Menuju konten utama

Mengenal Penyebab Gigi Berlubang, Cara Mengatasi dan Perawatannya

Mengenal penyebab gigi berlubang serta bagaimana mencegahnya.

Mengenal Penyebab Gigi Berlubang, Cara Mengatasi dan Perawatannya
Ilustrasi dokter gigi. foto/istockphoto

tirto.id - Gigi berlubang merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami banyak orang di dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Dari data yang dipublikasikan oleh Departemen Kesehatan (Depkes), di tahun 2013 setidaknya sebanyak 25,9 persen penduduk Indonesia memiliki masalah gigi dan mulut.

Penderita gigi berlubang tidak hanya dari kalangan anak-anak saja, namun juga remaja, orang dewasa, orang tua, bahkan bayi.

Jika gigi berlubang tidak dirawat dengan baik, lubang akan membesar dan memengaruhi lapisan gigi yang lebih dalam. Kerusakan ini dapat menyebabkan sakit gigi yang parah, infeksi, hingga kehilangan gigi.

Proses gigi berlubang dimulai dari adanya plak. Plak gigi adalah zat lengket bening yang melapisi permukaan gigi.

Plak bisa muncul setelah mengonsumsi gula ataupun pati tetapi tidak dibersihkan dengan baik.

Konsumsi gula dan pati dapat membuat bakteri-bakteri mengaktifkan zat asam dalam mulut.

Zat asam itu akan menimbulkan lapisan yang disebut plak dan mengeras di permukaan gigi dan garis gusi atau yang sering disebut dengan karang gigi.

Serangan zat asam ini akan mengurangi mineral yang ada dalam lapisan enamel gigi. Peristiwa ini akan menyebabkan erosi gigi dan mengarah pada timbulnya lubang-lubang kecil.

Setelah enamel benar-benar terkikis, bakteri dan zat asam dapat mencapai lapisan gigi yang lebih lunak daripada enamel, atau biasa disebut sebagai dentin.

Dentin memiliki tabung yang berhubungan langsung dengan saraf gigi. Ketika lapisan dentin semakin terkikis, bakteri akan meluas hingga mencapai dan menyerang saraf maupun pembuluh darah yang menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan.

Selain gula ataupun pati, menurut Mayoclinic ada beberapa faktor lain yang meningkatkan risiko gigi berlubang. Berikut beberapa faktor tersebut:

Lokasi Gigi

Gigi berlubang sering terjadi pada gigi bagian belakang (molar dan premolars) daripada gigi bagian depan.

Alasannya karena kedua bagian gigi ini memiliki banyak alur, celah, dan terdapat banyak akar yang berfungsi mengumpulkan partikel makanan.

Akibatnya, gigi lebih sulit dibersihkan daripada gigi depan yang lebih halus dan mudah dijangkau.

Kebiasaan Ngemil

Terbiasa mengemil kue, es krim, soda, dan makanan mengandung gula tinggi dapat meningkatkan risiko terkena gigi berlubang.

Seperti yang dilansir Healthline, gula dapat mengaktifkan bakteri-bakteri gigi memproduksi zat asam yang dapat merusak lapisan luar gigi.

Zat asam ini akan mengikis mineral yang ada di dalam gigi atau demineralisasi. Peristiwa demineralisasi sebetulnya bisa diatasi oleh kandungan mineral yang ada dalam air liur.

Namun, ketika terlalu banyak gula yang dikonsumsi dan dalam waktu lama tidak dibersihkan, demineralisasi akan berlangsung lebih banyak dari yang bisa diatasi oleh air liur.

Minum susu sambil tidur

Membiarkan bayi tidur sambil menyesap dot susunya selama berjam-jam dapat menyebabkan gigi berlubang.

Ini dikarenakan bakteri akan terus aktif selama terkena formula susu, apalagi susu yang mengandung gula.

Selama beberapa jam bakteri yang aktif perlahan merusak lapisan luar gigi dan mengakibatkan gigi berlubang.

Tidak membersihkan gigi dengan baik

Gigi memiliki berbagai celah yang sulit di bersihkan. Sisa-sisa makanan yang bersarang di gigi dalam waktu lama menyebabkan bakteri perusak aktif.

Dilansir dari Dental Health Service Victoria, ada beberapa langkah yang benar dalam menyikat gigi.

Pertama, arahkan sikat gigi di sudut 45 derajat ke arah garis gusi. Kedua, gunakan pasta gigi dengan jumlah seukuran kacang.

