Livi Zheng Tak Tahu Apa pun soal Film

Oleh: Joan Aurelia - 27 Agustus 2019
Dibaca Normal 9 menit
Sekalipun kamu mengajukan pertanyaan favorit soal film kepada Livi Zheng, kamu cuma mendapatkan jawaban standar.
tirto.id - Ada satu hal yang tak berubah dari Livi Zheng: ia selalu tergesa-gesa.

Tiga tahun lalu, kami membuat janji bertemu di satu gedung perkantoran di Jakarta Selatan. Saat itu namanya populer lantaran dianggap sebagai "sutradara muda Indonesia yang berhasil mengharumkan nama bangsa karena menyutradari film Brush with Danger di AS", yang diklaim masuk 300 besar seleksi calon nominasi Academy Awards.

Kala itu Livi membuka sesi perkenalan kami dengan tergesa-gesa mengungkap bahwa ia hanya punya waktu 40 menit untuk wawancara khusus karena harus memenuhi "berbagai undangan acara".

Pada 16 Agustus lalu, saya bagai merasakan deja vu.

Suara langkah cepat Livi terdengar dari arah belakang saya. Ia menepuk pundak saya sambil berkata, “Mbak, ayo aku cuma punya waktu 50 menit.” Lalu ia segera duduk di meja sebelah kami dan meminta segera wawancara.

Perempuan 30 tahun ini seolah tidak menyadari bahwa di tempat itu kami sama-sama sulit mendengar perkataan satu sama lain lantaran suara kami tenggelam di tengah suara canda tawa segerombolan ibu muda anggota arisan yang bercengkerama di meja sebelah.

Kami bernegosiasi untuk pindah ke tempat lebih sunyi. Di perjalanan menuju kafe berikutnya, ia bercerita soal agenda wawancara dengan "berbagai media" serta jadwal kunjungan ke "berbagai kota" yang terkesan begitu padat.

“Kalau kita enggak kenal, aku enggak akan meluangkan waktu wawancara ini,” ujarnya.

Duduk di tempat sunyi ternyata tak membuat Livi rileks. Ia kembai tergesa meminta wawancara dimulai dan meminta maaf terlebih dulu andaikata jawabannya kurang maksimal. “Lagi slow, soalnya capek banget,” ujarnya.

Mungkin rasa lelah itu pula yang membuatnya menjawab beberapa pertanyaan dengan kata: “Banyak Banget”, “Lupa”, “Enggak tahu”, “Googling aja”, “Tonton aja deh filmnya”, atau gestur menggelengkan kepala.

Ia sigap, lancar, dan percaya diri ketika menjawab beberapa pertanyaan umum, yang sebagian besar informasinya tersebar di media. Menjawab pertanyaan-pertanyaan umum itu, gestur Livi mengingatkan kita pada sikap tubuh dia saat jadi bintang tamu beberapa acara talkshow yang disiarkan sejumlah stasiun televisi.

Tetapi, sikap itu berubah drastis saat ia mendengar pertanyaan-pertanyaan yang "baru" dia dengar. Bahunya membungkuk, punggungnya seolah tertarik pada sandaran sofa yang keras. Ia tak lagi antusias memandang lawan bicara dan lebih suka membuka flip case ponsel kulit berlogo Yves Saint Laurent untuk melihat jam.

Semakin dekat akhir wawancara, ia semakin irit bicara. Tangannya terus memegang ponsel dan memencet nomor telepon supir pribadi dan berulang kali meneleponnya untuk segera menjemput di pintu dekat kafe tempat kami bicara.

Dan inilah perbincangan 50 menit Livi bersama saya dan Aulia Adam serta Dea Anugrah (asumsi.co).

Kenapa ingin jadi sutradara?

Karena suka bela diri. Saya suka bela diri sejak kecil dan waktu SMP saya pindah ke Beijing untuk sekolah di Shi Cha Hai Sports School. Dari sana saya terinspirasi untuk kerja di bidang perfilman.

Jauh ya dari bela diri ke film.

