Menuju konten utama

Mahasiswa UGM Tuntut Rektorat Nyatakan Mosi Tidak Percaya

UGM dinilai diam dan tidak bersikap terhadap penyelenggara negara yang menghasilkan keputusan merugikan masyarakat.

Mahasiswa UGM Tuntut Rektorat Nyatakan Mosi Tidak Percaya
Rektor UGM, Ova Emilia bersama jajarannya berdialog menemui massa Aksi Okupasi di depan gedung rektorat UGM pada Rabu, 21 Mei 2025. (FOTO/Abdul Haris)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Ova Emilia, bersama jajarannya akhirnya menemui massa Aliansi Mahasiswa untuk berdialog di halaman rektorat, pada Rabu (21/5/2025). Massa yang telah berkemah selama tujuh hari mendesak Rektorat UGM menyatakan “Mosi Tidak Percaya."

Pantauan Tirto di lokasi, Ova tampak keluar gedung rektorat untuk menemui massa pada pukul 16.00 WIB. Ova kemudian menggelar dialog terbuka dengan massa yang menamakan diri Aksi Okupasi.

Dalam dialog itu, massa meminta agar rektorat menyatakan mosi tidak percaya. UGM pun dinilai hanya berdiam diri dan tidak mengambil sikap terhadap lembaga penyelenggara negara yang menghasilkan keputusan yang merugikan masyarakat.

Menyangkal itu, Ova mengatakan bahwa UGM sebagai institusi pendidikan bukan dalam posisi menyatakan mosi tidak percaya, sehingga langkah tersebut belum sepenuhnya tepat.

“Namun UGM tetap mendorong pemerintah untuk menjalankan pemerintahan yang jujur, bersih, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat yang tentunya sebagai jati diri kita sebagai universitas perjuangan,” tegasnya.

Ova juga berjanji, UGM akan tetap aktif memberikan masukan hingga advokasi kebijakan serta kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Salah satu orator lantas menanggapi pernyataan Ova yang tidak mau menyatakan mosi tidak percaya. Orator itu mencecar, diamnya rektorat menunjukkan bahwa rektorat tunduk kepada pemerintah untuk melanggengkan status quo dan kerusakan-kerusakan yang dibuat.

“Saya mau menanggapi yang seperti ibu sampaikan tadi, bahwa institusi pendidikan tidak mau menyatakan itu [mosi tidak percaya]. Faktanya kami menilai bahwa diamnya kampus, dalam hal ini rektorat yang punya pengaruh dan relasi langsung dengan pemerintah, itu justru praktik-praktik politis,” lontarnya.

Orator pun mempertanyakan kewarasan rektorat UGM, sebab menurutnya tuntutan mosi tidak percaya berdasar pada realitas.

“Bahkan orang waras pun tahu bahwa kondisi pemerintahan hari ini dibangun oleh transaksi-transaksi politis yang buktinya bisa dilihat secara mata telanjang," tambahnya.

Massa juga menuntut agar rektorat untuk terbuka dengan permasalahan hingga kejahatan pemerintahan saat ini.

“Karena diam itu bukan aksi perlawanan atau perlawanan dan itu yang kami tolak,” ucapnya.

Dialog Rektor UGM dengan Massa Aksi Okupasi

Rektor UGM, Ova Emilia bersama jajarannya berdialog menemui massa Aksi Okupasi di depan gedung rektorat UGM pada Rabu, 21 Mei 2025. (FOTO/Abdul Haris)

Sebelumnya, massa telah mendirikan tenda terhitung sejak Rabu (14/5/2025). Aksi ini membawa sembilan poin tuntutan yang dilayangkan terhadap rektorat UGM.

Di antaranya, menuntut rektorat untuk menyatakan mosi tidak percaya hingga melakukan pembacaan ulang terhadap seluruh perangkat penanganan, pencegahan, dan pelaporan kekerasan seksual di UGM.

Baca juga artikel terkait REKTOR UGM atau tulisan lainnya dari Abdul Haris

tirto.id - Flash News
Kontributor: Abdul Haris
Penulis: Abdul Haris
Editor: Siti Fatimah