tirto.id - Ignatius Kardinal Suharyo mengingatkan pentingnya penerapan gaya hidup minimalis di tengah potensi krisis energi akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hal itu disampaikannya dalam perayaan Misa Hari Raya Paskah di Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, Minggu (5/4/2026).
Menurut Suharyo, ancaman krisis energi seharusnya tidak menjadi alasan bagi masyarakat untuk baru mulai berhemat.
"Mengenai hemat energi, tidak usah disuruh, tidak usah menunggu krisis, kita mesti menghemat energi," tuturnya.
Ia menjelaskan, istilah minimalis awalnya berasal dari dunia arsitektur. Dalam pemahamannya, minimalisme mencerminkan kondisi yang bersih, indah, dan mencukupi.
Dengan demikian, konsep minimalis tidak mengandung unsur berlebihan, tetapi juga tidak berarti kekurangan hingga menimbulkan kelaparan.
"Jadi, kalau misalnya satu rumah ada kolam renangnya lima, itu pasti bukan minimalis. Itu pasti berlebihan, syukur-syukur kalau bukan serakah, tetapi hanya kaya saja," sebutnya.
"Kalau masih seperti itu, namanya serakah punya kekuatan entah apa untuk mendukung keserakahan itu, habislah apa, kemanusiaan kita menjadi semakin terbuka," lanjut Suharyo.
Ia menambahkan, tanpa motivasi yang kuat, masyarakat berpotensi abai terhadap upaya penghematan energi. Karena itu, ia menekankan pentingnya konsep ekologi integral yang digaungkan oleh pimpinan gereja sebagai landasan.
Diperkenalkan oleh Paus Fransiskus, ekologi integral merupakan pendekatan holistik yang menegaskan keterkaitan antara manusia, alam, aspek sosial, ekonomi, dan budaya.
"Kata kuncinya, kembali lagi, saya mengikuti apa yang dikatakan oleh pemimpin gereja, kata kuncinya adalah ekologi integral. Jadi, ekologi integral itu bukan sekadar masalah listrik, air, sampah, pohon, bukan hanya itu. Ekologi integral itu adalah ekosistem dunia," ucapnya.
Suharyo juga mengingatkan bahwa sikap serakah membuat seseorang tidak peduli terhadap orang lain, termasuk keluarga sendiri. Jika keserakahan meluas, ia menilai peradaban manusia tidak akan bertahan lama.
Menurutnya, keserakahan kerap berjalan seiring dengan penguasaan senjata berbahaya. Ia mencontohkan, sikap tersebut dapat muncul dari hal sederhana seperti membuang sampah sembarangan hingga praktik industri besar yang mencemari lingkungan.
"Oleh karena itu, selama masih ada yang serakah, tidak ada yang solider dengan sesamanya atau solidaritas itu berkurang, kerusakan bumi ini adalah akibat dari semuanya itu. Maka ekologi integral atau pertobatan ekologis itu artinya adalah pertobatan moral, hati nurani. Itu yang paling penting," urai Suharyo.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































