Menuju konten utama

Lightstick sebagai Simbol Identitas & Loyalitas Fans K-Pop

Intip sejarah lighstick di dunia musik K-Pop, siapa musisi Korea yang jadi pelopornya, maknanya bagi penggemar, serta berbagai fakta menarik di baliknya.

Lightstick sebagai Simbol Identitas & Loyalitas Fans K-Pop
Ilustrasi Lightstick K-Pop. FOTO/iStockphoto)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lightstick menjadi salah satu barang yang wajib dimiliki fans K-Pop, terutama bagi mereka yang menghadiri konser idolanya. Siapa sangka, lightstick ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang dengan makna emosional yang dalam.

Dalam dunia K-Pop, lightstick adalah alat berbentuk tongkat lampu berukuran kecil yang biasanya digunakan oleh penggemar sebagai simbol dukungan dan loyalotas terhadap idola atau grup favoritnya.

Setiap grup biasanya memiliki lightstick resmi dengan desain, warna, dan logo khas yang merepresentasikan identitas grup. Karena unik dan tidak ada yang menyamai, lightstick pun kerap menjadi kebanggaan tersendiri, baik bagi grup K-Pop maupun fandomnya.

Di konser, lightstick memainkan peran besar untuk menciptakan “lautan cahaya” yang membuat suasana dan pengalaman konser semakin berkesan. Lantas, bagaimana sejarah lightstick K-Pop dan sejak kapan tongkat lampu ini muncul?

Dari Balon ke Lightstick: Awal Mula Identitas Fandom K-Pop

Ilustrasi K-Pop

Ilustrasi K-Pop. foto/Istockphoto

Penggunaan aksesori pendukung idol sudah menjadi budaya di dunia musik serta umum di kalangan penggemar K-Pop maupun J-Pop. Di Jepang, fandom J-Pop diketahui memakai glow stick/penlight di masa-masa konser musisi Saijo Hideki pada tahun 1970-an.

Bagaimana dengan lightstick K-Pop? Musik K-Pop sendiri telah muncul puluhan tahun silam dan mulai menembus pasar internasional sejak 1990-an. Namun, lightstick tidak langsung muncul saat itu juga.

Di K-Pop generasi awal, para penggemar menunjukkan dukungan mereka dengan balon atau jas hujan dengan warna tertentu. Sebagai contoh, grup H.O.T yang debut di 1996 memiliki penggemar yang selalu mendukung mereka dengan balon dan jas hujan warna putih.

Sementara itu, penggemar grup Sechskies (debut 1997) selalu mengenakan jas hujan kuning dan membawa balon dengan warna serupa. Fanwar kedua kelompok penggemar ini, lengkap dengan balon dan jas hujan berwarnanya, sempat diabadikan dalam drama Korea Reply 1997 (2012).

Tak hanya dua grup legendaris itu saja, grup-grup K-Pop lain juga mengklaim warna-warna tertentu, misalnya g.o.d dengan warna sky blue, TVXQ warna merah, atau SS501 dengan warna hijau mutiaranya.

Dikutip dari laman AllKpop, Se7en yang debut di tahun 2003 membenarkan bahwa dulu para penggemar memang menggunakan balon untuk bersorak dan mendukung idolanya.

Namun, menjelang debutnya, Se7en kebingungan karena hampir semua warna sudah dipakai musisi lain. Agar berbeda, Se7en pun berinisiatif menggunakan lightstick-nya sendiri, yaitu semacam glow stick berbentuk angka 7 yang kemudian disebut sebagai 7 Bong atau Chilbong.

Lahirnya Lightstick Modern dan Peran Agensi K-Pop

light stick

Ilustrasi Lightstick. FOTO/Istockphoto

Lightstick modern dengan bentuk yang lebih unik baru muncul di K-Pop generasi ke-2, dan Big Bang yang debut pada 2006 kerap disebut sebagai pelopornya. Sang leader, G-Dragon, memiliki ide untuk membedakan fans grupnya dari fandom-fandom lain.

Alih-alih menggunakan balon atau glow stick, grup ini melahirkan Bang Bong, lightstick resmi Big Bang yang berupa tongkat dengan lampu berbentuk mahkota kuning di bagian ujungnya.

YG Entertainment yang menaungi Big Bang pun menunjukkan dukungannya dan menjadi agensi pertama yang memproduksi lightstick secara massal bagi VIP (fans Big Bang).

Sejak saat itu, lightstick menjadi sesuatu yang umum digunakan di dunia K-Pop. Hampir semua grup juga mengikuti jejak Big Bang dengan menciptakan lightstick resmi mereka sendiri untuk para penggemar.

