tirto.id - Sebuah patung biawak raksasa di tugu Desa Krasak, Wonosobo, Jawa Tengah, mendadak viral dan menuai pujian di jagat maya pada April 2025. Bentuknya yang hiper-realistis, biaya pembuatan relatif terjangkau, serta fakta bahwa itu adalah karya seniman lokal, Rejo Arianto, menjadi alasan apresiasi publik. Tugu itu sontak menjadi ikon baru, tempat warga berfoto ria.
Namun, pemandangan kontras terjadi di jantung ibu kota beberapa tahun sebelumnya. Instalasi bambu megah bertajuk “Getah Getih” karya Joko Avianto di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, justru menuai cibiran luas.
Biaya yang fantastis, material bambu yang dianggap tak awet, serta bentuk yang sulit dipahami, menjadi bulan-bulanan kritik. Instalasi tersebut akhirnya dibongkar setelah kurang dari setahun berdiri karena bambunya mulai lapuk.
Tak jauh berbeda, di Pangandaran, Jawa Barat, patung tiga ikan karya I Nyoman Nuarta, yang telah berdiri puluhan tahun, dibongkar pada 2017. Pemerintah daerah menggantinya dengan patung ikan marlin yang sangat realis. Alasannya, mereka ingin menampilkan ikon baru yang lebih mewakili semangat pembangunan daerah. Pembongkaran karya seniman sekaliber Nuarta itu, meskipun telah disertai permintaan maaf dari pemerintah setempat, menyiratkan bahwa karya seni realis lebih diterima daripada abstraksi ataupun surealis.
Mengapa patung bergaya realis lebih mudah diterima dan diapresiasi oleh publik Indonesia, bahkan pihak pemerintah, dibandingkan karya-karya abstrak non-representasional? Apakah ini sekadar soal selera?

Memahami Dua Kutub Seni Patung
Seni patung jenis realis dan abstrak berbeda dalam hal cara menggambarkan dunia. Realisme berusaha menggambarkan benda persis seperti aslinya, sedangkan abstraksi dan surealisme lebih bebas mengeksplorasi berbagai bentuk dan ide.
Publik awam lebih mudah menerima realisme karena bentuknya mirip dengan benda sehari-hari. Ia langsung bisa dikenali dan dipahami tanpa perlu penjelasan rumit. Patung realis “David” karya Michelangelo dan “Greek Slave” karya Hiram Powers adalah contoh bahwa representasi yang mirip dengan kenyataan dapat memberikan dampak emosional kuat. Sebab, para seniman realis berupaya menangkap detail anatomi, proporsi, tekstur, hingga ekspresi subjek, agar menghasilkan ilusi kenyataan.
Sebaliknya, seni abstrak menuntut audiens lebih aktif dalam penafsiran. Abstraksi tidak berusaha mereproduksi bentuk dari dunia nyata, melainkan menggunakan warna, garis, tekstur, dan ruang, sebagai sarana ekspresi yang bebas.
Lihat contohnya dalam karya-karya Constantin Brancusi dengan penyederhanaan bentuk hingga esensi, Henry Moore yang kuat dalam bentuk-bentuk biomorfik, atau Sol LeWitt dengan karya konseptuanyal. Mereka menunjukkan bahwa patung dapat berkomunikasi melalui bentuk yang secara tidak langsung menggambarkan objek tertentu.
Spektrum abstraksi pun sangat luas. Ada yang masih berangkat dari bentuk alam dengan distorsi atau penyederhanaan. Ada pula yang sepenuhnya meninggalkan referensi dunia nyata. Kebebasan ekspresi dalam seni abstrak memungkinkan seniman menyampaikan gagasan dan emosi secara personal.
Namun, hambatan bagi seni abstrak adalah aksesnya yang belum lumrah dalam wacana seni. Tanpa pendidikan atau paparan yang luas, karya abstrak sering kali dianggap sulit dipahami, sehingga realisme tetap menjadi pilihan "lebih aman" di mata publik.

Jejak Seni Realis dan Abstrak di Ruang Publik Indonesia
Perjalanan seni patung di Indonesia memiliki sejarah panjang dan berlapis. Tradisi lokal, pengaruh luar, dan dinamika sosial-politik, saling berkelindan membentuk lanskap yang kita lihat hari ini.
Sejarah seni patung di Indonesia telah melalui berbagai fase, mulai dari tradisi lokal yang erat dengan keagamaan dan status sosial hingga pengaruh seni akademik Barat yang masuk melalui kolonialisme.
Relief candi Borobudur dan Prambanan serta ukiran khas daerah tertentu menunjukkan betapa kaya dan beragamnya seni rupa Nusantara sebelum seni modern berkembang.
“Pada Candi Borobudur tampak adanya pengaruh seni rupa India dengan ditemukan relief-relief cerita Sang Budha Gautama,” ungkap I Ketut Sudita dan I Gde Suryawan dalam buku Sejarah Seni Rupa Timur (2023:72).
Adapun di relief Candi Prambanan terdapat kisah-kisah Ramayana, epos yang juga berasal dari India.
Di era berikutnya, kehadiran kolonialisme membawa gaya realis melalui pendidikan seni, terutama di Bali. Lalu, menjelang kemerdekaan, seniman mulai mencari identitas seni Indonesia lewat organisasi seperti Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada 1937.
Setelah kemerdekaan, pemerintahan Sukarno mendorong seni patung sebagai bagian dari narasi kepahlawanan nasional. Negara mendukung pembuatan monumen realis berskala besar sebagai alat ideologis, misalnya Patung Dirgantara dan Monumen Pembebasan Irian Barat karya Edhi Sunarso.
