tirto.id - Dewan Pastoral Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Yohanes Widiyanto, mengatakan bahwa gerejanya menggelar doa untuk Paus Fransiskus selama sembilan hari. Umat di gerejanya telah melangsungkan doa sejak Senin (22/4/2025).
"Pada prinsipnya, dengan dipanggilnya Sri Paus, umat di Gereja Pugeran memberikan rasa hormat dan mendoakan untuk keabadian Paus dengan wujud misa requiem," ujar Wid, sapaan akrabnya, Rabu (23/4/2025).
Wid menjelaskan bahwa misa requiem lebih menekankan doa yang ditujukan pada arwah.
"Jadi, banyak mendoakan, khusus untuk Sri Paus," jelasnya.
Wid menjelaskan bahwa Gereja Pugeran merupakan induk dari beberapa gereja lain di wilayah itu. Jumlah total umat Katolik di bawah naungannya mencapai 11.000 orang. Oleh karena itu, selain menggelar doa, Gereja Pugeran juga menyampaikan pada gereja-gereja lain di wilayahnya agar mengarahkan umat mendoakan Paus Fransiskus lewat doa pribadi dalam keluarga.
"Kami pilih untuk menggelar misa requiem lepas senja. Supaya umat yang terlibat lebih banyak untuk memberikan rasa hormat kepada beliau [Paus Fransiskus],” jelasnya.
Seturut pantauan kontributor Tirto, misa requiem pada Rabu kemarin tetap diliputi suasana haru.
Hangesti adalah salah satu umat yang turut berduka atas meninggalnya Sri Paus adalah Hangesti. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Hangesti merasa tidak percaya Sri Paus dikenal sederhana itu telah wafat. Terlebih, Imam Katolik itu meninggal dunia tepat setelah rangkaian hari Paskah.
"Setelah Paskah [Paus wafat], beliau sendiri seperti Yesus. Kami sebagai umat Katolik kaget, kok beliau secepat itu. Untuk mengenang beliau, maka kami seluruh umat Katolik sore hari ini, bukan hanya di Jogja atau Indonesia, tapi seluruh dunia, memperingatinya [mendoakan]," ujar Hangesti.
Menurut pria 63 tahun itu, wafatnya Paus Fransiskus harusnya menjadi momentum bagi umat Katolik untuk meneladani sosoknya yang sederhana dan pluralis.
Hangesti mengenang momen Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia. Meskipun bisa menggunakan jet pribadi, Paus justru memilih menggunakan pesawat komersil. Paus pun memilih menginap di Kedutaan Besar Vatikan di Indonesia ketimbang tidur di hotel mewah.
"Jam tangannya yang disorot, cuma Casio harga Rp125 ribu," sebutnya.
"Juga pada waktu naik mobil, beliau sebetulnya bisa naik mobil yang mewah. Kan, selain pemimpin umat Katolik, beliau juga tamu negara. Tapi, beliau cuma naik Innova. Kalau pejabat kita mungkin enggak mau," imbuhnya.
Hangesti pun mengenang Kamis Putih terakhir yang dilaksanakan oleh Paus Fransiskus. Alih-alih memilih "orang paling bermartabat", Paus justru memilih untuk membasuh kaki tahanan di Suriah yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Saat bertandang ke Indonesia, Paus pun tidak segan mencium tangan Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar.
"Itu memang kelebihannya beliau. Tidak membedakan umat, tidak membedakan agama," ujarnya.
Teladan kesederhanaan Paus Fransiskus juga membekas dalam benak Stefani yang menghadiri misa requiem bersama ibunya. Menurutnya, Paus Fransiskus adalah pemimpin Katolik yang mampu menunjukkan kasih Allah bagi manusia.
"Paus Fransiskus memilih hidup dengan kesederhanaan, meskipun dia pimpinan agama katolik tertinggi. Dia memberikan keteladanan untuk hidup sederhana di tengah dunia yang menawarkan kemewahan," cetusnya.
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































