Menuju konten utama

Mendagri Tito: Jumlah Pengungsi Berkurang, Sumatra Menuju Normal

Pemerintah butuh data valid jumlah rumah warga yang rusak untuk segera mencairkan dana bantuan hunian bagi pengungsi.

Mendagri Tito: Jumlah Pengungsi Berkurang, Sumatra Menuju Normal
Sejumlah warga mengantre di dapur umum Posko Pengungsian korban banjir bandang di Batu Busuk, Pauh, Padang, Sumatera Barat, Rabu (26/11/2025). Banjir bandang yang menerjang pada Selasa (25/11/2025) berdampak kepada 327 jiwa dengan dua rumah dan satu mushalla rusak, dan sebanyak 167 orang mengungsi karena masih dikhawatirkan terjadi banjir susulan. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YU

tirto.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, menyebut pengurangan jumlah pengungsi akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra dapat menjadi simbol yang menunjukkan bahwa situasi di lapangan sudah kembali normal.

“Menurut kami [pengurangan jumlah pengungsi] ini penting. Simbol dari percepatan pemulihan. Karena makin dikit pengungsi yang di tenda-tenda, maka akan lebih mudah menunjukkan bahwa situasi sudah mendekati normal,” ujar Tito dalam Rapat Koordinasi Satgas Penanggulangan Pascabencana DPR RI dengan Pemerintah di Banda Aceh, Sabtu (10/1/2025).

Tito menjelaskan, untuk bisa mengurangi jumlah pengungsi di pengungsian, maka dibutuhkan pendataan yang valid mengenai berapa jumlah rumah warga yang mengalami kerusakan. Dengan data yang valid, maka pemerintah bisa segera mencairkan dana bantuan hunian bagi para pengungsi, dan mereka dapat segera meninggalkan pengungsian.

“Cepat serahkan uangnya itu, 70 persen sudah hilang, 120 ribu pengungsi sudah kembali,” katanya.

Menurutnya, saat ini pemerintah tengah menyiapkan skema dana bantuan hunian bagi masyarakat yang rumahnya mengalami rusak ringan sebesar Rp15 juta. Sedangkan untuk masyarakat yang rumahnya mengalami rusak berat, dana bantuan yang disiapkan adalah sebesar Rp30 juta.

Setelah menerima uang bantuan tersebut, maka masyarakat yang selama ini masih mengungsi, diharapkan bisa segera menetap di hunian sementara (huntara), menyewa rumah, atau tinggal di rumah saudara. Sebab, Tito menambahkan, terlalu lama tinggal di pengungsian juga akan menambah risiko terpapar penyakit.

“Oleh karena itu sebaiknya mereka secepat mungkin tidak di tenda. [Pindah] ke huntara kalau sudah terbangun, atau mungkin mereka punya pilihan tadi diberikan dana tunggu hunian, dana sewa, mereka bisa ke keluarganya, atau mereka ngontrak. Sehingga akhirnya jumlah yang di pengungsian di tenda-tenda ini akan jauh berkurang,” ujar Tito.

“Pak Menkes mengingatkan kepada saya, terlalu lama di tenda mereka akan sakit, akan macam-macam sakit yang muncul ya,” tambahnya.

Baca juga artikel terkait PENANGANAN BANJIR atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Siti Fatimah