Kenapa Lightstick Penting Banget Buat Fans?

Blackpink

Konser Blackpink dan lautan lightstick dari fans. Instagram/blackpinkofficial

Saat digunakan di konser, ribuan cahaya dari lightstick dapat menciptakan lautan warna yang khas dan mudah dikenali. Namun, lightstick sendiri bukan sekadar aksesori konser biasa. Bagi fans K-Pop, lightstick memiliki makna sebagai berikut:

1. Simbol Identitas Fandom

Lightstick biasanya dirancang secara khusus dengan bentuk, warna, dan desain yang merepresentasikan musisi atau grup tertentu. Lightstick juga kerap menyertakan penggunaan logo yang memiliki filosofi tersendiri.

Bagi fans, memiliki lightstick berarti menjadi bagian dari komunitas tersebut dan hal ini menjadi kebanggaan bagi mereka. Lightstick pun seolah menjadi “kartu identitas” bagi seorang penggemar yang menunjukkan dari fandom mana ia berasal.

2. Bentuk Dukungan dan Loyalitas

Membeli lightstick sering dianggap sebagai salah satu bentuk dukungan nyata terhadap sang idola. Tak jarang, lightstick juga menjadi koleksi yang dibanggakan oleh fans karena dianggap memiliki nilai yang tinggi.

Selain digunakan di konser, lightstick juga kerap dipajang di kamar atau dibawa saat event K-Pop sebagai simbol loyalitas. Dalam konteks ini, lightstick menjadi lebih dari sekadar merchandise dan menjadi representasi hubungan emosional antara fans dan idolanya.

3. Interaksi Visual dengan Artis

Beberapa konser K-Pop yang lebih modern telah memanfaatkan lightstick sebagai bagian dari sistem interaktif. Lightstick dapat disinkronkan dengan teknologi tertentu sehingga warnanya berubah mengikuti alur lagu atau konsep pertunjukan.

Hal ini menciptakan pengalaman yang lebih imersif sehingga fans tidak hanya menjadi penonton, tapi juga bagian dari pertunjukan itu sendiri. Dari sudut pandang artis, lautan lightstick yang menyala serempak juga menjadi bentuk dukungan visual yang sangat berarti.

4. Membangun Rasa Kebersamaan

Saat konser berlangsung, ribuan fans yang datang dari berbagai latar belakang akan mengangkat lightstick mereka secara bersamaan. Momen ini menciptakan visual yang kuat sekaligus rasa kebersamaan yang sulit digantikan oleh pengalaman lain.

Lightstick seolah sebagai pemersatu yang membuat setiap individu merasa terhubung satu sama lain meskipun tidak saling mengenal. Dalam momen tersebut, semua orang berbagi emosi yang sama, mulai dari antusiasme, kebahagiaan, dan kecintaan terhadap idola mereka.

5. Pengalaman Konser yang Lebih Berkesan

Tanpa lightstick, suasana konser K-Pop akan terasa berbeda. Cahaya dari lightstick membantu menciptakan atmosfer yang lebih hidup, dinamis, dan penuh warna. Saat lagu-lagu emosional dibawakan, ribuan lightstick yang menyala dapat memperkuat suasana haru dan kebersamaan.

Bagi banyak fans, membawa lightstick ke konser adalah bagian dari ritual yang membuat pengalaman tersebut terasa lengkap dan tak terlupakan.

Teknologi di Balik Lightstick: Nggak Sekadar Nyala

Konser NCT WISH di Jakarta

Ilustrasi Konser Kpop.ANTARA FOTO/Fauzan/Spt.

Lightstick kini bukan lagi sekadar tongkat lampu yang bisa menyala. Lightstick modern sudah dilengkapi dengan teknologi yang dirancang untuk menciptakan pengalaman konser yang lebih imersif dan terkoordinasi.

Lightstick sudah dilengkapi dengan teknologi lampu yang bisa berubah warna serta konektivitas nirkabel seperti Bluetooth. Dengan aplikasi khusus, penggemar bisa mengontrol perubahan warna lightstick mereka.

Tak hanya itu, teknologi ini juga memungkinkan lightstick terhubung dengan sistem pusat di dalam venue konser. Dengan demikian, pihak penyelenggara dapat mengontrol ribuan lightstick secara serentak untuk menampilkan efek visual tertentu sesuai dengan alur pertunjukan.

Sinkronisasi ini biasanya dilakukan dengan sistem yang mengirimkan sinyal ke lightstick penonton. Hasilnya, warna dan pola cahaya pada lightstick bisa berubah secara otomatis mengikuti lagu yang sedang dibawakan.

Fenomena inilah yang sering disebut sebagai “light ocean” atau lautan cahaya yang menjadi salah satu daya tarik utama lightstick dan konser K-Pop. Ribuan lightstick yang menyala akan membentuk panorama cahaya yang tampak seperti gelombang warna di seluruh arena konser.

Koreografi cahaya dalam konser K-Pop, baik menyala secara tetap, berkelap-kelip, atau perubahan warna, semuanya tak hanya indah secara visual, tapi juga menjadi bagian penting dari konser untuk menciptakan atmosfer tertentu, misalnya suasana energik, emosional, atau dramatis.

Fakta Menarik Lightstick K-Pop yang Jarang Diketahui

BTS fans

BTS dan light ocean. FOTO/Twitter/BTSofficial

Lightstick K-Pop mungkin terlihat seperti merchandise konser pada umumnya, tapi di balik tampilannya yang ikonik, tersimpan berbagai fakta menarik yang mungkin belum diketahui oleh orang awam, berikut di antaranya:

1. Punya Desain dan Nama yang Unik

Setiap grup K-Pop memiliki lightstick dengan desain yang unik dan pasti berbeda dari grup lainnya. Setiap lightstick juga memiliki nama tersendiri. Dalam bahasa Korea, lightstick disebut sebagai eungwonbong yang kemudian disingkat menjadi bong.

Beberapa nama lightstick yang populer antara lain Bang Bong (Big Bang), Eribong/Pharynx (EXO), Army Bomb (BTS), Candy Bong (Twice), Bbyongbong (Blackpink), Meumwonbong/Neobong (NCT), Konbat (iKON), dan masih banyak lagi.

2. Satu Lightstick Bisa Beragam Versi

Satu grup tentu memiliki satu lightstick yang ikonik, tapi tak jarang mereka juga merilis beberapa versi untuk lightstick tersebut. Meski tidak mengubah desain secara total, biasanya ada penambahan fitur baru (misalnya Bluetooth) pada versi lightstick terbaru.

3. Multifungsi

Lightstick tak hanya digunakan sebagai alat konser atau pendukung idola. Perangkat ini juga bisa dijadikan semacam senter atau lampu emergency saat mati listrik, bakan bisa dijadikan lampu tidur.

4. Harga dan Lightstick Termahal di K-Pop

Penggemar bisa membeli lighstick secara langsung melalui toko merchandise resmi seperti WeVerse Shop atau SMTOWN Shop. Soal harga, lightstick K-Pop hadir dengan harga yang sangat beragam, mulai dari Rp200 ribuan hingga lebih dari Rp1 juta.

Sampai saat ini, tahta lightstick termahal masih dipegang oleh lightstick IU yang kabarnya memiliki harga bisa mencapai $350 (sekitar Rp5,9 juta). Lightstick tersebut digunakan dalam konser “Love, Poem” di tahun 2019 dan memang limited edition sehingga cukup langka.

5. Black Ocean

Dunia K-Pop tidak selalu indah karena ada beberapa kejadian pahit yang juga melibatkan lightstick. Lightstick memang berfungsi menunjukkan dukungan, tapi alat ini juga bisa menjadi sarana untuk menunjukkan penolakan terhadap grup atau musisi tertentu.

Fenomena ini disebut sebagai black ocean, yaitu situasi ketika sebagian besar penonton di konser atau suatu acara musik memilih untuk mematikan lightstick. Ini adalah bentuk ekspresi fandom untuk menunjukkan protes, penolakan, tidak mau mendukung, atau ketidaksetujuan terhadap artis yang sedang tampil.

Jadi, alih-alih melihat lautan cahaya yang biasanya menjadi ciri khas konser K-Pop, yang terlihat justru area gelap yang mencolok karena minimnya cahaya dari penonton. Fenomena ini pun pernah dialami oleh beberapa grup K-Pop, termasuk SNSD, BTS, hingga Twice.

Itulah beberapa fakta tentang lightstick di dunia K-Pop, termasuk sejarah dan maknanya bagi para fans. Lightstick telah berkembang menjadi simbol identitas fandom, media ekspresi, hingga bagian dari pengalaman visual dalam sebuah konser.

Dari lautan cahaya yang indah hingga momen-momen emosional yang tercipta di dalamnya, lightstick pun mampu menghadirkan koneksi yang kuat antara penggemar dan idolanya.

Ingin tahu berita terkini dan informasi menarik lain seputar dunia K-Pop? Cek selengkapnya di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel K-Pop

Baca juga artikel terkait KPOP atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Byte
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani