Menuju konten utama

Mengenal Penyakit Demensia dan Perbedaannya dengan Delirium

Mengenal arti penyakit demensia yang biasa dialami para lansia, serta perbedaannya dengan delirium.

Mengenal Penyakit Demensia dan Perbedaannya dengan Delirium
Ilustrasi lansia mengalami demensia. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Seiring berjalannya waktu, otak manusia dapat mengalami penurunan fungsi, baik karena faktor usia maupun non-usia atau disebut dengan demensia.

Dilansir dari laman Health Xchange, Prof Lim Si Ching, Konsultan Senior Departemen Kedokteran Geriatri dari Rumah Sakit Umum Changi (CGH) menjelaskan tentang arti demensia dan perbedaan antara demensia dengan kondisi yang sering dianggap memiliki ciri sama, yaitu delirium, berikut ini penjelasannya.

Demensia merupakan kategori luas penyakit otak yang menyebabkan penurunan fungsi otak yang lambat dan kronis.

Penyakit-penyakit ini termasuk Alzheimer, stroke (demensia vaskular), kombinasi dari penyakit Alzheimer dan demensia vaskular, penyakit parkinson dan demensia Lewy Body.

Saat ini ada lebih dari 70 penyakit yang dapat menyebabkan demensia. Penyakit Alzheimer adalah yang paling umum.

Demensia biasanya memengaruhi lansia, tetapi juga dapat terjadi pada orang di bawah usia 65 tahun, yang dikenal sebagai demensia onset dini. Kondisi ini lebih cenderung turun temurun dan pasien biasanya masih dalam tahun-tahun produktif dalam hidupnya.

Demensia memiliki ciri di antaranya penurunan fungsi otak secara lambat dan cenderung permanen, tidak mengganggu tingkat kesadaran, tanda dan gejalanya cukup konsisten, perilaku cukup konsisten dari hari ke hari, kecuali ada perubahan terbaru dalam kondisi medis atau obat-obatan

Menurut National Institute on Aging, sekitar 50 persen orang berusia 85 tahun atau lebih mungkin memiliki beberapa bentuk demensia.

Situs Medical News Today menyebutkan, beberapa penyebab demensia di antaranya adalah cedera kepala, penyakit serebrovaskular, seperti stroke, tumor otak, hilangnya sel-sel otak secara progresif, serta kondisi medis yang mendasarinya, seperti HIV.

Perlu diketahui, tidak ada obat untuk demensia. Selain itu, demensia biasanya berkembang selama beberapa tahun.

Sementara delirium, adalah suatu kondisi yang menyebabkan perubahan pada fungsi otak. Ini biasanya terjadi selama beberapa jam hingga berhari-hari dan memiliki penyebab medis yang mendasarinya.

Ciri lain dari delirium adalah fluktuasi tingkat kesadaran, dengan periode kantuk yang bergantian dengan periode kewaspadaan hiper.

Setelah kondisi medis yang mendasarinya dirawat, otak pasien dapat kembali ke keadaan normal. Dalam beberapa kasus, mungkin diperlukan hingga enam bulan bagi pasien untuk pulih sepenuhnya.

Para profesional medis tidak tahu persis penyebab delirium. Tetapi, peradangan otak, ketidakseimbangan dalam neurotransmitter, dan stres kronis semuanya dapat berperan dalam timbulnya gejala.

Delirium memiliki ciri penurunan fungsi otak dengan tiba-tiba, muncul dalam hitungan jam atau hari, tingkat kesadaran berfluktuasi antara kewaspadaan hiper dan kantuk.

Selain itu, gejala delirum berfluktuasi selama berjam-jam, beberapa kali sepanjang hari dan pasien mungkin menunjukkan perubahan perilaku baru, yakni menjadi lebih gelisah.

Penyebab delirium dapat meliputi infeksi, seperti pneumonia dan infeksi saluran kemih, ketidakseimbangan kadar asetilkolin atau dopamin, tumor otak, trauma kepala, gagal ginjal atau hati.

Penyebab lainnya, adalah karena mengonsumsi banyak alkohol, obat-obatan, atau penyalahgunaan narkoba, obat-obatan tertentu, seperti obat tekanan darah, obat tidur, dan obat penenang, paparan zat beracun, serta kurang tidur.

Pencegahan delirium termasuk menghindari obat-obatan psikoaktif, lingkungan yang tenang, aktivitas siang hari, gelap dan tenang di malam hari, perangkat bantu pendengaran dan visual, perangkat orientasi, dan menghindari pengekangan sebagaimana dilansir dari laman Johns Hopkins Medicine

Baca juga artikel terkait DEMENSIA atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno