Mengenal Semi Nomaden: Pola yang Muncul di Masyarakat Praaksara

Kontributor: Muhammad Agung - 11 Des 2020 14:50 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Mengenal kehidupan semi nomaden yang muncul pada zaman praaksara.
tirto.id - Masyarakat pra-aksara memiliki kehidupan semi nomaden. atau berpindah tempat tinggal dan melakukan migrasi musiman. Beda semi nomaden dan nomaden adalah, masyarakat semi nomaden memiliki rumah permanen untuk tinggal.

Pola kehidupan nomaden maupun semi nomaden muncul dari latar belakang terbatasnya kemampuan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Hal ini kemudian menuntut setiap manusia untuk merubah pola kehidupannya.

Oleh karena itu, masyarakat pra-aksara mulai mengubah pola hidup secara nomaden menjadi semi nomaden. Perubahan ini juga berkaitan dengan kenyataan bahwa mereka sudah mulai mengenal cara-cara mengolah bahan makanan.

Pola kehidupan semi nomaden biasanya masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan peralatan hidup sudah lebih baik. Selain itu pola hidup semi nomaden cenderung terlebih dahulu menanam tanaman dan akan kembali ke tempat itu, ketika musim panen tiba.

Kehidupan sosial masyarakat semi nomaden setingkat lebih baik dari pada masyarakat nomaden. Jumlah anggota kelompok semakin bertambah besar dan tidak hanya terbatas pada keluarga tertentu. Kenyataan ini menunjukkan bahwa rasa kebersamaan di antara mereka mulai dikembangkan.

Rasa kebersamaan ini sangat penting dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis, tenang, aman, tenteram, dan damai. Nilai-nilai kehidupan, seperti gotong royong, saling membantu, saling mencintai sesama manusia, saling menghargai dan menghormati telah berkembang pada masyarakat pra-aksara.

Pada zaman tersebut, masyarakat diperkirakan telah memelihara anjing. Anjing merupakan binatang yang dapat membantu manusia dalam berburu binatang. Di Sulawesi Selatan, di dalam sebuah goa ditemukan sisa-sisa gigi anjing oleh Sarasin bersaudara.

Semi Nomaden juga merupakan gaya hidup yang disesuaikan dengan daerahnya seperti padang rumput, tundra, atau es dan pasir, di mana mobilitas adalah strategi paling efisien untuk mengeksploitasi sumber daya yang langka.

Misalnya, banyak kelompok yang tinggal di tundra adalah penggembala rusa kutub dan semi-nomaden, mengikuti hijauan untuk hewan mereka.

Kebanyakan kelompok semi nomaden mengikuti pola pergerakan dan permukiman tahunan atau musiman yang tetap. Orang semi nomaden secara tradisional bepergian dengan binatang atau berjalan kaki.

Saat ini, beberapa orang perantau (semi nomaden) bepergian dengan kendaraan bermotor. Beberapa mungkin tinggal di rumah atau tempat penampungan.


Baca juga artikel terkait MANUSIA PURBA atau tulisan menarik lainnya Muhammad Agung
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Muhammad Agung
Penulis: Muhammad Agung
Editor: Dipna Videlia Putsanra

DarkLight