Ya, waktu kuliah saya banyak membantu di set film, jadi kru yang membantu proses syuting dan jadi suka banget. Lalu akhirnya tertarik coba jadi sutradara.

Pernah terlibat dalam proyek pembuatan film apa?

Banyak sih. Macem-macem. Ada drama. Apa aja sih bantuin aja yang penting dapat pengalaman.

Apakah film-film tersebut termasuk kategori student film atau film profesional?

Macem-macem. Ada yang film beneran ada yang student film.

Dari mana Anda mendapat informasi lowongan kru film lepas?

Karena aku sering garap film pendek dan rekomendasi-rekomendasi.

Ini terjadi di kota mana?

Seattle, Washington. Los Angeles.

Apa saja judul film yang pernah digarap?

Banyak banget.

Yang paling diingat?

Banyak banget.

Apa latar belakang pendidikan Anda?

Sarjana ekonomi dan master produksi film dari University of Southern California.

Apa kisah Bali: Beats of Paradise?

Cerita ini based on true story tentang seniman bali, Nyoman Wenten, yang sukses di AS. Waktu kecil dia kehilangan ibu dan merasa sangat sedih dan kecewa. Akhirnya, dia menemukan musik gamelan dan tertarik memainkan musik itu. Dia sekarang dosen juga. Di AS kan gamelan sudah ditampilkan juga di beberapa film seperti Star Trek, Avatar, dan game Mario Brothers, tapi banyak orang yang masih enggak tahu itu gamelan. Jadi, aku pengen bikin film tentang ini biar orang tahu Indonesia.

Kenapa memilih Bali?

Karena Pak Wenten orang Bali.

Punya ketertarikan main gamelan?

Aku lebih banyak fokus ke bela diri. Sekarang ini lagi belajar pencak silat. Belajar gamelan gara-gara di film saja. Keluargaku tidak ada yang punya latar belakang seni.

Kenapa tertarik belajar bela diri?

Karena tradisi di keluargaku dari dulu adalah aktivitas bela diri. Setiap weekend kami sekeluarga selalu bela diri. Sampai mama juga ikutan.

Apa pekerjaan orangtua Anda?

Bisnis sih.

Bisnis apa?

Apa ya? Hotel.

Tidak diminta untuk membantu bisnis keluarga?

Enggak sih. Bakat saya di bidang film. Bagaimana lagi?

Kapan menyadari kalau Anda punya bakat di bidang film?

Dari dulu suka dan tertarik. Lalu semakin lama kerja di film semakin suka.

Siapa idola di bidang film?

Bruce Lee. Aku aja sekolah S1 di sekolahnya Bruce Lee.

Sutradara atau aktor lain yang disukai?

Luc Besson.

Apa film favorit Anda?

Film-filmnya Bruce Lee.

Selain itu?

Leon the Professional.

Bagaimana awalnya Anda bisa bekerjasama dengan pemerintah?

Aku pindah ke luar negeri umur 15. Waktu sampai di AS, makanan seperti rawon, nasi pecel itu langka. Banyak orang AS enggak tahu Indonesia. Rasanya menyedihkan sekali mendengar kata-kata itu. Aku senang sekali bisa bekerjasama dengan pemerintah untuk mempromosikan Indonesia lewat video seperti Amazing Blitar, Vibrant Jakarta. Sekarang ini aku juga kerja sama dengan Ibu Khofifah (Gubernur Jawa Timur). Sudah mulai syuting di Lamongan. Terus bantu jajaran pemerintah kabupaten. Kemarin baru scouting di Padang untuk film layar lebar Sabai nan Aluih (dikabarkan kerja bareng Perum Produksi Film Negara dan Balai Pustaka).

Itu film yang disebut-sebut trailer-nya memakan biaya 3 miliar?

(menggelengkan kepala)

Siapa yang melakukan pendekatan untuk kerja sama proyek dengan pemerintah?

Mereka sih yang biasanya minta tolong untuk menyutradarai film atau video. Misalnya, Bu Khofifah, yang minta dibuatkan video untuk Jawa Timur. Waktu itu aku juga pernah launching teaser film di World Bank bersama dengan Bu Sri Mulyani.

Siapa produsernya?

Julia Gouw.

Bagaimana Anda membangun akses ke pejabat pemerintah?

Dari konsulat. Awalnya konsulat minta aku jadi sutradara untuk produk iklan. Dari sana muncul banyak proyek dan terus lanjut karena memang aku selalu ingin mempromosikan Indonesia.

Apa proyek pemerintah yang pertama kali dibuat?

Video untuk Konsulat Jenderal Indonesia di LA, LA’s Gateway to Indonesia

Proses pembuatan iklan Jakarta dan Blitar memakan waktu berapa lama?

Jakarta seminggu, Blitar dua minggu untuk syuting.

Bagaimana dengan post production?

Sekitar satu bulan.

Apakah sering ada permintaan khusus dari proyek kerja sama dengan pemerintah?

Tidak sih. Mereka percaya dengan kreativitas saya.

Berapa nilai proyeknya?

Rahasia.

Besar, ya?

Silakan tanya dengan yang punya proyek.

Proses pembuatan Sabai sudah sampai di mana?

Scouting lokasi.

Bagaimana dengan naskah?

Ada tapi masih revisi.

Siapa pemainnya?

Aku. Sekarang aku sedang menangani dua film. Di film Sabai, aku diminta Balai Pustaka untuk membintangi film tersebut. Film kedua adalah The Santri. Pemainnya Emil Dardak.

Siapa yang meminta Emil untuk membintangi film itu?

Aku merasa dia cocok memerankan karakter tersebut.

Sudah berapa kali mengajak pejabat untuk terlibat dalam produksi film atau iklan?

Menurut aku, di bidang apa pun, it’s best to work hand in hand with government. Seperti aku yang bekerjasama dengan Wakil Presiden (Jusuf Kalla), (Kapolri) Tito Karnavian, (Menko Maritim) Luhut Binsar Pandjaitan.

Apakah prinsip kerja sama itu Anda dapat dari dari sang ayah yang dulu pernah disebut-sebut jadi produser tayangan Laksamana Cheng Ho yang dibintangi Yusril Ihza Mahendra?

Enggak sih. Di film itu aku ikut main di tayangan serialnya.

Apakah Anda turut memproduseri film tentang Cheng Ho?

Aku stuntwoman dan hanya sedikit akting. Waktu itu umurku 18 tahun.

Itu film keluarga? Dari data yang kami temukan, ayah Anda turut memproduseri film tersebut.

Enggak.

Dari sekian banyak aktor, mengapa memilih pejabat?

Karena sesuai dengan peran. Semua pemain aku pilih berdasarkan naskah. Aku pasti dapat naskah terlebih dulu sebelum casting.

Apa sebelumnya sudah pernah lihat pejabat akting?

Sudah tahu lah. Sudah lihat-lihat.

Lihat pembawaannya?

Iya, dari pembawaannya menurut aku cocok.

Apakah Anda membuat naskah The Santri?

Naskah dari PBNU.

Ada revisi naskah?

Iya, dong. Revisi naskah tergantung dari pasar yang hendak disasar. Apakah pasar AS atau bukan.

Apakah dua film yang sedang digarap akan ditujukan untuk pasar AS?

Iya. Aku mengusahakan supaya semua filmku masuk di AS karena distribusinya lebih gampang.

Bagaimana prosesnya?

Ya seleksi. Enggak ada bayar-bayar. Mereka melihat karya.

Bagaimana respons penonton AS terhadap Brush With Dangers?

Rame penontonnya. Sempat tayang di AMC Regal. Film itu juga diulas beberapa media seperti LA Times, NBC, dan New York Times.

Reviewnya bagus?

Iya.

Anda mengundang mereka untuk menonton film?

Enggak karena enggak kenal.

Pernah ikut komunitas sutradara?

Ada sih waktu itu di Seattle.

Kalau di Jakarta?

Enggak sih. Kalau di sini lebih ke kolaborasi kerja.

Kolaborasi dengan siapa?

Tim tata cahaya.

Kenal dengan para sineas Indonesia?

Pernah ketemu saja di Los Angeles.

Ada sutradara Indonesia yang kamu suka?

Bagus-bagus, sih. Masalahnya di sini kekurangan layar. Masih banyak sekali kabupaten yang tidak punya bioskop.

Pernah terlintas untuk membuat film khusus yang didanai Bekraf, misalnya?

Lha ini Santri sama Sabai. Belum kenal orang-orang Bekraf. Sembilan puluh persen kerjaan aku masih berpusat di AS. Kita ada 20 iklan dalam setahun dan film layar lebar 1-4 film dalam setahun.

Siapa yang jadi klien iklan?

Intel, Microsoft, Amazon.

Anda punya rumah produksi?

Aku kerja di rumah produksi.

Milik sendiri?

Bukan punyaku. Aku kerja di situ. Nama rumah produksinya Sun and Moon Films.

Di mana bertemu dengan Jeff Caroli?

Workshop di San Francisco.

Apa latar belakang Caroli?

Bisnis manajemen.

Apakah dia pernah bekerjasama dengan sutradara lain?

Iya. Tanya sendiri aja sama orangnya ada di Jakarta.

Film apa yang paling sulit dibuat?

Film pertama. Susah cari uang.

Apa perbedaan tantangan dalam membuat film di Indonesia dengan di AS ?

Di Indonesia terlalu banyak lokasi yang bagus jadi bingung memilihnya. Mau semua tapi enggak bisa.

Siapa yang membuat naskah film pertama?

Adik.

Indonesia seperti apa yang hendak Anda tampilkan dalam film?

Kekayaan Indonesia seperti pemandangan, makanan, kebudayaan, kesenian, banyak banget. Keragamannya.

Kalau cuma bisa bikin satu film, mau bikin film yang seperti apa?

Bali: Beats of Paradise. Itu dream come true banget. Semua film yang aku bikin, aku passionate. Selain itu, film action, sih.

Film Bruce Lee favorit?

Suka semua karena dia berkarakter sekali. Bisa di belakang dan di depan kamera.

Apakah Anda sudah mempromosikan Indonesia di film pertama?

Aku masukin lebih dari 50 lukisan Indonesia. Aku kirim tim ke Indonesia untuk mencari lukisan dari Bali.

Ada pelukis favorit?

Enggak.

Sebetulnya ketertarikan Anda terbesar ada pada bidang apa?

Film.

Dan bela diri?

Sama bela diri.

Seberapa sering berlatih bela diri?

Dulu empat jam sehari. Sekarang sibuk.

Apa yang membuat Anda berpikir kalau film Indonesia punya pasar potensial di Hollywood?

Karena orang AS enggak tahu Indonesia. Aku sedih mendengar hal ini jadi aku ingin mempromosikan Indonesia di AS. Seluruh furnitur di studio-ku saja kudatangkan dari Indonesia. Satu kontainer dikirim dari Indonesia.

Kenapa di Brush with Dangers, Anda tidak menyebut kalau Anda orang Indonesia?

Kan ceritanya imigran ilegal. Kalau aku sebut terang-terangan, bisa tertangkap dong semua. Aku sedih orang-orang di AS enggak tahu Indonesia.

Apa yang bikin mereka tertarik dengan Indonesia?

Mungkin karena keunikannya. Sekarang aku sampai diminta kerja oleh Disney Animation Studio sebagai Consultant untuk South East Asia.

Apa detail pekerjaannya?

Research dan terlibat dalam story development.

Menulis naskah juga?

Aku kerja sama dengan executive producernya.

Diajak menulis cerita juga?

Iya, kalo story development, kita involved.

Jadi apa rutinitas Anda di LA?

Menggarap satu sampai dua film layar lebar, 20 iklan per tahun, dan bantu-bantu pemerintah. Kadang aku bikin video pariwisata. I like production.

Rutinitas keseharian Anda?

Fleksibel sih. Namanya juga seniman, jadi ya bebas aja. Paling supervisi atau menggarap proyek pra produksi.

Apa yang Anda lakukan di waktu senggang?

Aku sibuk terus, sih. Tapi, ngapain ya biasanya: jalan kaki, nonton, makan.

Film apa yang ditonton?

Yang ditayangkan di bioskop.

Punya impian berkolaborasi dengan sineas tertentu?

Impian aku kerja di Indonesia.

Kan sudah.

Tapi lebih banyak di AS.

Jalannya selalu terbuka, bukan?

Ya kalau pas di sini sih terbuka.

Pernah bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata?

Ada. Bikin promosi Visit Indonesia.

Ada film Indonesia yang disukai?

Film-film karya Teguh Karya.

Bagaimana dengan film-film dari Iran, Prancis, Italia, Korea Selatan?

Enggak sih. Film Teguh Karya aku suka.

Kapan pertama kali terekspos film?

Dari kecil nonton film Bruce Lee.

Kenapa Anda suka bela diri?

Hobi. Aku dan adik atlet bela diri. Adikku anggota timnas Indonesia. Sebenarnya aku telat mulai bela diri. Aku baru masuk dunia bela diri profesional saat sudah SMP dan lebih banyak ikut kejuaraan di AS. Waktu itu fokus di wushu.

Apakah orangtua pernah menentang keinginan Anda?

Mereka minta saya pilih bidang yang ingin ditekuni dan berpesan agar jangan ‘pindah-pindah’ bidang.

Apa bentuk dukungan dari orangtua terhadap karier Anda?

Bentuk dukungannya adalah bebas memilih.

Waktu awal bikin film kan belum punya jejaring.

Aku kan lima tahun kerja di film.

Jadi enggak ada bantuan dari keluarga sama sekali? Memproduseri film, misalnya.

Keluargaku enggak bekerja di bidang film.

Enggak berminat juga?

Pindah kamar aja enggak mau. Pindah ke AS aja enggak mau. Gimana disuruh pindah bidang pekerjaan. Udah. Cukup?

Kamu sibuk sekali ya hari-hari ini?

Lusa ke Solo. Terus ke Bali. Medan. Habis itu ke Toba sama Pak Luhut. Wawancara ini saja aku selipkan. Kalau enggak pasti dapatnya minggu depan. Nonton saja filmnya. Film itu bisa menjawab semua pertanyaan.

Kenapa suka Teguh Karya?

Karena bagus. Kebetulan yang ditonton itu. Kan susah nyari film-film lama.

Nonton semua?

Enggak, lah.

Sutradara Indonesia sekarang ada yang disukai?

Talent-nya banyak ya. Aku belakangan ini belum terlalu banyak nonton karena lebih banyak tinggal di Amrik jadi susah aksesnya. Aku enggak mau membajak.

Pernah nonton film-film karya Joko Anwar atau Teddy Soeriaatmadja?

Belum.

Ada keinginan kolaborasi dengan sutradara Indonesia?

Kan biasanya sutradara hanya satu. Produser yang bisa banyak. Dan ini sudah kerja sama kan untuk film Sabai. Produser dari Balai Pustaka, Perusahaan Film Negara, dan Nahdlatul Ulama.

Persiapan apa yang kamu lakukan untuk memainkan peran perempuan yang diperebutkan dalam film Sabai?

Baca bukunya, pelajari budaya Minang, dan silat Minang.

Jadi diadaptasi dengan bebas begitu, ya?

Masih terlalu dini untuk bicarakan itu.

Siapa yang menulis naskah?

Sedang dibuat naskahnya.

Ken yang menulis?

Masih dibangun, masih awal sekali.

Kenapa memutuskan memfilmkan Sabai?

Karena diminta dan aku suka.

Berarti sebagian besar proyek kerja sama dengan pemerintah itu terjadi karena permintaan mereka dan mereka datang dengan ide?

Tergantung. Ini sekarang sedang kerja sama dengan Kemenristekdikti dan mereka datang sudah dengan storyboard. Kalau waktu Amazing Blitar, kami membuat naskah.

Proyek apa dengan Kemenristekdikti?

Video. Sebentar lagi tayang, tunggu saja.

Ada satu kesamaan antara video Blitar dan Jakarta. Anda tampil dalam video tersebut. Kenapa?

Kadang diminta, kadang karena pas di situ aja.

Kalau ditanya kampung halaman, Anda akan menyebut kampung halaman Anda di mana?

Indonesia. Aku sering banget muter-muter, liat macem-macem. Misalnya ke Toba.

Kapan pertama kali mendengar nama Nyoman Wenten?

Dari Konsulat Jenderal di Los Angeles. Awalnya mereka meminta aku membuat video teaser konser musik yang melibatkan instrumen gamelan. Aku pikir-pikir, menarik juga kalau mengangkat kisah hidup pemain gamelan. Dari sana memutuskan bikin film layar lebar.

Hal itu bikin kamu merasa jadi representatif Indonesia di AS?

Aku berusaha sebisa mungkin untuk mengangkat unsur Indonesia dalam keseharian dan aktivitas aku. Misal dari furnitur, kopi, snack.

Kenapa?

Karena kalau kamu ke LA dan tanya Indonesia di mana, mereka enggak tahu. Itu menyedihkan. Aku ingin orang luar tahu Indonesia. Misal furnitur-furnitur yang ada di studio Sun & Moon Films dipotret oleh orang-orang AS yang datang ke sana dan mereka membicarakan hal itu ke orang lain yang mereka temui. Itu kan sudah promosi.

Apakah ayah bekerja di bidang furnitur juga?

Properti.

Pekerjaan ibu?

Membantu ayah.

Apa pekerjaan terbesar selama jadi pembuat film?

Film Insight.

Biayanya berapa?

(menggelengkan kepala)

Rumah produksi?

Stellar. Udah. Udah ya.

Mau ke mana?

Keraton (sebuah hotel di Jakarta). Meeting dengan produser Julia Gouw.


============

Hak Jawab Livi Zheng

Pada 13 September 2019, pukul 13:48, redaksi menerima surel hak jawab dari pihak Livi Zheng. Melalui kuasa hukum Abraham Simatupang & Lawyers Law Firm, diwakilkan oleh Hulman Jufri Oktario Simatupang, Livi Zheng menyatakan artikel ini "sengaja ingin menjatuhkan reputasi Livi Zheng."

a. Judul tulisan ini secara sengaja dan sadar untuk menjatuhkan reputasi Livi Zheng. Judul ini melanggar asas praduga tidak bersalah dan menghakimi. Niat buruk Tirto tampak jelas di dalam judul itu.

b. Kutipan artikel: "Perempuan 30 tahun ini seolah tidak menyadari bahwa di tempat itu kami sama-sama sulit mendengar perkataan satu sama lain lantaran suara kami tenggelam di tengah suara canda tawa segerombolan ibu muda anggota arisan yang bercengkerama di meja sebelah."

Cara penulisan ini adalah penulisan menyesatkan. Lokasi wawancara dipilih oleh Tirto dan wawancara ini hanya untuk membahas 1 artikel ini, bukan sebagai konfirmasi berita-berita yang lain tentang Livi Zheng.

c. Dalam artikel ini juga tidak akurat. Contohnya Livi setelah wawancara menyatakan akan ke Keraton (sebuah hotel di Jakarta) tapi Tirto menambahkan nama Solo.


Hak jawab ini adalah penyelesaian sengketa pers antara Livi Zheng dan Tirto di Dewan Pers, sebagaimana termuat dalam Risalah Penyelesaian Nomor: 74/Risalah-DP/IX/2019 pada 9 September 2019. Redaksi juga sudah meralat atas keterangan yang keliru. Redaksi memohon maaf kepada Livi Zheng dan masyarakat. [Lihat Dokumen Risalah di sini dan sini.]

Baca juga artikel terkait LIVI ZHENG atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Film)

Reporter: Joan Aurelia & Aulia Adam
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight