Menuju konten utama

Mitos Malam 1 Suro bagi Orang Jawa dan Kenapa Dianggap Keramat

Apa saja mitos Malam Satu Suro bagi orang Jawa? Berikut penjelasan daftar mitos dan alasan kenapa bulan Suro dianggap keramat bagi sebagian orang Jawa.

Mitos Malam 1 Suro bagi Orang Jawa dan Kenapa Dianggap Keramat
Pasukan Patangpuluh Kendi Kasepuhan Girikusumo mengirab kendi berisi air dari sumur berkah Girikusumo dalam prosesi Tradisi Grebeg Suro Girikusumo di Desa Banyumeneng, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Selasa (11/9/2018). Selain tradisi ini, ada sejumlah mitos Malam Satu Suro yang kerap menjadi perbincangan dan dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa. ANTARA FOTO/Aji Styawan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah mitos Malam Satu Suro bagi orang Jawa menyebabkan sebagian masyarakat percaya bahwa malam ini sakral, keramat, dan angker. Kesakralannya sering menjadi sorotan dalam film horor serta jadi buah bibir di kalangan masyarakat.

Salah satu sifat sakralnya ada di film Malam Satu Suro (1988) dengan bintang Suzzana yang menunjukkan waktu kemunculan setan, jin, dan santet. Di sisi lain, sebagian masyarakat kerap pantang melakukan sesuatu selama bulan Suro karena tidak bagus (ra ilok atau pemali).

Di beberapa daerah, bermacam ritual dalam menyambut “malam yang disucikan” juga dilakukan. Terlepas dari tujuan ritual atau anggapan ‘suci’ maupun ‘angker’ dari Malam 1 Suro, kegiatan-kegiatan itu memiliki makna spiritual dan merepresentasikan secara jelas soal sakralnya malam tersebut.

5 Mitos di Malam 1 Suro

Ada beberapa mitos Malam Satu Suro yang kerap menjadi bahan perbincangan masyarakat Jawa. Bukan hanya itu, sebagian masyarakat bahkan memercayai tentang mitos-mitos tersebut.

Berikut ini sejumlah mitos Malam 1 Suro.

1. Perlu Adanya Ruwatan

Pembersihan alias ruwatan kerap menjadi salah satu tradisi agar rumah seseorang bebas dari hal-hal kotor. Pada Malam Satu Suro, ada mitos tentang perlunya pembersihan bagi seseorang yang memiliki putri dan putra tunggal, sepasang putra dan putri, atau satu putra yang ada di antara dua putri.

2. Didatangi Makhluk Gaib

Bagi sebagian masyarakat Jawa, orang-orang yang lalai saat Malam Satu Suro akan didatangi makhluk gaib. Hal ini sejalan dengan kepercayaan tentang banyak munculnya makhluk gaib ketika malam tersebut.

3. Tidak Boleh Hajatan atau Pesta

Proses hajatan seperti sunatan maupun hajatan menjadi hal yang pemali selama bulan Suro. Mitosnya, orang-orang yang mengadakan agenda ini akan mendapatkan bencana tertentu.

4. Tidak Boleh Pindah Rumah

Masyarakat tidak boleh membangun rumah atau pindah rumah saat Malam Satu Suro. Mereka yang melakukan pantangan ini dipercaya akan memperoleh kesialan-kesialan tertentu.

5. Dilarang Keluar Rumah

Masyarakat Jawa memercayai bahwa melakukan tapa bisu atau berdiam diri di rumah ketika Malam Satu Suro adalah hal yang utama. Sementara para pelanggar yang keluar rumah akan memperoleh hal-hal negatif.

Tradisi Malam Satu Suro di Keraton Yogyakarta

Harmanto (2000: 10) menjabarkan bahwa di Malam Satu Suro tersebut harus ada samadi (memohon ampun kepada Tuhan), sesirih (pengendalian diri/tirakat), sesuci (menyucikan diri dan alat-alat perjuangan), dan sarasehan (temu rasa, bawa rasa, dan mengasah kemampuan).

Berikut ini tradisi peringatan Malam Satu Suro di Yogyakarta:

1. Mubeng Benteng

Tradisi atau ritual Mubeng Benteng adalah bentuk tirakat atau pengendalian diri dan memohon keselamatan kepada Tuhan YME. Pada malam hari tersebut, tradisi berlangsung dengan berjalan kaki mulai dari Keraton Yogyakarta, alun-alun utara, ke daerah barat (Kauman), ke selatan (Beteng Kulon), ke timur (Pojok Beteng Wetan), hingga akhinrya ke utara lagi dan kembali ke Keraton.

Kala prosesi, para abdi dalem keraton menggunakan pakaian khas Jawa dan tidak menggunakan alas kaki. Di belakangnya, masyarakat umum akan mengikuti dengan tidak mengenakan alas kaki juga.

Berjalan tanpa alas kaki ini bermakna untuk lebih mendekatkan diri dan menunjukkan rasa cinta terhadap alam semesta. Selama perjalanan, semua yang mengikuti prosesi akan menggantungkan tasbih di jari kanan serta memanjatkan doa kepada Tuhan.

2. Jamasan Pusaka atau Ngumbah Keris

Di Malam Satu Suro, ternyata ada juga tradisi rutin Jamasan Pusaka atau Siraman Pusaka di Keraton Yogyakarta. Ketika upacara ini, orang-orang di keraton akan membersihkan atau memandikan pusaka-pusakanya.

Pusaka tersebut meliputi senjata, kereta, alat-alat berkuda, bendera, vegetasi, gamelan, serat-serat (manuskrip), dan lain-lain. Hal yang menjadi sorotan yaitu barang tersebut dikatakan sebagai pusaka berdasarkan perannya bagi sejarah keraton (fungsi benda tersebut dahulu kala).

Adapun tujuan Jamasan Pusaka adalah menghormati dan merawat segala pusaka yang dimiliki keraton. Menurut situs Kraton Jogja, terdapat dua aspek terkait teknis dan spiritual sebagai alasan prosesinya.

Pada hal teknis, tradisi ini memiliki tujuan untuk merawat benda-benda yang dapat dikatakan sebagai warisan dari orang-orang terdahulu. Sedangkan aspek spiritualnya berfungsi sebagai penyambutan oleh masyarakat Jawa terhadap datangnya Malam Satu Suro.

Kenapa Bulan Suro Dianggap Keramat?

Bagaimana Malam 1 Suro bisa dianggap sakral? Alasan kenapa bulan Suro dianggap keramat ini berkaitan dengan budaya di keraton, sebagaimana dilansir dari tulisan Muhammad Solikhin dalam Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam (2010).

Ia menulis bahwa keraton sering mengadakan upacara dan ritual untuk peringatan hari-hari penting tertentu. Berbagai ritual akhirnya menjadi warisan sehingga terus dilanjutkan dari generasi ke generasi.

Dalam konteks Malam 1 Suro, seperti dicatat Wahyana Giri dalam Sajen dan Ritual Orang Jawa (2010), lingkungan Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta sebenarnya memaknainya sebagai malam yang suci atau bulan penuh rahmat.

Pada malam tersebut mereka mendekatkan diri kepada Tuhan dengan membersihkan diri melawan segala godaan hawa nafsu, menjalankan tirakat, lelaku, atau perenungan diri. Salah satu contohnya yaitu selamatan khusus selama satu minggu berturut-turut dan tidak boleh berhenti.

Sementara Prapto Yuwono, pengajar Sastra Jawa di Universitas Indonesia, mencoba menjelaskan mengapa pada akhirnya mitos Malam Satu Suro dimaknai secara menakutkan. Menurutnya, hal ini adalah imbas dari politik kebudayaan dari Sultan Agung dari Kerajaan Mataram.

Pada kurun 1628-1629, Mataram mengalami kekalahan dalam penyerbuannya ke Batavia sehingga membuat Sultan Agung melakukan evaluasi. Setelah penyerbuan itu, pasukan Mataram yang menyerang Batavia telah terbagi ke dalam pelbagai keyakinan seiring semakin masifnya Islam di tanah Jawa.

Kondisi tersebut akhirnya membuat pasukan Mataram tidak solid. Untuk merangkul semua golongan yang terbelah, Sultan Agung menciptakan kalender Jawa-Islam dengan pembauran kalender Saka dari Hindu dan kalender Hijriah dari Islam.

Alasan mengapa Sultan Agung menciptakan tahun Jawa-Islam karena ada satu peristiwa sejarah yang membuat dia miris dan sedih. Ia pun berpikir secara keseluruhan bahwa ada yang salah dengan kebudayaan Jawa.

Banyak yang mengaitkan rasa sedih Sultan Agung dengan kekalahan dalam dua kali penyerbuannya ke Batavia. Akhirnya, ia menciptakan tahun baru yang menggabungkan antara tahun Saka Hindu dengan tahun Islam dengan harapan bahwa berubahnya konsep akan membuat semua kepedihan itu hilang.

Sultan Agung juga mencanangkan pada malam permulaan tahun baru Islam itu untuk prihatin, tidak berbuat sesuka hati dan tidak boleh berpesta. Masyarakat harus menyepi, tapa, dan memohon kepada Tuhan.

Prapto juga mengimbuhkan, untuk menghormati leluhur dan sebagai bentuk evaluasi, pada malam tersebut juga pusaka-pusaka dicuci, dibersihkan, seiring dengan kehidupan spiritual yang disucikan kembali.

Orang Jawa pun meyakini bahwa Malam Satu Suro itu menjadi malam yang sangat sakral. Di situ pula, pertemuan antara dunia manusia dengan dunia gaib karena pusaka-pusaka dicuci, didoakan, serta diselamatkan kembali.

Lebih lanjut ia menjelaskan, malam tersebut merupakan "pertemuan" antara dunia manusia dengan dunia gaib. Bagi sebagian orang, ketakutan itu adalah berupa sanksi-sanksi gaib jika tidak berbuat kebaikan.

Sementara bagi sebagian lain justru kehadiran dunia gaib inilah yang ditakuti. Kepercayaan inilah yang kerap muncul ke layar lebar dengan menghadirkan kisah-kisah menyeramkan.

Demikian penjelasan mengenai daftar mitos Malam Satu Suro dan alasan kenapa Malam Satu Suro dianggap keramat. Pastikan juga untuk melihat beragam artikel terkait Malam 1 Suro atau Tahun Baru Islam selengkapnya di sini.

Informasi Tahun Baru Islam Terbaru

Baca juga artikel terkait TAHUN BARU ISLAM atau tulisan lainnya dari Ahmad Efendi

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Agung DH
Penyelaras: Yulaika Ramadhani & Yuda Prinada