tirto.id - Siang itu, 10 Maret 2026, cuaca di Singapura cukup cerah matahari terik dan udara sangat lembap. Saat saya mengecek suhu di aplikasi cuaca di ponsel, angka menunjukkan 30 derajat Celsius.
Perjalanan kali ini terasa berbeda. Jika sebelumnya saya ke luar negeri untuk berlibur atau solo traveling, kali ini saya datang dalam rangka media trip. Ya, ini adalah dinas luar negeri pertama saya.
Saya menjadi salah satu dari enam jurnalis yang diundang mengikuti maiden voyage atau pelayaran perdana kapal pesiar terbaru milik Disney Cruise Line yang pertama di Asia, Disney Adventure.
Setibanya di Bandara Changi, saya bersama lima jurnalis lain langsung menuju imigrasi. Setelah semua proses selesai, kami keluar dari bandara. Sebuah mobil van putih sudah menunggu dan membawa kami menuju Marina Cruise Center.
Ketika beberapa rekan terlelap di dalam mobil, saya justru tak sabar ingin segera naik kapal pesiar itu. Mata saya terus memandangi sudut-sudut kota Singapura, sambil menanti, “Kapan kapal yang viral itu akan terlihat dari kejauhan?”
Beberapa pekan sebelumnya, video tentang Disney Adventure memang berseliweran di linimasa media sosial saya. Kapal ini tengah ramai diperbincangkan bukan hanya karena menjadi yang pertama berlayar di Asia, tetapi juga karena banyak influencer membagikan keseruan mereka di atas kapal ini.
Bagaimana saya tidak penasaran? Beberapa saat lagi, saya akan merasakan langsung pengalaman itu.
Jarak dari Bandara Changi ke Marina Cruise Center sekitar 20 kilometer. Jalanan cukup lengang, nyaris tanpa kemacetan seperti di Jakarta. Sekitar 20 menit perjalanan, akhirnya yang saya nantikan mulai terlihat dari kejauhan.
“Wah, itu kapalnya, guys!” seru salah satu rekan jurnalis.
Sontak, kami semua menoleh ke sisi kiri mobil tempat Disney Adventure berlabuh. Saya langsung meraih ponsel dan merekam kapal itu dari kejauhan.

Kami tiba di pelabuhan sekitar pukul 11.46 waktu Singapura. Namun, proses check-in baru dibuka pukul 13.00.
Koper kami terlebih dahulu diberi label dan diproses oleh petugas untuk dimasukkan ke dalam kapal. Sembari menunggu, kami menepi sejenak, mencari tempat duduk, lalu makan siang.
Beberapa teman muslim yang sedang berpuasa tampak sibuk mencari Wi-Fi dan bermain ponsel mungkin sekadar mengabari keluarga atau memperbarui media sosial.
Saya melahap habis nasi lemak bersama Mbak Dyan dan rekan-rekan jurnalis. Mbak Dyan adalah PR Traveloka, platform partner dari Disney Cruise Line yang mengundang kami dalam perjalanan ini. Ia turut mendampingi rombongan, memastikan semuanya berjalan lancar sejak kami tiba hingga nanti berlayar.
Maklum, saya sudah bangun sejak pukul 03.00 dini hari, dan terakhir makan pukul 05.30 di Bandara Soekarno-Hatta. Perut rasanya sudah lama keroncongan.
Meski panas dan gerah, suasana perlahan mencair. Awalnya kami belum banyak saling sapa, tapi obrolan kecil mulai terbuka.
“Mas dari media mana?”
“Tirto.id,” jawab saya singkat.
Pukul 13.00, kami dipersilakan antre untuk check-in. Nuansa Disney mulai terasa di sini. Petugas yang mengarahkan kami memegang papan berbentuk tangan dengan tulisan “Disney Adventure”. Beberapa di antaranya juga mengenakan atribut khas Disney.
Proses imigrasi di pelabuhan berjalan lancar. Setelah itu, kami melanjutkan check-in untuk naik ke atas kapal.
Menginjakkan Kaki ke Dalam Dunia Disney
Lukisan Kapal Disney Adventure. Tirto.id/Andry Daniel

Setelah proses imigrasi selesai, sekitar pukul 13.46, kami melangkah memasuki kapal, menyusuri gangway-jembatan penghubung antara dermaga dan kapal.
Semakin mendekat, rasa takjub itu kian terasa. Kapal ini jauh lebih besar dari yang saya bayangkan. Berdasarkan riset yang saya lakukan, panjangnya mencapai 342 meter hampir setara tiga lapangan sepak bola dengan lebar lebih dari 46 meter.
Hampir 20 dek menjulang hingga sekitar 60 meter, menyerupai gedung bertingkat yang mengapung di tengah laut. Di dalamnya, lebih dari enam ribu penumpang dan sekitar 2.800 kru beraktivitas layaknya sebuah “kota kecil”.
Saat tiba di dek, aroma cat masih samar tercium, tanda kapal ini benar-benar baru. Namun, suasana langsung berubah begitu saya melewati pintu masuk. Para kru menyambut dengan senyum lebar, “Welcome to Disney Adventure.”
Saya bersama rekan media menuju dek 15 menggunakan lift, tempat kabin kami berada. Kesan pertama yang muncul: mewah. Lantai kabin dilapisi karpet tebal berwarna biru bermotif bunga, dengan aroma wangi woody, spicy, yang hangat dan elegan.
Di dek 15, kami menyusuri lorong panjang yang dipenuhi pintu-pintu kabin. Beberapa tamu menghias pintu mereka dengan magnet karakter Disney, tapi cukup membuat suasana terasa hidup.
Saya mencari nomor kamar 15312. Dari kejauhan, koper hijau muda milik saya sudah tergeletak rapi di depan pintu. Rupanya, petugas telah mengantarkan barang bawaan langsung ke masing-masing kabin.
Begitu pintu terbuka, saya sempat terdiam. Kamar yang saya tempati adalah tipe Stateroom verandah with ocean view.
Di dalamnya terdapat satu ranjang besar, sofa yang bisa diubah menjadi tempat tidur, serta berbagai fasilitas yang tertata rapi. Dua lukisan Spider-Man tergantung di dinding, memberi sentuhan khas Disney. Ada juga lemari es kecil, teko pemanas air, kopi dari Bacha, serta teh dari TWG.
Kamar mandi dipisah dengan area toilet, lengkap dengan perlengkapan mandi. Semuanya terasa ringkas, mewah, tapi nyaman. Batinku, “Inilah hotel apung yang sesungguhnya."
Setelah berkeliling sejenak, saya melangkah ke verandah, balkon kecil yang menghadap langsung ke pelabuhan. Dari sana, gedung-gedung tinggi Singapura masih terlihat jelas, seolah menjadi latar sebelum perjalanan benar-benar dimulai.

Dari Dek ke Dek di Tengah Laut Cina Selatan
Kapal ini mampu menampung hingga 6.700 penumpang. Saat berkeliling dek, saya beberapa kali melihat name tag kru dan tak sedikit yang berasal dari Indonesia.
Salah satunya Pak Suramadji, seorang server restoran. Ia bercerita, dari total sekitar 2.800 kru, sekitar 35 persen di antaranya adalah orang Indonesia, komunitas terbesar di kapal itu.
Pukul 17.00, kapal perlahan bertolak dari Marina Cruise Center, meninggalkan daratan Singapura. Di depan kami, terbentang Laut Cina Selatan.
Perjalanan pun benar-benar dimulai. Saya menyusuri dek demi dek, dari lantai 5 hingga 18, menjelajahi setiap sudut dan interiornya. Di dalamnya, saya hampir lupa sedang berada di atas kapal lebih terasa seperti berada di sebuah hotel, bahkan pusat perbelanjaan, yang mengapung di tengah laut.
Tempat pertama yang saya datangi adalah Disney Imagination Garden yang berada di dek 10-11. Ini adalah jantung dari seluruh pengalaman di atas kapal. Suasananya begitu magis.
Taman ini terasa seperti lembaran dari sebuah buku cerita, tempat imajinasi dan keajaiban terjadi. Sebuah kastil khas ala Disney dengan warna dominan merah muda menjulang tinggi, dan di sisi sebelahnya terdapat sebuah panggung untuk berbagai pertunjukan digelar.
Di sini, saya menyaksikan berbagai karakter ikonik klasik seperti Donald Duck, Goofy, hingga Pluto berjoget dan berdansa dengan semua tamu, dari berbagai usia.
Salah satu yang paling berkesan adalah pertunjukan Avengers Assemble! Tak lupa, saya merekam setiap momen ini dengan ponsel saya.

Masih di dek yang sama, saya mengintip keajaiban lain. Disney Discovery Reef, salah satu dari 7 area tematik di kapal.
Tempat ini terinspirasi dari film The Little Mermaid, Finding Nemo, serta Luca dan Lilo & Stitch. Tempat ini dirancang seolah-olah kita berada di dasar laut yang penuh karang, dengan dinding yang didominasi warna biru, dan tanaman laut dekoratif.
Siang hari lokasi ini terang dengan cahaya matahari, namun saat malam tiba, area itu dipenuhi cahaya berwarna biru, ungu, menyerupai bioluminesensi, seolah-olah karang dan laut di sekitarnya benar-benar hidup.
Saat berjelajah, sesekali kapal bergoyang pelan, namun, tidak menyuruti semangat saya untuk menyusuri lima area tematik lainnya.
Dalam beberapa langkah saja, dunia itu kembali berganti. Di Marvel Landing, energi terasa jauh lebih cepat penuh warna, penuh aksi. Inilah markas para superhero. Lokasinya ada di dek 17, di mana adrenalin berpacu dengan angin laut. Mata saya menengadah ke atas, melihat Ironcycle, roller coaster laut pertama Disney.
Lalu, suasana mendadak menjadi lebih hangat dan ceria saat saya tiba di Toy Story Place. Warna-warni cerah dan suasana riang membuat saya seperti kembali menjadi anak kecil, berada di tengah dunia mainan yang hidup.
Tak berhenti di situ, langkah berikutnya membawa saya ke San Fransokyo Street di dek 6. Sebuah kota futuristik yang dipenuhi lampu dan hiruk pikuk, memadukan nuansa Jepang dan Amerika dalam satu ruang yang terasa begitu hidup, dengan arena bermain gim di sekelilingnya.
Kemudian, saya menemukan ketenangan di Wayfinder Bay. Suasananya tropis dan santai, seolah membawa saya ke sebuah pulau di tengah lautan luas.
Di sinilah saya menyaksikan pertunjukan musikal Moana. Sebuah layar besar berdiri di bagian belakang kapal, dengan hamparan laut lepas sebagai latarnya, membuat pertunjukan itu terasa lebih hidup, seakan menyatu dengan alam di sekitarnya.
Di antara berbagai sudut kapal, saya menemukan Pizza Planet sebuah spot yang terinspirasi dari arcade pizza ikonik di film Toy Story dari Pixar. Aroma pizza hangat menyambut sejak langkah pertama, dengan irisan yang selalu siap diambil kapan saja.
Tak jauh dari sana, Ice Cream Corner menjadi tempat singgah yang sulit dilewatkan. Mesin es krim berputar tanpa henti, menyajikan cone dingin yang terasa sempurna di tengah udara laut yang lembab dan hangat.

Di dekat infinity pool, suasana tak kalah ramai. Ada hotdog yang bisa diambil begitu saja, lengkap dengan berbagai pilihan saus. Sementara itu, drink station tersebar di hampir setiap lantai memudahkan siapa pun untuk sekadar mengambil minuman dingin di sela-sela menjelajah kapal.
Di atas kapal ini, rasa lapar seolah tak punya tempat. Makanan tersedia hampir di setiap sudut, siap dinikmati kapan pun. Semuanya sudah termasuk tanpa perlu berpikir dua kali untuk mengambil satu porsi lagi, kapan saja.
Hal lain yang tak kalah menarik adalah menunggu waktu makan malam dengan konsep fine dining. Kapal ini memiliki beberapa restoran yang dirotasi selama empat hari berlayar.
Animator Palate misalnya, di sini tamu tak hanya sekadar makan malam dengan makanan pembuka dan menu utama.
Sebelum saya menyantap tenderloin steak medium rare dan salmon yang saya pesan, seluruh tamu diminta menggambar karakter mereka sendiri di atas meja dengan alat yang telah disediakan. Nantinya, gambar tersebut akan “hidup” dan tampil bersama karakter terkenal dalam penutup animasi spektakuler di layar yang ditampilkan di seluruh ruang makan.
Disney Adventure seakan ingin memastikan setiap tamunya membawa pulang pengalaman yang tak terlupakan. Pada malam kedua, usai makan malam, kami diarahkan naik ke dek 18, titik tertinggi dari “hotel apung” ini.
Di sana, di tengah hamparan Laut Cina Selatan yang gelap, pertunjukan kembang api dimulai.
Cahaya-cahaya itu meledak di langit, memantul di permukaan laut, menciptakan pemandangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rasa senang dan haru bercampur menjadi satu.
Melihat kembang api dari daratan saja sudah terasa istimewa. Tapi menyaksikannya dari atas kapal, di tengah laut lepas rasanya benar-benar magis.

Setiap malam, selalu ada kejutan kecil yang menanti di dalam kamar. Saat kembali usai beraktivitas, saya mendapati merchandise edisi khusus maiden voyage telah tersusun rapi di atas tempat tidur, suvenir yang tak dijual bebas, seolah menjadi penanda bahwa setiap hari di kapal ini adalah momen spesial.
Hingga akhirnya, di hari keempat, pada 13 Maret sekitar pukul tiga dini hari, saya terbangun. Dari verandah, lampu-lampu kota Singapura mulai terlihat di kejauhan, perlahan mendekat, memecah gelapnya laut. Ada perasaan yang sulit dijelaskan antara enggan mengakhiri perjalanan, dan takjub bahwa semuanya terasa begitu cepat berlalu.
Pukul tujuh pagi, kapal pun sandar kembali di pelabuhan. Perjalanan ini resmi berakhir. Namun, "keajaiban" yang saya rasakan selama beberapa hari di atas laut itu, rasanya akan tinggal lebih lama, mungkin, untuk waktu yang sangat panjang.
Disney Adventure bukan sekadar kapal pesiar. Ia adalah ruang di mana batas antara dunia nyata dan imajinasi sengaja dikaburkan, dan berhasil melakukannya dengan sangat baik.

Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id































