Menikmati Pedas, Menikmati Pedih

Para peserta duduk di dalam tong saat lomba makan cabai di Cina. [Foto/Reuters/Stringer]
Oleh: Arman Dhani - 13 September 2016
Dibaca Normal 3 menit
Industri saus pedas di Amerika Serikat pada 2015 mencapai penjualan dengan nilai satu miliar dolar. Angka itu terus meningkat dan membuat industri makanan pedas menjadi salah satu industri dengan perkembangan terbesar. IBIS, lembaga riset bisnis Amerika, menyebut saus pedas sebagai industri kedelapan dengan perkembangan terpesat di Amerika.
tirto.id - Pedas adalah sebuah kenikmatan. Sinyal-sinyal tanda bahaya sebenarnya sudah muncul ketika makanan pedas masuk ke dalam tubuh. Namun, makanan itu tetap masuk ke dalam tubuh karena sensasi yang muncul selalu menghadirkan ketagihan.

Dalam sebuah esai yang ditulis John McQuaid di Wall Street Journal, rasa pedas melahirkan perasaan menderita dan bahagia. Saat makan cabai, manusia akan membiarkan tubuhnya untuk menerima sesuatu yang dia tahu akan membuat kepedasan, tapi tetap memakannya. Seperti bersedia disakiti dengan sukarela.

Banyak orang berpikir bahwa rasa pedas dari cabai merupakan bentuk sensasi panas, tapi sebenarnya bukan. Rasa pedas lahir dari iritasi dan rasa sakit. Ilmuwan yang tergabung dalam American Chemical Society menyebutkan bahwa dalam lidah kita ada rantai kimia yang disebut reseptor TRPV1 yang mendeteksi rasa pedas. Rasa pedas itu berasal dari capsaicin: senyawa tak berwarna, tak berbau, yang ada di kulit cabai. Saat lidah kita menyentuh senyawa itu, tubuh kita mengirim sinyal pada otak mengatakan bahwa ada bahaya dalam bentuk rasa pedas.

McQuaid penulis buku Tasty: The Art and Science of What We Eat, menyebut manusia adalah mahluk aneh yang menikmati rasa pedas, sesuatu yang bahkan hewan saja tidak mau memakannya. Reaksi pedas berbeda pada antara manusia satu dan yang lain. Jika anda cukup toleran dan kuat mungkin anda hanya akan kepedasan, tapi bagi beberapa orang memakan cabai punya konsekuensi lebih menyakitkan daripada kena tinju di dagu. Seseorang bisa menangis atau bahkan pingsan. Meski demikian, rasa pedas bukannya dijauhi malah menjadi obsesi.

McQuaid menyebut obsesi manusia terhadap rasa pedas merupakan persepsi kita terhadap keadaan. Pedas merupakan elemen cita rasa. Ia menghadirkan sensasi hangat dan membuat suhu tubuh meningkat. Itu mengapa bagi beberapa orang saat makan makanan pedas, mereka akan berkeringat. Saat cuaca dingin, kita menyukai masakan pedas dengan sup yang hangat. Seperti juga saat hari sangat panas kita suka eskrim dan minuman dingin. Sensasi panas dan dingin itu menjadi semacam candu yang membuat manusia merasa perlu menikmati makanan dengan sensasi tertentu.

Paul Rozin, profesor psikologi dari University of Pennsylvania, menyebutkan, di banyak peradaban dengan kebudayaan tinggi ditemukan ragam makanan pedas. Ia mulai perjalanan di Oaxaca, di Mexico untuk meneliti bagaimana makanan pedas dikonsumsi di daerah itu. Dalam penelitian yang melibatkan tikus dan berbagai cabai dengan senyawa capsaicin ia menemukan bahwa manusia mengkonsumsi makanan pedas sebagai bentuk bertahan hidup. Ia juga menemukan bahwa manusia punya daya tahan berbeda terhadap rasa pedas, mereka yang hidup di daerah tropis dan memiliki banyak makanan pedas lebih tahan daripada yang tidak.

Lantas apa manfaat kira makan makanan pedas? Dalam riset yang dilakukan oleh Purdue University pada 2011disebutkan, mengkonsumsi makanan pedas mungkin bisa membantu kerja metabolisme tubuh. Studi mereka menyebutkan bahwa mengkonsumsi maknan pedas juga membantu pembakaran kalori. Cabai juga mengandung antioxidan yang membantu mencegah penuaan dini, sementara cabai baik yang segar maupun kering merupakan bumbu yang bisa membuat makanan anda lebih enak dimakan.

Riset lain yang dilakukan oleh Nadia Byrnes dan John Hayes, peneliti dari Pennsylvania State University's College of Agricultural Sciences, mengindikasikan ada kaitan antara kegemaran orang makan pedas dan karakteristik kejiwaan mereka. Mereka menemukan ada kaitan antara penikmat pedas dengan pencari tantangan, terutama tantangan di taman bermain dan judi. Orang yang suka makanan pedas cenderung lebih terbuka terhadap tantangan dan agresif dalam menghadapi tantangan.



Dalam penelitian yang dilakukan oleh Paul W. Sherman dan Jennifer Billing, yang dipublikasikan di Oxford Journal, masakan Indonesia yang pedas mempunyai kemiripan dengan Sichuan. Dalam jurnal berjudul Darwinian Gastronomy: Why We Use Spices disebutkan, penggunaan cabai atau material pedas lainnya merupakan konsumsi harian sebagian besar masyarakat Indonesia dan Sichuan. William Wongso, pakar kuliner Indonesia menyebutkan, cita rasa pedas merupakan identitas kultural dari satu daerah di Indonesia.

Makanan seperti masakan Padang terasa tidak lengkap tanpa sambel cabai hijau, hidangan Ayam Woku makanan khas Manado mempunya ciri khas pedas yang gurih, atau sambal terasi di Jawa yang memiliki cita rasa berbeda setiap daerahnya.

Masyarakat Indonesia sendiri memiliki konsumsi yang tinggi terkait cabai, tercatat untuk konsumsi tertinggi cabai merah, masyarakat Indonesia terjadi pada 2012 sebesar 0,32 ons perkapita pertahun dan untuk konsumsi cabai rawit tertinggi terjadi pada 2012 sebesar 0,27 ons perkapita pertahun. Menariknya pada 2015 ketika harga cabai sangat mahal, konsumsi cabai rawit dan cabai merah hanya 0,06 ons perkapita pertahun. Penjualan Kripik Pedas Maicih yang sempat populer atau menyebarnya waralaba Mie Setan yang pedas bisa jadi gambaran betapa makanan pedas sangat digemari masyarakat Indonesia.

Sebelumnya Tirto.id pernah menuliskan tentang obsesi masyarakat Indonesia terhadap sambal. Untuk satu merk saja misalnya Bu Rudi 60.000 botol sambal ini bisa terjual selama sebulan. Jika satu botol dibanderol Rp20 ribu, maka penjualan sambal Bu Rudy bisa mencapai Rp1,2 miliar per bulan. Ragam sambal botolan pun bervariasi ada Sambal Dede Satoe, Sambal Encim, Sambal Tjap Garoeda, Sambal Hellyeah, dan lainnya. Setiap daerah kini mulai muncul sambal botolan yang menjadi ciri khas tempatnya.

Kendra Pierre-Louis, penulis sains di Aeon menulis bahwa makanan pedas juga merupakan bentuk ekspresi kebudayaan, dalam hal ini macoisme. Seseorang kerap diasosiasikan hebat, keren, dan kuat ketika ia mampu menahan rasa pedas. Ada banyak tantangan untuk makan makanan pedas di banyak negara dan peradaban. Di Indonesia sendiri ada berbagai macam makanan seperti mie instan, keripik, atau bubuk cabe yang memiliki level kepedasan tersendiri. Makin pedas, maka penikmatnya memiliki prestis tertentu.

Tentu itu tidak terjadi pada semua orang. Beberapa menganggap makanan pedas sekadar makanan saja, bukan sebagai tantangan atau objek penaklukan. Menariknya, dalam riset lanjutan yang dilakukan oleh Paul Rozin menyebut bahwa memakan makanan pedas adalah bentuk kenikmatan. Rasa pedas memicu reaksi di otak manusia yang mengaktivasi dopamine neurons dan area yang bertanggung jawab pada persepsi dan kesadaran.

Makan makanan pedas mampu membuat manusia menghasilkan endorpin dan membuat rasa bahagia, meski sebenarnya lidah kita sedang menderita. Rasa lemas dan lega seusai makan makanan pedas merupakan sensasi nikmat yang banyak disukai oleh penyuka pedas. Sensasi makanan pedas serupa dengan sensasi yang kita rasakan ketika naik roller coasters, nonton film horor, atau lompat parasut. Penelitian Pauul Rozin ini dipublikasikan di The journal Motivation and Emotion, menunjukkan reaksi psikologis makan pedas serupa dengan menangis saat menonton film sedih atau tertawa saat menonton komedi.

John McQuaid, lebih lanjut menyebutkan, manusia dalam banyak peradaban memperlakukan makanan sebagai satu ritual. Seperti memakan persembahan, meminum jamu, atau mengkonsumsi air yang didoakan. Memakan makanan pedas adalah bentuk ritus tersendiri, masokisme, di mana kita dengan sengaja menyakiti diri sendiri untuk memperoleh kenikmatan. Seperti jatuh cinta.

Baca juga artikel terkait GAYA HIDUP atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight