tirto.id - Setelah sempat terisolasi akibat terputusnya akses utama, masyarakat Mukim Wihni Dusun Jamat, Kecamatan Linge, Aceh Tengah akhirnya kembali bisa melintasi Sungai Kala Ili. Suka cita menyusul rampungnya pembangunan jembatan apung darurat yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Banjir bandang yang melanda kawasan Linge pada akhir November tahun lalu telah memutus jembatan Kala Ili. Padahal, jembatan itu merupakan satu-satunya akses penghubung menuju lima desa di kemukiman tersebut.
Sejak saat itu, aktivitas masyarakat terganggu, mulai dari mobilitas warga, distribusi logistik, hingga penyaluran bantuan.
Lima desa yang terdampak langsung akibat putusnya jembatan tersebut yakni Desa Linge, Delung Sekinel, Jamat, Kute Reje, dan Desa Reje Payung. Selama jembatan belum bisa dilalui, warga harus mencari cara alternatif untuk menyeberangi Sungai Kala Ili demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam kondisi darurat, masyarakat sempat memanfaatkan getek sebagai alat penyeberangan sementara. Meski demikian, cara tersebut dinilai berisiko dan tidak mampu mengakomodasi distribusi logistik dalam jumlah besar.
Upaya pembangunan jembatan darurat pun sempat dilakukan, namun kembali rusak setelah diterjang banjir susulan yang terjadi beberapa waktu kemudian.
Tak ingin terus terisolasi, masyarakat bersama pemuda kemukiman kembali bergotong royong membangun jembatan apung darurat untuk kedua kalinya.

Samudra, salah seorang pemuda setempat, mengatakan jembatan darurat tersebut berhasil diselesaikan pada Minggu (4/1/2026).
“Jembatan apung darurat ini kami bangun bersama-sama agar masyarakat bisa kembali beraktivitas. Dengan adanya jembatan ini, distribusi logistik ke lima desa kembali terbuka,” ujar Samudra, Selasa (6/1/2026).
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan jembatan apung ini juga memungkinkan masuknya material penting untuk pembangunan lanjutan.
Salah satunya adalah sling baja yang akan digunakan dalam pembangunan jembatan gantung sementara.
Dengan kembali tersambungnya akses penyeberangan, proses distribusi bahan kebutuhan pokok, bantuan kemanusiaan, serta aktivitas sosial dan ekonomi warga kini kembali berangsur normal.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh Tengah, Mustafa Kamal, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah merencanakan pembangunan jembatan gantung sementara dalam waktu dekat.
“Pemerintah daerah berencana membangun jembatan gantung sementara untuk memudahkan mobilitas masyarakat dan distribusi bantuan. Nantinya jembatan ini hanya bisa dilintasi oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua,” kata Mustafa.
Selain persoalan jembatan, akses jalan darat dari Kota Takengon menuju wilayah Kecamatan Linge juga sempat mengalami kerusakan parah akibat bencana banjir dan longsor. Sejumlah titik longsoran dan jalan yang amblas menyebabkan jalur tersebut sebelumnya hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Namun, Mustafa menyebutkan bahwa saat ini kondisi jalan tersebut sudah mulai membaik. Kendaraan roda empat kini sudah dapat melintas hingga jembatan Kala Ili setelah dilakukan penanganan darurat di sejumlah titik rawan.
“Sehingga sekarang untuk menuju wilayah tersebut sudah lebih mudah. Dengan kondisi ini, distribusi bantuan juga sudah lebih mudah untuk disalurkan kepada masyarakat,” jelasnya.
Pembangunan jembatan apung darurat yang dilakukan secara swadaya ini menjadi cerminan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Linge dalam menghadapi dampak bencana.
Kontributor: Nadim
Penulis: Nadim
Masuk tirto.id






























