Mengetahui Jenis & Tahapan Budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA)

Oleh: Ai'dah Husnala Luthfiyyah Ans - 3 Desember 2021
Dibaca Normal 3 menit
Berikut adalah jenis dan tahapan budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang berkhasiat bagi kesehatan.
tirto.id - Sudah sejak lama masyarakat Indonesia menggunakan berbagai jenis tanaman yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Tanaman-tanaman tersebut termasuk dalam kategori yang mudah untuk dibudidayakan.

Kebiasaan dan praktik itu memunculkan istilah Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Tanaman Obat Keluarga (TOGA)--sebagaimana didefinisikan dalam modul Prakarya Aspek Budidaya (2020) terbitan Kemendikbud--merupakan tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. TOGA juga termasuk dalam sistem pengobatan tradisional yang memanfaatkan tumbuhan di halaman sekitar rumah.

Dalam pengertian lain, Tanaman Obat Keluarga (TOGA) adalah sebutan untuk beragam tumbuhan yang dapat dibudidayakan di sekitar pekarangan rumah, serta dapat memenuhi kebutuhan keluarga akan obat-obatan yang dapat diracik secara sederhana.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 tahun 2016 tentang upaya pengembangan kesehatan tradisional melalui asuhan mandiri (self care) dengan pemanfaatan tanaman obat keluarga dan keterampilan, TOGA dapat dimanfaatkan untuk penguatan sistem pelayanan kesehatan dasar.

Khasiat dari Tanaman Obat Keluarga (TOGA) telah terbukti secara ilmiah, sebagaimana dikutip dari laman FK-KMK UGM, berbagai jenis tanaman obat yang sudah terbukti dapat berfungsi sebagai kekebalan tubuh (imunomodulator) ialah jahe merah, temulawak, kunyit, maniran, dan empon-empon. Adapun rimpang kencur dapat dimanfaatkan untuk mengurangi gejala batuk dan pilek, sementara daun salam dan sambiloto berguna bagi penderita diabetes.


Jenis Tanaman Obat Keluarga (TOGA)

TOGA dikenal juga dengan istilah apotek hidup karena letak penanamannya hanya di sekitar rumah dan bisa menyediakan sumber obat-obatan tradisional (herbal). Obat-obatan herbal tersebut dapat digunakan sebagai pencegahan maupun pengobatan mandiri dalam tindakan penanganan pertama.

Berikut ini beberapa contoh Tanaman Obat Keluarga beserta kegunaannya bagi kesehatan sebagaimana dikutip dari Modul Prakarya Aspek Budidaya (2020).

  • Kunyit (Curcuma domestica Val.)

Kunyit umumnya digunakan sebagai bumbu dapur, ternyata mampu mengatasi berbagai macam penyakit, seperti anti mikroba, pencegahan kanker, mengatasi penyakit maag, menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah, antioksidan, mengatasi rasa mual, pembalut luka, dan menghilangkan gatal pada kulit.


  • Jahe (Zingiberaceae)

Tanaman jahe cukup terkenal di kalangan pecinta minuman herbal. Jahe bermanfaat sebagai penghangat tubuh kala cuaca dingin. Selain itu, jahe dipercaya dapat mengatasi beberapa penyakit, seperti batuk, meningkatkan kekebalan tubuh, mengatasi masuk angin, sakit kepala, mengatasi mabuk laut dan darat, obat dari luka memar.

  • Kencur

Beberapa khasiat kencur di antaranya: memperlancar haid, menghilangkan rasa lelah, mengatasi batuk dan anti peradangan lambung.


  • Lengkuas

Zat aktif yang terkandung dalam lengkuas, seperti galangol, methylcinnamae, galangin, sineol, kamfer, seskuiterpen, kadien, resin, heksabidrokadalen hidrat danamilum terbukti ampuh mengatasi beberapa masalah kesehatan, seperti melancarkan peredaran darah, membuang toksin dan radikal bebas dalam tubuh, penambah nafsu makan, menyembuhkan rematik dan limfa, meredakan diare, mengatasi mabuk darat dan laut dan mencegah tumor.

  • Temulawak (Curcuma xanthoriza roxb)

Zat aktif berupa kurkumin dalam temulawak terbukti berkhasiat sebagai obat anti peradangan seperti mengatasi keracunan empedu dan hepatitis B.

  • Seledri

Selain memiliki aroma yang khas, seledri dipercaya memiliki khasiatnya mampu mengatasi penyakit asam urat dan obat cuci ginjal paling murah.

  • Daun Dewa

Sesuai dengan namanya, daun dewa memiliki ragam khasiat mulai dari daun hingga akar dan dapat dijadikan sebagai lalapan. Terdapat kandungan minyak atsiri, flavonoid, dan saponin untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Beberapa khasiat dari daun tanaman obat daun dewa antara lain: melancarkan aliran darah, menghilangkan racun dalam tubuh, menurunkan demam, mengobati tekanan darah tinggi, obat diabetes (kencing manis), untuk meredakan nyeri, memar, dan luka akibat gigitan binatang.

  • Sirih

Sirih dapat mengatasi beberapa masalah kesehatan seperti mimisan, sakit gigi, gusi bengkak, bisul, bau badan, bau ketiak, menghilangkan penyakit kulit, melancarkan datang bulan tidak teratur, mengatasi batuk, sariawan, mempercepat proses penyembuhan luka bakar, demam berdarah dan obat kumur alami untuk membunuh bakteri aktif dalam mulut.

  • Brotawali

Di balik rasa pahit saat mengonsumsi brotawali, tanaman ini sangat berkhasiat mencegah dan mengobati berbagai penyakit di antaranya: mempercepat penyembuhan luka, mengatasi penyakit kulit, menurunkan demam, mengobati kencing manis, dan sakit rematik.

  • Daun Kemangi

Salah satu manfaat daun kemangi adalah untuk menetralisir racun yang mungkin saja terbawa pada makanan yang dibakar. Khasiat lainnya dari kemangi antara lain: memperkuat sistem kekebalan tubuh, menambah stamina pria terutama sel sperma, mencegah kemandulan, sebagai antiseptik alami, memperbaiki fungsi hati, mencegah ejakulasi dini, mencegah bau badan, menurunkan kadar gula darah, mencegah tulang kropos, memperlancar asi dan menghilangkan jerawat.

  • Lidah Buaya

Dikenal dengan tanaman aleo vera yang sering sekali digunakan oleh pakar kecantikan untuk menghilangkan jerawat, menjaga kesehatan bulu mata, memperkuat rambut dan menghilangkan ketombe, menghilangkan flek hitam pada wajah dan menutup pori-pori wajah yang terlalu besar.

Selain itu, berbagai penyakit juga dapat dicegah dan diobati dengan lidah buaya di antaranya: melancarkan peredaran darah, membantu mempercepat proses penyembuhan setelah operasi, menyembuhkan TBC Asma Batuk, anti peradangan dan menyembuhkan tekanan darah tinggi.


Tahapan Budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA)

Berikut ini beberapa tahapan budidaya tanaman obat dikutip dari Modul Prakarya (2017) terbitan Kemendikbud.


  • Pembibitan

Pembibitan dapat dilakukan dengan cara vegetatif maupun generatif. Perbanyakan generatif dilakukan menggunakan biji. Sedangkan perbanyakan vegetatif dilakukan secara alami dan buatan.

Vegetatif alami biasa dilakukan dengan menggunakan tunas, rhizome, geragih, umbi batang, dan umbi lapis. Kemudian vegetatif buatan dilakukan dengan cara stek, runduk, okulasi, menyambung, dan mencangkok.

  • Pengolahan Tanah

Kondisi tanah yang gembur penting untuk pertumbuhan tanaman obat, khususnya untuk perkembangan rimpang pada tanaman temu-temuan.

  • Penanaman

Lubang dan alur tanam dibuat pada bedengan. Jarak lubang tanam disesuaikan dengan kondisi tanah dan jenis tanaman. Saat penggalian lubang tanam, sebaiknya tanah galian tersebut dicampur dengan pupuk kandang atau kompos.

Tanaman obat yang tumbuhnya merambat, seperti sirih dan lada, membutuhkan tegakan. Tegakan dapat berupa panjatan hidup atau mati. Tegakan dapat dipasang kira-kira 10 cm dari tanaman. Tanaman panjatan hidup harus dipilih yang tumbuh cepat, kuat, dan berbatang lurus.

  • Pemeliharaan

Pemeliharaan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dilakukan mulai dari penyiraman, penyulaman, pemupukan, penyiangan, pembubuhan, dan pengendalian OPT (Organisme Penganggu Tanaman).

  • Panen dan Pasca Panen

Umur panen dan bagian yang akan dipanen juga memengaruhi cara panen dan pengelolaan pasca-panen.

  • Daun: daun yang dipanen untuk diambil minyak atsirinya juga harus dilakukan dengan hati-hati dan harus langsung diolah saat masih segar agar tidak menghilangkan kandungan minyaknya.
  • Rimpang: rimpang dapat dipanen pada umur 8-12 bulan. Pada saat daun tanaman sudah mulai menguning dan mengering, rimpang tanaman siap dipanen. Setelah dipanen, rimpang dibersihkan dari kotoran, benda asing, serta rimpang busuk. Selanjutnya, rimpang disortir berdasarkan umur dan ukuran rimpang. Setelah disortir, rimpang dicuci dengan air. Sebelum dikeringkan, rimpang harus dipotong-potong. Pengeringan dapat dilakukan dengan sinar matahari, oven, atau blower. Selama pengeringan, seringkali terjadi kerusakan kimia.
  • Biji: biji banyak mengandung tepung, protein, dan minyak. Kadar air biji saat dipanen berbeda-beda, bergantung pada umur panen tanaman obat tersebut. Makin tua umur biji, makin rendah kadar airnya, sebaiknya hindari tempat lembap untuk penyimpanan.
  • Akar: akar yang mengandung banyak air pengeringannya dilakukan secara perlahan-lahan untuk menghindari pembusukan dan fermentasi.

Baca juga artikel terkait TANAMAN OBAT KELUARGA atau tulisan menarik lainnya Ai'dah Husnala Luthfiyyah Ans
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Ai'dah Husnala Luthfiyyah Ans
Penulis: Ai'dah Husnala Luthfiyyah Ans
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight