuan itu menolak dan tetap menjelajahi tubuh Bob. Lalu Bob berdiri dan keluar dari rumah itu. Apakah kesalahan itu masih milik Aronowitz?

Bagi sebagian orang yang menjawab iya, maka Anda masih bias pada konstruksi sosial budaya patriarki—sistem sosial dengan laki-laki sebagai kepala dan penguasa seluruh keluarga. Dalam budaya ini, perempuan selalu dikenakan aturan standar ganda. Misalnya pada kasus di atas: baik dalam keadaan pertama dan kedua, Aronowitz sebagai perempuan akan dicap bersalah karena terlalu berani mengekspresikan hasrat seksualnya, mengundang nafsu laki-laki, dan murahan karena mendatangi rumah laki-laki pada malam hari.

Sementara cap-cap serupa tidak diberikan pada Bob. Sebagai laki-laki ia dinilai punya hasrat lebih tinggi dari perempuan, tidak bisa mengontrol libidonya, dan sah-sah saja jika tergoda perempuan seksi.

Sebagai feminis, Aronowitz sadar tentang standar ganda itu. Dan harusnya begitu pula Bob, yang juga mengaku feminis. Namun, jumlah laki-laki yang mengaku feminis tapi tak paham arti feminisme seperti Bob memang tengah marak. Menurut Aronowitz, Pemimpin Redaksi The Fusion, menyebut mereka sebagai “The Woke Misogynist” alias “Misoginis yang Terjaga”.

“Misoginis yang Terjaga adalah pria yang bicara sebuah permainan besar tentang kesadaran dan kesetaraan gender […] memakai topi vagina pada Women’s March, lebih memilih bersanggama dengan feminis dan sesumbar menyebut dirinya salah satu dari mereka—lalu malah menggodamu, menyerangmu, atau meremehkanmu,” tulis Aronowitz.

Cerita Aronowitz dan Bob berlanjut. Pria itu meminta maaf. Aronowitz sempat hampir percaya, sampai akhirnya Bob kembali menawarkan ajakan bermesraan. Saat itu, Aronowitz sadar kalau Bob memang Misogonis yang Terjaga. Menurutnya, para laki-laki yang mengklaim diri sepihak sebagai feminis macam Bob punya dorongan tersendiri untuk menaklukkan para feminis perempuan. Banyak dari mereka bahkan tak sadar kalau konsep feminis yang mereka pahami tidak benar.

“Tentu saja, tidak semua Misoginis yang Terjaga sangat munafik, dan tak setiap konfrontasi dengan mereka selalu tak berguna dan membuat jengkel,” lanjut Aronowitz. Namun menurutnya, kehadiran mereka tentu saja berpengaruh pada pergerakan feminisme di era ini.

Nian Hu dari The Crimson setuju dengan Aronowitz. Menurutnya, para feminis pria sering terjebak dalam konsep-konsep feminisme yang mereka pelajari, dan tak sengaja terjungkang sendiri dalam kehidupan sehari-harinya. “Para pria feminis ini gagal menyadari kalau, dirinya sebagai pria, akan selalu jadi penindas,” tulis Hu. “Tak peduli seberapa banyak pawai yang mereka hadiri, atau buku feminis yang mereka baca, mereka tetap tak akan terbebas dari menyubordinasikan perempuan.”

Feminisme dalam definisinya paling sederhana adalah ideologi yang meyakini kesetaraan dalam hal sosial, poltik, ekonomi yang adil antara laki laki dan perempuan, seperti yang dipopulerkan Chimamanda Ngozi Adichie.

Menurut Hu, para Misoginis yang Terjaga ini menyadari hal itu, bahkan memilih Hillary Clinton ketika pemilu, atau sehari-harinya menulis opini tentang feminisme. Tapi cenderung menyalahi nilai feminisme itu dalam tindakan-tindakan tertentu. Ia mencontohkan Sam Polk, salah seorang feminis pria yang tulisannya tentang pelecehan pada perempuan di Wall Street sempat hangat dibahas. Menurut Hu, dalam tulisannya, Polk justru memperpanjang norma-norma patriarki dengan membikin pria sebagai pelindung wanita.

Hu juga mencontohkan kawan prianya yang dari UN Watch—seorang feminis lantang dengan literatur feminis banyak—yang mengomel “Karena aku berpidato tentang hak-hak perempuan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dia bilang harusnya dia yang kasih ceramah, karena akan lebih banyak orang yang memperhatikan jika seorang pria yang bicara tentang kesetaraan gender,” ungkap Hu.

Dalam konsep patriarki, manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki dan perempuan lekat pada stereotipe maskulin dan feminin. Dalam praktiknya, gender maskulin selalu dilekatkan pada pria, sementara feminin pada perempuan. Padahal, pengertian gender dan jenis kelamin sendiri berbeda.

Jenis kelamin adalah sesuatu yang hadir secara lahiriah dan alami. Misalnya bayi berpenis disebut laki-laki, dan bayi bervagina disebut perempuan. Tentu penis dan vagina memiliki fungsi yang berbeda secara biologis, membuat laki-laki tidak akan bisa menstruasi ataupun melahirkan seperti perempuan.

Gender adalah perbedaan peran, hak, kewajiban, kuasa, dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat. Jika kelamin bersifat alami (nature), gender bersifat kultural, hasil bentukan sosial dan budaya, bisa sangat bersifat lokal dan berbeda-beda sesuai letak geografisnya, serta mempunyai sifat “menyesuaikan” dengan waktu, sebab gender seseorang berbeda-beda di daerah tertentu, di waktu tertentu pula.

Sehingga dalam dunia patriarki perempuan adalah warga kelas dua yang lemah dan harus dilindungi. Sementara pria harus selalu jadi sosok yang kuat dan pantang merajuk apalagi menangis. Di sanalah feminisme hadir untuk menuntut kesetaraan.

Infografik Feminis

Feminis pria Nick Fulchano punya poin penting bahwa feminisme harusnya juga dirayakan oleh laki-laki. “Feminisme bukan cuma tentang membantu perempuan, ia juga tentang membantu para pria,” tulis Fulchano.

“Feminisme mengajari pria sepertiku bahwa gagal memenuhi ekspektasi tak adil seperti menahan gawang dari gelandang dengan berat tubuh 110 kilogram, tak membuat kejantanan kita berkurang sedikit pun. Beratku 70 kilogram, dan aku percaya diri kalau tubuhku akan berderak kalau seorang bertubuh 110 kilo lari ke arahku. Tapi, feminisme mengajarkanku kalau tak perlu diikat sifat maskulitas hegemonik untuk jadi seorang pria,” tambahnya.

Mengakhiri asumsi-asumsi berbau gender, menurut Fulchano, adalah hal terbaik yang bisa dilakukan untuk perempuan maupun laki-laki. “Kalau para pria tak merasa tertekan pada tuntutan dominan fisiknya untuk diterima sebagai pria, mungkin akan lebih sedikit pria yang berlaku kekerasan pada perempuan,” tulisnya. “Kalau pria diberitahu kalau taka pa untuk menangis dan mencari pertolongan ketika mereka butuh, mungkin angka pria-pria di Amerika Serikat yang bunuh diri takkan lebih tinggi dibandingkan perempuan.”

Hu juga sepakat dengan Anorowitz bahwa tak semua feminis pria bersikap demikian. “Tapi sampai nanti [ketika tak sulit membedakan feminis pria dengan Misoginis yang Terjaga], waspadailah feminis pria,” ungkap Hu.

Tentu kehadiran para Misoginis yang Terjaga tak hanya mencoreng nama feminisme dan feminis perempuan, tapi juga para laki-laki feminis lain yang menjunjung ideologi ini.

Baca juga artikel terkait FEMINISME atau tulisan lainnya dari Aulia Adam

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani