tirto.id - Saat ulang tahun kemerdekaan Indonesia, ditayangkan pemandangan tampak kamera dari pesawat yang menari-nari di atas kota Jakarta. Sekilas terbayang film tentang keindahan nusantara yang pernah ditayangkan bertahun-tahun lalu saat saya ikut study tour ke teater Keong Mas TMII. Ketika pesawat terbang perlahan memamerkan indahnya gugusan pulau, laut, dan gunung diiringi lagu "Rayuan Pulau Kelapa" nan syahdu karya Ismail Marzuki.
Namun kali ini pemandangan dari udara yang terlihat tidak banyak, landscape kota Jakarta terhalang kabut asap yang membuat warna langit dan bangunannya lebih monokrom. Pesawat pun terbang lebih lincah seolah mengikuti ritme kota Jakarta yang tergesa-gesa. Mungkin soundtrack yang lebih cocok kali ini adalah lagu “Berita Cuaca” karya Gombloh yang dinyanyikan dengan tempo slow rock oleh grup band Boomerang:
Yeh-hei... Yeh-hei... Sya-la... Yeh-hei..
Lestari alamku, lestari desaku
Di mana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa
Damai saudaraku, suburlah bumiku
Ku ingat ibuku dongengkan cerita
Kisah tentang jaya Nusantara lama
Tenteram Karta Raharja di sana
Seandainya ada kesempatan mempelajari kehidupan nusantara dari masa lampau dengan kacamata masa kini, ingin sekali saya membuat kajian terkait “supply chain” yang bisa menentukan kejayaan kerajaan pada masa itu. Pertanyaan pokok yang ingin saya cari jawabannya adalah: Apakah ada kesamaan mendasar di antara beberapa kerajaan di Nusantara yang pernah mencapai masa kejayaan yang tidak dimiliki kerajaan-kerajaan penerusnya?
Tiga kerajaan besar seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Samudra Pasai dikatakan memiliki wilayah pengaruh yang bahkan mencakup negara-negara tetangga Indonesia saat ini. Dari kacamata supply chain mereka seyogyanya sudah memiliki kemampuan manajemen dalam pengelolaan jaringan perdagangan, pelayaran, dan distribusi komoditas melampaui batas wilayah kekuasaannya, sehingga berhasil mengambil peranan penting di wilayah Asia Tenggara pada masa itu.
Sementara sejarah kerajaan-kerajaan lainnya lebih banyak bercerita tentang pemerintahan yang sibuk dengan urusan politik internal dan konflik antar keluarga kerajaan. Biasanya berujung kepada pergantian kekuasaan yang berulang-ulang sehingga banyak sekali yang perlu dihafal dalam ujian sejarah.
Selain kisah tiga kerajaan itu, tidak banyak lagi cerita mengenai perkembangan aktivitas ekonomi dan perdagangan ke luar pulau. Seolah kegiatan perekonomian terbatas cakupannya wilayah dalam daerah kekuasaan kerajaan saja. Bahkan catatan sejarah tak jarang menceritakan kisah permusuhan antar kerajaan yang berada dalam satu pulau. Kejayaan nusantara terpecah ke dalam kerajaan-kerajaan kecil, yang jika dilihat dengan kacamata supply chain masa kini telah gagal bersinergi mengoptimumkan potensi rantai suplai komoditas hasil alam yang berlimpah.
Mungkin fenomena ini yang dipelajari pedagang dari Eropa ketika datang pertama kali di nusantara. Apakah mereka sudah paham lebih dulu bahwa kekuatan ekonomi tidak hanya berada pada komoditas yang dihasilkan, tetapi juga kepada kemampuan menghubungkan komoditas tersebut dengan pasar yang terbaik? Apakah mereka memahami keinginan para raja dan bangsawan untuk melanggengkan kekuasaannya dalam tiap-tiap pulau? Apakah mereka mengeksploitasi hal tersebut dengan menawarkan perjanjian dagang jual beli putus satu pintu secara monopoli, sehingga para raja tersebut dapat fokus mengurusi politik internal dalam negeri?
Saya tidak tahu pasti, tapi saya membayangkan bagaimana pedagang asing tersebut menjual cerita “win-win solution” pada para raja agar urusan perdagangan dan perkapalan diserahkan saja ke mereka yang mengetahui dunia trading di global market. Mereka bercerita tentang sumber produksi, pelabuhan, aturan kerajaan, keuntungan dari jual beli, pajak dan royalti, resiko pengapalan dan pemasaran ke pasar global. Cerita tentang supply chain.
Di benua Eropa sendiri pada masa itu sudah muncul revolusi yang menentang kesewenangan dan privilege berlebihan bagi raja dan koleganya. Rakyat di beberapa kerajaan menuntut hak individu yang setara dan jaminan dari negara untuk mendapatkan kesempatan memajukan kehidupannya. Kebebasan individu untuk mengejar kejayaan itu juga yang sepertinya menjadi salah satu faktor para pengusaha asing melakukan ekspansi pelayaran jarak jauh dengan segala resikonya demi memperoleh komoditas yang berharga untuk market global. Kebebasan yang tentunya diiringi segala kompleksitas motivasi lain, permodalan dan kesepakatan kerja sama dengan institusi kerajaan yang akhirnya membentuk sistem kolonialisme di berbagai benua.
Ada kontras yang terjadi antar kerajaan di dua bagian bumi yang berjarak sangat jauh. Kerajaan yang fokus ekonominya terbatas pada ekstrasi komoditas untuk pemenuhan dalam negeri dan sibuk dengan politik kekuasaan Vs negara yang mulai memperkuat jaringan dan membangun supply chain global untuk ekspansi ekonomi kerajaan dan masyarakatnya. Akumulasikan kontras arah perkembangan dua tipe kerajaan tersebut selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, bayangkan apa yang terjadi.
Jika kesejahteraan negara pada masa itu dikuantifikasi sebagai ekonomi yang terus berkespansi dan dapat dirasakan manfaatnya bagi semakin banyak orang, maka negara yang paling sejahtera adalah negara yang rakyatnya memiliki hak untuk menikmati manfaat dari peningkatan produksi dalam negeri, serta mampu mengembangkan aktivitas ekonomi perdagangan ke market global. Inggris merupakan salah satu negara pertama yang mengatur bagaimana hak-hak individu harus dihormati kerajaan dalam sistem peradilan sebagaimana tercatat dalam piagam Magna Charta pada awal abad 13.
Inggris pula yang menciptakan iklim ilmuwan dan menjadi negara pertama mengalami revolusi industri pada abad 18. Inggris juga memiliki armada pelayaran yang mumpuni untuk melintasi samudra. Mungkin rentetan kombinasi kondisi inilah yang menjadi resep Inggris menjadi negara adidaya saat itu.
Perkembangan yang terjadi di Inggris kemudian menjadi salah satu model yang diikuti dan dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan di Eropa lainnya. Fokus ekonomi mereka adalah meningkatkan produksi melalui teknologi yang dapat memberikan nilai tambah terhadap sumber daya alam dan meningkatkan produktivitas, serta melakukan pelayaran lintas benua untuk mengeksploitasi sumber daya yang berharga bagi pasar yang bersedia membayar mahal perjalanan mereka.
Ketika kerajaan di benua lainnya sibuk dengan urusan mempertahankan kekuasaan dalam negeri, menciptakan sistem yang membatasi mobilitas dan perkembangan individu, bahkan menghalangi literasi karena takut muncul paham kebebasan individu, beberapa kerajaan di Eropa sudah melek akan pentingnya supply chain yang melatarbelakangi perdagangan global. Mereka telah memasuki babak persaingan yang baru, perlombaan memperebutkan komoditas yang berharga. Komoditas strategis yang pada akhirnya sangat menentukan dalam persaingan ekonomi dan geoplitik modern tidak lain dan tidak bukan adalah komoditas yang menjadi bahan bakar utama untuk kemajuan teknologi dan perdagangan global itu sendiri, yaitu energi, lebih tepatnya lagi energi fosil.
Betapa berharganya komoditas yang diperebutkan kali ini sehingga mampu menciptakan peperangan, embargo perdagangan global, atau sebaliknya menjadikan kerajaan yang sebelumnya tidak terlibat banyak dalam revolusi industri dan perdagangan global menjadi kerajaan yang kaya hanya karena memiliki sumber daya fosil tersebut, dengan melimpah.
Menimbang Posisi Indonesia
Lalu di mana posisi Indonesia jika menggunakan 3 indikator yang tadi kita bicarakan? Dalam hal revolusi industri dan kemajuan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah sumber daya alam? Dalam hal perdagangan global yang makin surplus dan terus meningkatkan size ekonomi? Dalam hal ketersediaan energi fosil yang melimpah?
Kita bisa belajar dari sejarah. Bukan untuk mengulangi kesalahan yang sama, seperti kata beberapa orang “History repeats itself”, tapi untuk melakukan revolusi bagi kemajuan bersama. Ketika sistem pemerintahan kerajaan tidak berfokus hanya untuk memakmurkan raja dan koleganya, maka sejarah menulis ada perkembangan teknologi yang penuh daya kreativitas, maka ada pertumbuhan kesejahteraan dalam society dan muncul kesadaran untuk memahami pentingnya supply chain.
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam, Indonesia memiliki lokasi yang strategis. Tetapi apakah kita dapat menguasai rantai yang menciptakan nilai dari sumber daya tersebut? Nusantara pernah memiliki kerajaan yang wilayahnya sangat luas dengan armada yang terkenal hebat. Tetapi sudahkah kita benar mempelajari bagaimana kejayaan kerajaan masa lalu tersebut didapatkan karena keberhasilannya mengambil peran penting di pasar global?
Jika masih ada kesempatan berikutnya, akan disampaikan analisis yang lebih dalam terkait supply chain komoditas yang paling penting saat ini, yang menjadi bahan bakar utama penggerak ekonomi dunia: oil & gas. []
Tulisan ini dikirim Edward ke email redaksi melalui pengacara dalam bentuk tulisan tangan.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id