Ketiga, sikat gigi dengan gerakan memutar. Lalu, ulangi pada permukaan gigi bagian dalam. Selanjutnya, gunakan gerakan masu dan mundur ringan pada gigi permukaan gigi kunyah.

Terakhir ludahkan pasta gigi dan busa yang ada di dalam mulut. Disarankan untuk tidak dibilas, karena kandungan fluoride dalam pasta gigi dapat melindungi dari kerusakan gigi.

Jika merasa tidak nyaman dengan rasa sikat gigi, Anda bisa menggunakan obat kumur ber-fluoride alih-alih meninggalkan sedikit pasta gigi di mulut.

Mulut Kering

Mulut kering disebabkan oleh kurangnya air liur. Padahal air liur berfungsi untuk menghambat demineralisasi serta membersihkan makanan dan plak dari gigi.

Secara singkat, air liur dapat membantu mencegah kerusakan gigi, kekurangan air liur dapat menyebabkan kerusakan pada gigi.

Gangguan Pencernaan

Sakit maag atau gastroesophageal reflux disease (GERD) dapat menyebabkan asam lambung naik hingga ke area mulut. Peristiwa ini disebut dengan reflux.

Zat asam dapat menghilangkan enamel gigi yang berujung pada kerusakan gigi. Pasien gigi berlubang yang disebabkan oleh reflux biasanya akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan lambung.

Usia

Meskipun banyak anak-anak sering identik terkena gigi berlubang, bukan berarti orang tua tidak mengalaminya.

Faktor usia menjadi salah satu risiko peningkatan gigi berlubang, karena kondisi gigi pada orang tua biasanya tidak sehat lagi.

Seiring dengan berjalannya waktu, gigi dapat aus dan gusi dapat surut membuat gigi lebih rentan mengalami kerusakan.

Melansir laman Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), dokter menyarankan sebaiknya merawat gigi dilakukan sejak dini.

Jangan menunggu gigi bermasalah baru kemudian mengunjungi dokter gigi. Gigi yang dirawat sejak dini akan lebih sehat dan bebas dari masalah-masalah dan gangguan kesehatan gigi saat kita dewasa.

Gigi yang putih belum tentu sehat. Gigi yang sehat haruslah ditunjang dengan gusi dan akar yang kuat.

Sebenarnya, untuk mendapatkan gigi yang sehat, tidak membutuhkan usaha yang sulit. Berikut ini adalah beberapa cara untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut:

- Menyikat gigi setiap sehabis makan dengan cara yang baik.

- Usahakan menjangkau dan membersihkan seluruh permukaan gigi.

- Menggunakan sikat gigi yang baik, yang lembut dan tak melukai gusi.

- Menggunakan pasta gigi yang mengandung zat-zat yang diperlukan, misalnya fluoride dan kalsium.

- Menggunakan obat kumur sehabis menggosok gigi untuk mematikan bakteri yang tertinggal di sela-sela gigi.

- Menghindari makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin serta makanan yang manis dan lengket di gigi.

Selain merawat gigi dengan benar, Departemen Kesehatan RI juga menganjurkan untuk memeriksakan gigi secara rutin setiao 6 bulan sekali.

1. Cek gigi secara rutin memungkinkan pendeteksian masalah gigi dan gusi dalam tahap awal. Artinya, jika terindikasi misalnya gigi muncul lubang kecil, dokter gigi bisa segera melakukan penambalan agar gigi tidak sampai keropos. Penanganan dini justru akan menghemat biaya pengobatan dibanding pada saat kondisi gigi sudah parah.

2. Pemeriksaan rutin ke dokter gigi juga berfungsi sebagai deteksi dini untuk mengamati kemungkinan munculnya penyakit serius lain pada rongga mulut, termasuk kanker. Dokter gigi bisa memberikan saran pada pasien untuk menemui dokter spesialis lain jika diperlukan pemeriksaan lanjutan.

3. Melatih diri untuk tidak trauma dengan penanganan masalah gigi. Saat ini teknologi dalam kedokteran gigi berkembang pesat. Salah satunya yaitu efek trauma yang dialami oleh pasien bisa dikurangi.

Pasien tidak lagi merasakan rasa sakit berlebihan pada saat misalnya penanganan saluran akar gigi maupun perawatan gigi secara keseluruhan. Semua bisa dilakukan dengan nyaman.

Infografik SC Menjaga kesehatan gigi dan mulut

Infografik SC Menjaga kesehatan gigi dan mulut. tirto.id/Sabit

Baca juga artikel terkait GIGI BERLUBANG atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yandri Daniel Damaledo