Merencanakan Kegagalan: Lumbung Pangan di Lahan Gambut Kalteng
tirto.id - Presiden Joko Widodo memutuskan membangun lumbung pangan di Pulang Pisau Kalimantan Tengah dengan model food estate. Ia menyebut rencana ini penting agar Indonesia memiliki cadangan pangan strategis, terutama untuk menghadapi potensi krisis pangan dunia.
Pembangunannya bakal dilakukan di lahan potensial seluas 165 ribu hektare yang merupakan bekas Pengembangan Lahan Gambut (PLG) era Presiden Soeharto. Pemerintah mengklaim program ini bukan cetak sawah baru lantaran dibangun dari lahan yang dulunya pernah menjadi sawah.
Lahan ini ditargetkan bisa berproduksi mulai Oktober 2020 di musim tanam padi II.
Program food estate kali ini menurutnya tidak berbeda jauh dengan era sebelumnya. Dwi, anggota tim analisis lingkungan pada program sejuta hektare PLG era Soeharto, menilai program ini berpotensi menambah daftar kegagalan proyek pangan karena mengabaikan kaidah ilmiah.
Salah satu syarat agar berhasil, katanya, food estate perlu memperhatikan persyaratan agroklimat atau kecocokan dengan alam sekitar. Syarat ini katanya sudah dilanggar dengan memilih lahan eks gambut yang mengandung sulfat masam dan berderajat keasaman tinggi alias kurang subur.
Pembangunannya bakal dilakukan di lahan potensial seluas 165 ribu hektare yang merupakan bekas Pengembangan Lahan Gambut (PLG) era Presiden Soeharto. Pemerintah mengklaim program ini bukan cetak sawah baru lantaran dibangun dari lahan yang dulunya pernah menjadi sawah.
Lahan ini ditargetkan bisa berproduksi mulai Oktober 2020 di musim tanam padi II.
Terancam Gagal
Peneliti cum dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso mengatakan proyek ini bukan barang baru. Jauh sebelum proyek ini, setidaknya ada beberapa percobaan dan kesemuanya gagal. Antara lain pada 1995-1997 oleh Soeharto untuk satu juta hektare, 100 ribu hektare di wilayah Ketapang era SBY, dan 1,2 juta hektare sawah di Merauke di periode pertama Jokowi.Program food estate kali ini menurutnya tidak berbeda jauh dengan era sebelumnya. Dwi, anggota tim analisis lingkungan pada program sejuta hektare PLG era Soeharto, menilai program ini berpotensi menambah daftar kegagalan proyek pangan karena mengabaikan kaidah ilmiah.
Baca juga:
Salah satu syarat agar berhasil, katanya, food estate perlu memperhatikan persyaratan agroklimat atau kecocokan dengan alam sekitar. Syarat ini katanya sudah dilanggar dengan memilih lahan eks gambut yang mengandung sulfat masam dan berderajat keasaman tinggi alias kurang subur.
1 dari 2
Selanjutnya
Baca juga
artikel terkait
LUMBUNG PANGAN NASIONAL
atau
tulisan menarik lainnya
Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Sosial Budaya)
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Rio Apinino

