tirto.id - Implementasi kurikulum Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang tengah bergeliat secara nasional turut memicu lahirnya semangat inovasi dari berbagai daerah. Salah satu kisah penuh harapan datang dari SMA Negeri 1 Pematang Siantar, Sumatra Utara, yang membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya tidak menjadi penghalang untuk menyambut masa depan pendidikan digital.
Meskipun belum menerapkan KKA sebagai mata pelajaran mandiri, sekolah ini menunjukkan optimisme besar dengan menempuh jalur integrasi yang cerdas. Kepala SMAN 1 Pematang Siantar, Marudut Sidebang, menjelaskan bahwa prinsip-prinsip KKA secara kreatif dimasukkan ke dalam mata pelajaran Informatika.
Pembelajaran di kelas diubah menjadi lebih dinamis melalui proyek-proyek sederhana yang membuka wawasan siswa terhadap kekuatan kecerdasan artifisial dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik mencari solusi, mulai dari menerjemahkan dokumen hingga belajar merumuskan perintah (prompt) yang efektif untuk menyelesaikan tugas.
"Murid juga dibekali bagaimana membuat prompt. Jadi murid ketika menyelesaikan sebuah permasalahan bisa lebih efektif menggunakan tools-tools AI," ungkap Debang kepada wartawan Tirto ketika dihubungi lewat telepon, Rabu (8/10/2025).
Upaya adaptif ini diperkuat dengan investasi strategis pada sumber daya manusia. Sekolah secara proaktif telah mengutus seorang guru untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan KKA yang diselenggarakan oleh Balai Besar Guru Penggerak (BBGTK) Provinsi Sumatra Utara.
Langkah ini menjadi fondasi penting, di mana sang guru diharapkan tidak hanya siap mengampu mata pelajaran KKA, tetapi juga dapat menyebarkan pengetahuannya kepada rekan-rekan pengajar lainnya.
“Antusiasme peserta didik sangat baik. Mereka sebenarnya sangat tertarik untuk belajar koding dan kecerdasan artifisial. Jadi kita memfasilitasi mereka belajar di kelas,” tutur Debang.
Dengan semangat siswa yang menyala, strategi integrasi yang berjalan, dan investasi pada guru, SMAN 1 Pematang Siantar menatap masa depan dengan penuh keyakinan. Sekolah ini memproyeksikan kesiapan penuh untuk meluncurkan KKA sebagai mata pelajaran pilihan pada tahun ajaran 2026/2027, sebuah target yang dibangun di atas fondasi optimisme dan kerja keras.
“Bisa kita prediksikan mungkin di tahun ajaran baru di tahun 2026/2027 mata pelajaran ini (KKA) akan menjadi bagian sebuah mata pelajaran pilihan juga di intrakurikuler,” ujar Debang.
Antusiasme Murid dan Inovasi Guru Mengajar KKA
Bagi murid, KKA membuka cakrawala baru. Hal ini disampaikan, Azka, murid kelas 10 SMA HelloMotion, Tangerang Selatan. Dirinya mengaku suasana kelas selalu antusias. Hobi fotografi membuatnya tertarik dengan aspek etika AI.
“Jadi kita bisa membedakan mana yang AI sama mana yang bohongan gitu. Jadi penting banget buat kita mengenal AI,” ucap Azka.
Zee, kelas 11, menilai KKA jadi pintu masuk mengenal teknologi dari perspektif lebih luas, bukan sekadar tren. Ia sudah mengenal komputasi sejak SD, tapi baru di kelas ini belajar koding secara terstruktur. Dengan perangkat iPad, murid berlatih menulis perintah (prompting), mengoperasikan AI dengan bijak, hingga membuat program sederhana.
“Jadi orang tidak hanya melihat kontra atau dampak negatif dari teknologi, namun melihat positifnya dan memanfaatkannya dalam pembelajaran,” kata Zee.
Guru pengampu KKA di HelloMotion, Firda Aininnisa, menjelaskan KKA tak hanya fokus teknis, tapi juga membangun cara berpikir sistematis dan pemahaman etika digital. Kurikulum nasional, kata dia, memang mengarahkan dua hal: penguasaan dasar pemrograman dan pemahaman AI dalam kehidupan sehari-hari.
“KA (kecerdasan artifisial) udah ada di kehidupan sehari-hari dan sering kita gunakan. Anak-anak diajarin bagaimana konsep dari berpikir komputasional. Nah berpikir komputasional sendiri itu sebenarnya sudah diterapin di kita setiap harinya,” jelas Firda.
Firda juga menambahkan, murid dilatih berpikir komputasional: logis, memetakan masalah, hingga menyusun algoritma. Bahasa pemrograman yang dipakai adalah Swift, diajarkan bertahap dari kelas 10 hingga 12.
Sejak Juli, semua kelas masih belajar dasar yang sama. Proyek sederhana—seperti membuat kalkulator—melatih logika sebelum naik ke program prediksi di kelas 11–12. Tantangannya, kata Firda, beragamnya latar belakang murid. Ada yang sama sekali baru mengenal koding, ada pula yang skeptis terhadap AI.
Ia menggambarkan AI seperti pisau: manfaatnya tergantung siapa yang menggunakan.
“Untuk pembelajaran koding sendiri itu bukan menuntut anak-anak bisa membuat sebuah proyek. Itu bonus. Tapi gimana caranya mereka memiliki pola pikir yang sistematis,” kata Firda.
Program KKA di SMAN 1 Pematang Siantar dan HelloMotion tak berdiri sendiri. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sudah mengatur mata pelajaran ini lewat Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025. KKA masuk kategori mata pelajaran pilihan bagi murid kelas 5 SD hingga kelas 12 SMA.
Keputusan untuk memasukkan KKA mempertimbangkan bahwa Indonesia belum siap menghadapi era digital. Hal ini terlihat dari temuan tahun 2024, di mana Indonesia menempati peringkat ke-42 dunia dan ke-4 di ASEAN dalam Government AI Readiness Index.
Pilar teknologi menjadi skor terendah—menunjukkan rendahnya kesiapan infrastruktur dan SDM digital. Padahal Indonesia adalah salah satu negara pengguna teknologi digital terbanyak di Asia dan negara dengan komunitas pengembang (developer) terbesar ketiga di kawasan Asia Pasifik.
"Pemanfaatan teknologi digital oleh masyarakat Indonesia berdasarkan data tahun 2022 sampai dengan tahun 2024 secara dominan masih digunakan untuk mengakses media sosial, hiburan, dan informasi. Optimalisasi pemberdayaan teknologi digital untuk tujuan yang lebih kompleks seperti untuk produktivitas kerja, bisnis, serta aktivitas ekonomi yang produktif masih rendah,” tutur Toni Toharudin, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) mengutip keterangan resmi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa keterampilan digital, termasuk Koding dan Kecerdasan Artifisial, merupakan salah satu dari sepuluh keahlian utama yang sangat dibutuhkan oleh dunia usaha pada tahun 2030, sebagaimana diproyeksikan oleh World Economic Forum.
Selain melatih kemampuan berpikir analitis, pemecahan masalah (problem solving), kreativitas, dan nalar kritis, pembelajaran koding juga menanamkan cara berpikir logis dan sistematis.
“Koding bukan hanya soal teknologi, melainkan juga tentang kemampuan logis, analitis, kritis, dan kreatif yang sangat esensial bagi keberlanjutan masa depan kita menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital yang dibarengi dengan penguatan nilai dan etika,” tuturnya dalam keterangan tertulis.
Harus Menyesuaikan Kondisi Sekolah & Guru
Peneliti sekaligus Co-Director Monash Data & Democracy Research Hub, Derry Tanti Wijaya, menilai AI dan koding bisa diajarkan sejak dini. Namun, pendekatannya harus menyesuaikan kondisi sekolah dan guru.
Faktor infrastruktur sangat menentukan: ketersediaan komputer, internet stabil, serta perangkat murid. Selain itu, literasi digital guru masih beragam.
“Guru juga yang harus pertama dilatih untuk menyampaikan materi-materi ini ke murid. Jadi guru harus kompeten juga,” kata Derry.
Menurutnya, yang utama adalah membangun computational thinking, bukan sekadar menguasai bahasa pemrograman tertentu. Fondasi algoritmik yang kuat akan membuat murid mudah beradaptasi dengan teknologi baru.
“Jadi kita harus benar-benar waktu membuat materi itu kita harus mulai dari dasar, jangan sampai langsung cuma praktisnya aja kayak gimana cara menggunakan kecerdasan artifisial atau cara koding. Karena itu akan selalu berubah,” jelasnya.
Kehadiran KKA di sekolah seperti HelloMotion menandai perubahan arah pendidikan Indonesia. Di ruang kelas, murid belajar menyusun logika pemrograman, memahami etika digital, hingga mengintegrasikan teknologi ke bidang seni.
Tantangan tentu masih ada: keterbatasan infrastruktur, kesiapan guru, hingga resistensi sebagian pihak terhadap teknologi baru. Namun pengalaman Azka, Zee, dan kawan-kawan menunjukkan bagaimana koding dan AI bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan cara baru melihat dunia.
Bagi Marudut dan Firda KKA adalah investasi jangka panjang: membentuk pola pikir kritis, sistematis, dan etis pada generasi muda. Sementara di level kebijakan, kurikulum ini menjadi langkah awal menuju literasi digital yang lebih merata.
Singkatnya, KKA bukan hanya tentang baris kode atau aplikasi canggih. Ia adalah jalan untuk melahirkan generasi emas yang mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak, kreatif, dan bertanggung jawab.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