“Soekarno memiliki kecenderungan untuk menyukai karya-karya seni yang bergaya realisme,” beber Elok Santi Jesica dan Ch. Budiman, dalam kajiannya di Jurnal Imajinasi berjudul “Ranah Seni Rupa Indonesia: Kolektor, Pasar, dan Penasbihan Karya”.
Sejak era pasca-kemerdekaan, seni figuratif mendominasi. Pada akhirnya, ia membentuk persepsi khalayak bahwa patung di ruang publik harus memiliki bentuk yang mudah dikenali serta bermakna historis.
Perkembangan seni patung abstrak mulai mendapat perhatian lebih besar dengan hadirnya pendidikan seni modern di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Eko Budi Wienarno, dalam artikel Jurnal Bahasa dan Seni berjudul “Seni Patung Indonesia: Perkembangan Dan Kesinambungan Proses Kreatif Penciptaan Patung Di Indonesia”, menyebutkan sejumlah tokoh ITB yang berkontribusi membangkitkan semangat seni abstrak. Misalnya, Rita Widagdo mulai memunculkan patung abstrak pada 1966 di Balai Budaya Jakarta. Bersama itu juga muncul Gregorius Sidharta dari Akademi Seni Rupa Indonesia (kini ISI Yogyakarta).
Seniman lainnya, seperti Arby Samah dan Sunaryo, juga berperan penting dalam membuka ruang eksplorasi seni non-representasional. Sayangnya, karya abstrak di ruang publik sering dianggap kurang bernilai historis dalam narasi kebangsaan. Oleh karena itu, penerimaannya masih terbatas dibandingkan dengan seni figuratif yang telah mengakar.
Mengapa Realis Lebih Mudah Dicerna Publik Indonesia?
Penelitian dari American Psychological Association menilai, otak manusia secara alami mencari kemudahan dalam memproses informasi. Adapun konsep cognitive fluency menjelaskan, makin mudah kita mengenali suatu bentuk, makin besar kemungkinan kita menyukainya. Begitu pula yang terjadi pada patung realis.
Need for Cognitive Closure (NFC)—konsep psikologis yang menggambarkan sejauh mana seseorang berkeinginan untuk mencapai keputusan yang cepat dan pasti, serta menghindari ambiguitas dan ketidakpastian—juga berperan dalam preferensi publik terhadap seni realis. Studi dari Empirical Studies of the Artsmenemukan, NFC memengaruhi cara orang menghargai, memahami, dan menghabiskan waktu, untuk melihat karya seni yang berbeda.
Seni abstrak, yang sering kali menuntut penafsiran mendalam, bisa menjadi tantangan yang tidak nyaman bagi individu dengan NFC tinggi. Mereka lebih menghargai dan cepat memahami lukisan realistis. Penelitian itu menyimpulkan, NFC tinggi berkaitan dengan intoleransi dan apresiasi yang lebih rendah untuk lukisan ambigu dan abstrak.
Dorongan alami manusia untuk mencari makna (effort after meaning) juga membuat seni realis lebih menarik. Seni realis, yang sudah bermakna jelas, lebih mudah diterima dibandingkan seni abstrak yang mengharuskan penikmatnya untuk menemukan interpretasinya sendiri.
“[...]pemahaman atas makna secara lebih eksplisit dapat kita pelajari dari seni lukis dan seni patung. Pemahaman makna yang dimaksud di sini bersifat total, bukan melulu visual, meskipun kedua genre kesenian tersebut adalah seni murni visual,” tutur Triyono Bramantyo, dinukil dari buku Estetika, Seni, dan Media (2023:13).
Artikel penelitian di National Library of Medicinemembahas faktor lain yang disebut efek paparan belaka (mere exposure effect), yaitu kecenderungan menyukai sesuatu yang sering ditemui. Mengingat kuatnya dominasi citra realis dalam sejarah monumen dan representasi visual sehari-hari di Indonesia, tak heran jika gaya tersebut lumrah sebagai preferensi publik.
Karakter sebagian besar kesenian di Indonesia, yang sarat akan keterampilan tangan dan erat dengan fungsi praktis, juga berpengaruh dalam apresiasi seni. Karya realis lebih dihargai karena punya makna komunal dan praktis, tak seperti seni abstrak yang acap dipahami dalam kerangka l'art pour l'art 'seni untuk seni'.
Apresiasi positif dari publik terhadap seni realis lebih dari sekadar urusan preferensi. Ia juga terkait erat dengan tingkat literasi seni yang masih rendah.
Riset Universitas Pendidikan Ganesha menunjukkan, pendidikan seni rupa di Indonesia kian terbatas. Jam pelajarannya di kelas pun lebih singkat. Belum lagi persoalan materi yang hanya difokuskan pada satu cabang seni. Guru pun terpaksa memilih satu jenis seni yang mereka kuasai.
Padahal, pengurangan waktu dalam pelajaran seni bertentangan dengan tujuan pendidikan yang menginginkan siswa lebih kreatif. Alhasil, seturut data Programme for International Student Assessment, hanya 5 persen siswa di Indonesia yang dinilai mahir berpikir kreatif.
Kasus Tugu Biawak Wonosobo yang dipuja, Instalasi Getah Getih yang dicerca, dan pembongkaran patung Nuarta di Pangandaran, menjadi contoh nyata besarnya pengaruh berbagai faktor tersebut.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id































