Menuju konten utama

Mengapa Tanggal 21 April Diperingati Jadi Hari Kartini & Sejarah

Mengapa tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini? Berikut adalah penjelasan dan sejarahnya.

Mengapa Tanggal 21 April Diperingati Jadi Hari Kartini & Sejarah
Wisatawan mengunjungi Museum RA Kartini di jalan Alun-alun Kota Jepara, Jawa Tengah, Kamis (19/4/2018). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

tirto.id - Mengapa tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini? Berikut adalah sejarah peran R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional.

Hari Kartini diperingati setiap tahunnya pada tanggal 21 April. Peringatan Hari Kartini merupakan wujud penghormatan atas jasa-jasa Raden Adjeng (R.A) Kartini yang telah menjadi pelopor pendidikan bagi wanita di Indonesia.

Sosoknya mampu mendobrak pandangan zaman terhadap keterbatasan akses perempuan terhadap dunia pendidikan. Jasa-jasa Kartini yang sangat berharga terhadap kemajuan bangsa mengantarnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Penetapannya R.A. Kartini sebagai pahlawan Nasional tercantum dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964. Peringatan Hari Kartini pertama kali dirayakan ditetapkannya Keputusan Presiden tersebut.

Mengapa Tanggal 21 April Jadi Hari Kartini?

Dasar penetapan 21 April sebagai Hari Kartini adalah karena tanggal tersebut merupakan hari lahir Raden Adjeng Kartini. Ia dilahirkan di Jepara, 21 April pada tahun 1879 dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan M.A. Ngasirah.

Kartini terlahir di tengah keluarga bangsawan Jawa. Ayahnya merupakan sosok bupati Jepara. Kakak Kartini yang bernama Sosrokartono merupakan seorang yang pandai dalam bidang bahasa. Pada usia 12 tahun, kakaknya diizinkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Kakek Kartini, yakni Pangeran Ario Tjondronegoro IV dikenal pada abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.

Kala itu Kartini hidup di tengah kungkungan dan pandangan zaman yang tidak memberikan kesempatan pada para wanita untuk mengenyam pendidikan secara layak. Kartini juga terpaksa meninggalkan sekolah karena segera akan dipingit kemudian menunggu suaminya melamar.

Masa muda Kartini diisi dengan ketertarikannya pada ilmu pengetahuan. Ia telah melahirkan sejumlah tulisan, seperti “Upacara Perkawinan pada Suku Toraja” yang terbit di Holandsche Lelie saat berusia 14 tahun.

Kartini melalui masa pingitnya sembari belajar sendiri dan menulis surat kepada kawan-kawan korespondensinya dari Belanda menggunakan kemampuan berbahasa Belanda yang ia kuasai. Salah satu kawan korespondensinya bernama Rosa Abendanon telah banyak mendukungnya.

Surat yang dikirim oleh Kartini banyak mengandung pemikirannya tentang berbagai persoalan, termasuk tradisi feodal yang menindas, pernikahan paksa, hingga pentingnya pendidikan bagi perempuan. Kartini tertarik pada kemajuan berpikir para perempuan Eropa. Ia memiliki keinginan untuk memajukan perempuan pribumi yang memiliki status sosial rendah salah satunya karena pendidikan terbatas.

Dilansir dari laman Kemdikbud, surat-surat Kartini yang ditujukan kepada Ny Abendanon, sebagian besar berisi kritik dan solusi seorang perempuan untuk kemajuan negaranya. Saat itu Kartini mampu menghadirkan ide-ide yang maju. Bahkan terlampau maju untuk zaman Hindia Belanda kala itu.

Kartini sangat concern perihal pendidikan dan sikap anti kekerasan hingga sering dikatakan bahwa gagasan Kartini adalah suatu ramalan tentang masa depan. Surat Kartini pada kawannya yang juga penting untuk dijadikan sebagai alat melihat bagaimana tekad dan komitmennya dalam pendidikan adalah suratnya pada Stella.

“Bagi saya, hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya…” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).

Kartini menikah dengan Bupati Rembang bernama K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Suaminya memberi izin kepada Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Setelah pernikahannya, Kartini merasa horison pemikirannya berkembang, seperti yang ia sampaikan dalam suratnya pada Abendanon.

“Di rumah orang tua saya dulu, saya sudah tahu banyak. Tetapi di sini, di mana suami saya bersama saya memikirkan segala sesuatu, di mana saya turut menghayati seluruh kehidupannya, turut menghayati pekerjaannya, usahanya, maka saya jauh lebih banyak lagi menjadi tahu tentang hal-hal yang mula-mula tidak saya ketahui. Bahkan tidak saya duga, bahwa hal itu ada”, tulis Kartini kepada Nyonya Abendanon yang menjadi sahabat penanya (Surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri, 10 Agustus 1904).

Kartini meninggal pada usia yang terbilang cukup muda, yakni 25 tahun, tak lama setelah melahirkan putra pertamanya (Soesalit Djojoadhiningrat) pada 17 September 1904. Sepeninggal Kartini, Abendanon yang juga merupakan Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda (1900-1905) mengumpulkan surat yang pernah dikirim Kartini pada kawan-kawannya di Eropa.

Kumpulan surat tersebut disusun menjadi sebuah buku. Buku pertamanya berjudul Door Duisternis tot Licht yang berarti "Dari Kegelapan Menuju Cahaya", yang diterbitkan pada 1911.

Selanjutnya pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Melayu dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.” Kemudian tahun 1938, keluarlah “Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Armijn Pane, seorang sastrawan Pujangga Baru.

Infografik Hari Kartini

Infografik Hari Kartini. tirto.id/Fuad

Baca juga artikel terkait HARI KARTINI atau tulisan lainnya dari Nurul Azizah

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Nurul Azizah
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Yulaika Ramadhani