Melesetnya Polling-Polling Prediksi Pilpres AS

Oleh: Maulida Sri Handayani - 10 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Orang-orang kaget dengan kemenangan Donald Trump. Sebagian tak menerima orang yang dianggap tak kapabel bisa menjadi presiden Amerika Serikat. Tapi sebagian memang kaget karena hampir semua polling memprediksikan Clinton yang akan menang.
tirto.id - Mengapa bisa Donald Trump? Mengapa dia? Apakah seorang lelucon benar-benar menjadi presiden Amerika Serikat?

Kalimat bisa beda, tapi intinya banyak orang mempertanyakan substansi semacam itu. Tak cukup bertanya-tanya, ribuan massa berdemonstrasi memprotes kemenangan Donald Trump di berbagai kota di AS.

Padahal Hillary Clinton—dan Presiden Obama—sudah berpidato, menghibur diri dan para pendukung. Hillary mengakui kekalahannya menyakitkan, tapi ia mengingatkan pendukungnya: ini adalah hasil demokrasi yang oleh orang Amerika dijunjung tinggi.

Selain faktor internal Trump, hal yang membuat banyak pihak tidak siap dengan kemenangan si pria oranye adalah poling-poling prediktif yang kebanyakan menunjuk Hillary akan menang pilpres.

Sampai hari-H sebelum pencoblosan, poling dari Economist/YouGov, Bloomberg, IBD, ABC, Fox News, Monmouth, CBS News, dan Reuters memperkirakan Hillary menang dengan selisih 1 sampai 6 persen. Hanya poling dari LA Times yang menunjuk kemenangan Trump pada angka 5 persen.

Situsweb milik jurnalis data kawakan Nate Silver, Fivethirtyeight.com, mencatatkan probabilitas Hillary Clinton untuk menang ada pada angka 71,4 persen. Probabilitas Trump? Hanya 28,6 persen saja. Untuk popular vote, Hillary diperkirakan akan menang dengan selisih 3,6 persen dari Trump. Pada electoral vote, istri Bill Clinton ini diperkirakan menang dengan angka 302 lawan 235.

New York Times lebih percaya diri. Media yang menyatakan mendukung Hillary ini mengukur peluang kemenangan jagoannya ada di angka 85 persen. Tapi kenyataannya hampir semua angka itu meleset. Di penghabisan tanggal 8 November waktu setempat, nama pemenang sudah dipastikan bukan Hillary Clinton.

Menurut perkiraan New York Times—perhitungan resmi belum selesai—Hillary memang menang pada popular vote dengan selisih 1,2 persen, tapi ia keok di electoral vote yang menjadi tolok ukur pilpres AS. Angkanya cukup jauh: 306 vs. 232.

Inilah yang jadi tanda tanya bagi masyarakat umum dan, khususnya, dunia ilmu poling: Mengapa angka-angkanya bisa meleset?

Lembaga riset PEW Research mengupas soal melesetnya poling-poling ini. Mereka menulis: “[…] Lembaga-lembaga poling memacak peluang kemenangan Clinton mulai dari 70% sampai 99% dan mematoknya sebagai calon kuat yang akan memenangkan beberapa negara bagian seperti Pennsylvania dan Wisconsin yang akhirnya dimenangkan Trump.”

PEW menunjuk ada banyak kemungkinan atas kemelesetan berjamaah itu, tapi ada satu hal yang diamini: poll-poll itu meremehkan tingkat dukungan terhadap Trump.

Tapi para pelaku poll belum punya jawaban yang lebih detail. “Poll-poll sangat jelek, termasuk poll yang saya buat,” kata Patrick Murray, direktur Monmouth University Polling Institute, dalam emailnya kepada Fivethirtyeight.com. “Tapi jika ada yang berpikiran bahwa mereka punya jawabannya sekarang, mereka hanya mengira-ngira.”

Situsweb Fivethirtyeight.com dan PEW sama-sama menunjuk salah satu faktor yang bisa menyebabkan kekeliruan: bias nonrespons. Bias ini terjadi ketika orang-orang tertentu tidak merespons survei meskipun sesungguhnya akses terhadap semua pihak pemilih kira-kira sama.

“Kita tahu bahwa beberapa kelompok—termasuk para pemilih yang kurang berpendidikan yang menjadi kunci demografik bagi Trump pada Hari Pemilihan—begitu sulit dicapai oleh lembaga poling,” tulis PEW.

Lembaga ini berpendapat perasaan frustrasi dan anti-kelembagaan—ada juga yang menyebutnya anti-kemapanan—dalam kampanye Trump kemungkinan juga beririsan dengan ketidakinginan mereka merespons poll. Maka, segmen pro-Trump dalam hasil poling jadinya tidak sesuai dengan proporsi mereka dalam populasi sungguhan.

Belum lagi fenomena pendukung Trump yang malu-malu kucing. Karena mendukung Trump secara sosial dianggap sebagai hal yang menjatuhkan, atau memalukan, maka para suporter Trump tak mau mengakui dukungannya pada lembaga poling.

Infografik Prediksi Meleset Trump Vs Hillary


Tapi jika ini masalahnya, seharusnya survei online bisa menunjukkan hasil berbeda. Survei online akan menghindarkan orang dari rasa malu untuk mengakui mereka mendukung Trump. Politico dan Morning Consult melakukan eksperimen apakah faktor ini memang penyebabnya. Ternyata, efeknya sedikit, meski mereka juga mendapati orang-orang berpendidikan tinggi dan berpenghasilan lebih tinggi cenderung tak malu menyatakan dukungannya pada Trump secara online.

Fivethirtyeight.com juga mencatat James Lee dari Susquehanna Polling & Research Inc. yang menyatakan ada banyak pendukung Trump malu-malu yang lebih terbuka jika poll online atau direkam. Kaum perempuan pun sama. Ada kecenderungan mereka segan memberi tahu lembaga poling soal dukungannya.

Kemungkinan ketiga adalah kesalahan yang muncul terkait cara lembaga poling mengidentifikasi para pemilih. “Karena kita tak tahu sebelum hari-H siapa yang benar-benar akan memilih, maka lembaga poling membuat model yang memprediksi siapa yang akan memilih dan seperti apa elektorat pada Hari Pemilihan,” tulis PEW. Orang-orang yang dikira akan memilih, misalnya di Midwestern dan Rust Belt, tahu-tahu tak datang ke TPS.

Selain faktor-faktor itu, Fivethirtyeight.com juga mengingatkan ada lembaga-lembaga poling yang membereskan perhitungan sebelum pernyataan Kepala FBI soal kasus server email Hillary menyeruak dan menurunkan elektabilitasnya. Juga, kemungkinan adanya para pemilih Republikan telat. Mereka adalah kader yang tadinya belum memutuskan pilihannya, atau tadinya akan memilih Gary Johnson, tapi di akhir-waktu memutuskan memilih Trump.

Tapi apapun faktor yang bisa dikira-kira sebagai penyebab melesetnya poling, sejak awal Donald Trump memang diremehkan. Tokoh-tokoh Partai Republik yang tak suka Trump, juga lembaga poling, menyepelekan populisme Trump sampai akhirnya ia benar-benar dicalonkan partai.

Sampai pilpres hendak berlangsung, rupanya sikap itu secara umum belum berubah. Tak hanya kemunculan Donald Trump yang diremehkan, tetapi juga kemarahan orang-orang kehilangan pekerjaan yang kemungkinan memilih Trump.

Baca juga artikel terkait PILPRES AS atau tulisan menarik lainnya Maulida Sri Handayani
(tirto.id - Politik)

Reporter: Maulida Sri Handayani
Penulis: Maulida Sri Handayani
Editor: Zen RS
DarkLight