Menuju konten utama

Mendag Minta BGN Serap Telur Peternak Imbas Surplus 12 Persen

Kondisi surplus produksi telur itu, membuat harga telur di sejumlah daerah jatuh, tidak terkecuali di Blitar, Jawa Timur.

Mendag Minta BGN Serap Telur Peternak Imbas Surplus 12 Persen
Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan keterangan pers di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (1/4/2026). Konferensi pers tersebut memaparkan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) diantaranya target pembangunan 1.000 Perkampungan Nelayan Merah Putih (KNMP) pada 2026 dan evaluasi arus mudik serta dampak libur Lebaran terhadap sektor perdagangan juga pariwisata yang mengalami peningkatan. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

tirto.id - Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengakui saat ini produksi telur mengalami surplus hingga 12 persen. Kondisi ini lantas membuat harga telur di sejumlah daerah jatuh, tidak terkecuali di Blitar, Jawa Timur.

Karena masalah ini, Budi mengaku sudah meminta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) anyar, Nanik S. Deyang, untuk memerintahkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah tersebut agar menyerap telur yang diproduksi para peternak lebih banyak.

“Kita sudah berkoordinasi dengan BGN dan dengan Kepala BGN yang baru bahwa SPPG di daerah tersebut diwajibkan untuk menyerap telur,” kata Budi, dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Melalui upaya ini, diharapkan harga telur akan bergerak naik atau setidaknya terkerek mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Sehingga, peternak akan mendapatkan harga yang bagus,” tambahnya.

Selanjutnya, untuk menstabilkan harga telur, pemerintah akan menyesuaikan pemberian bantuan pangan kepada masyarakat. Dalam hal ini, alih-alih menggunakan beras atau MinyaKita, saat harga telur anjlok pemerintah bisa menggunakan telur sebagai bantuan pangan.

“Jadi, ini dalam rangka menyerap produk-produk makanan kita tau produk bahan pokok kita yang memang produksinya tambah. Jadi, produksi telur itu tambah berapa sekarang? Ya, sekarang surplus 12 persen. Sehingga ini bagus buat peternak,” jelas dia.

Budi menilai pada dasarnya ada tempat-tempat yang siap menyerap produksi peternak ketika surplus terjadi. Namun, yang menjadi persoalan adalah bagaimana manajemen distribusi telur tersebut, sehingga hasil ternak dapat terserap dengan maksimal dan harga telur dapat naik kembali.

“Penyerapannya sebenarnya ada, tinggal kita mengatur manajemennya untuk SPPG dengan baik, sehingga telur bisa terserap dengan baik. Tidak hanya telur, jadi kebutuhan pokok seperti misalnya ikan, misalnya ayam, daging ayam apabila turun di bawah HET, maka BGN juga akan minta untuk menyerap di SPPG. Jadi kita sepakati itu juga,” tutup Budi.

Baca juga artikel terkait MENDAG atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama