Penggemar K-Pop Indonesia adalah Ladang Emas Oppa Korea

Toko majalah dan poster bintang pop Korea. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 10 Januari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Indonesia adalah pasar potensial bagi pariwisata Korea, penerimaan konser maupun jumpa penggemar bintang K-Pop, dan alogaritma media sosial.
tirto.id - Dua hari berturut-turut (5-6 Januari 2020) semesta Twitter ramai membincangkan dugaan perlakuan buruk sebuah jasa tur. Si empunya jasa paham betul bahwa pasarnya adalah para penggemar fanatik yang tak segan jor-joran mengeluarkan uang demi idolanya.

Jasa tersebut menyediakan paket-paket perjalanan untuk menyaksikan berbagai konser musik Korean Pop (K-Pop). Ada juga jasa titip beli aksesoris grup-grup idola seperti lightstick, album, atau miniatur boneka para anggota grup. Masalahnya sebagian konsumen merasa menerima pelayanan dan respons buruk dari penjual saat mereka protes.

Ragam utas dari warganet membeberkan soal ketidaksesuaian produk yang mereka terima, atau masalah molornya pesanan konsumen hingga hitungan tahun. Lalu ada juga yang mengeluh tentang sulitnya pengembalian dana, harga produk yang mendadak naik, hangusnya uang muka, hingga teror waktu pelunasan.


Salah satu utas juga menampilkan ketegangan antara konsumen yang diburu waktu hanya setengah jam untuk melunasi uang tiket. Jika gagal, uang muka yang sudah disetor akan hangus begitu saja. Padahal si konsumen berjanji melakukan pelunasan tetap di hari yang sama.

Ia hanya meminta keringanan pelunasan sedikit melebihi jam yang ditentukan. Tapi penjual justru memberi batas waktu yang tidak sesuai zona waktu Indonesia. Dari rekam gambar yang diunggah, konsumen sebagai pengirim pesan melakukan konfirmasi pada pukul 10 pagi, selisih dua jam dari waktu penjual.

“Peraturan adalah peraturan...lewat dari jam 12 hangus...nggak usah transfer kalau nggak sempat (dalam waktu) 6 menit,” bukti unggahan ini terpampang pada akun Twitter @abriana_pcy.

Sementara setelah kasusnya ramai mencuat, pemilik jasa bernama Jenny (@jenny__jnny) meminta maaf dan memberikan klarifikasi. Ia berjanji akan melakukan pengembalian dana secepatnya dan meminta konsumen yang merasa dirugikan untuk menghubunginya lewat email. Namun masalah ini belum usai. Beberapa konsumen justru berniat membawanya ke ranah hukum.


Ceruk Bisnis K-Pop

Sudah setengah tahun ini Liyani (16 tahun) menunggu pesanan album EXO yang tak kunjung datang. Liyani memesan album lewat jasa titip barang yang dibuka Jenny. Akhir November 2019 lalu, satu albumnya datang lebih dulu. Tapi itupun tidak sesuai dengan catatan pada pesanan. Sementara satu album lagi belum dikirim hingga sekarang.

Biasanya dalam sekali rilis, sebuah grup K-Pop akan mengeluarkan beberapa versi album. Tiap versi bisa memiliki perbedaan dari sisi desain, foto, maupun poster. Liyani mendapat album versi jambon, padahal ia memesan versi kuning dan sudah membayar lebih dari Rp400 ribu untuk dua album.

“Hanya karena uang Rp200 ribu jangan sampai disepelekan. Duit adalah duit, dapetinnya susah buatku,” katanya.

Pernak-pernik K-Pop seperti yang dibeli Liyani memang tak banyak tersedia di Indonesia. Lazimnya para penggemar membeli merchandise dari fanbase di negara lain atau dari toko kedua. Begitupun dengan tiket konser. Maka belakangan muncul jasa-jasa yang menawarkan titip beli album atau aksesoris lain, serta paket menonton konser.

Sebagai contoh, dalam tur konser EXO di Bangkok, jasa milik Jenny mematok harga sebesar Rp14 juta. Jumlah tersebut termasuk tiket konser, hotel selama 5 hari (per dua orang), city tour, transport, dan tiket pesawat pulang pergi. Tiket konser harga normal dibanderol sekitar Rp2,4 juta, kemudian hotel Rp500/hari, dan tiket Rp3,5 juta.


Di akhir transaksi, konsumen diminta membeli sendiri tiket pesawat, dan uang hanya dikembalikan Rp2 juta. Selisih biaya yang diambil pemilik jasa mencapai sekitar Rp8 juta lebih. Dalam satu tur, ia membuka kuota untuk 9 orang, artinya total keuntungan bisa mencapai sekitar Rp70-an juta sekali tur. Itu belum termasuk laba jasa titip pernak-pernik di toko daringnya.

Di sisi lain, pelaku bisnis besar seperti Shopee dan Tokopedia mulai melek peluang pasar K-Popers. Shopee lebih dulu memulai kerjasama dengan salah satu agensi Big 3 di Korea, yakni YG Entertaiment. Mereka membuka penjualan YG Official Shop pada 31 Juli 2018. Tiga ribu merchandise pertama yang disediakan saat pembukaan ludes dalam waktu hanya sepuluh menit.

“Saya kaget padahal harganya enggak main-main, paling murah Rp200-an, yang mahal bisa lebih dari sejuta,” tutur Rezki Yanuar, Manajer Brand Shopee Indonesia.

Dari situ Shopee dan YG Entertaiment makin yakin telah mengambil celah kerja sama yang tepat dan menguntungkan bagi kedua pihak. Mereka kemudian berturut-turut merilis iklan bersama BLACKPINK dan sempat membawa girl group populer itu konser di Indonesia.

Lalu baru-baru ini platform belanja daring lainnya, Tokopedia, memanfaatkan ceruk bisnis serupa. Mereka menggandeng BTS, boy group populer bentukan Big Hit Entertaiment sebagai ikon anyar. Tokopedia juga membuka BTS Merchandise Store secara resmi pada Oktober 2019 lalu.


Potensi Penggemar Hallyu Indonesia


Tak perlu heran ketika Anda melihat banyak idola K-Pop bertandang ke negeri ini untuk mengadakan jumpa penggemar atau konser. Bahkan belakangan mereka seperti keranjingan berkomunikasi atau menyanyikan lagu berbahasa Indonesia, menggunakan batik, serta menjadi bintang iklan produk lokal.

Pendapatan yang mengalir dari Indonesia sangat patut diperhitungkan. Ini dipahami betul oleh bintang K-Pop sampai-sampai mereka sangat menjaga interaksi dengan penggemar Indonesia. Apalagi, sebagai negara berpenduduk besar, Indonesia berpotensi membuat karya-karya mereka melejit hanya dari YouTube.

Hal lumrah ketika seorang penggemar K-Pop menyumbang alogaritma dengan menonton Music Video (MV) idola mereka lewat beberapa perangkat berbeda. Platform ini, bersama dengan Twitter menjadi media sosial yang paling banyak digunakan untuk berinteraksi. Bahkan para penggemar Indonesia seringkali menjadi penggerak topik-topik populer seputar K-Pop di platform tersebut.

Studi berjudul "International Journal of Cultural Studies" (2013) mengungkapkan bahwa kedua platform itu digandrungi penggemar karena beberapa kelebihan. Pertama mereka menawarkan pembaruan informasi lebih cepat atau malah real time. Aksesnya juga tergolong mudah dan minim/tanpa biaya.

“YouTube memberi akses gratis ke video musik, sulih bahasa, dan video K-pop paling terkini,” rangkum peneliti yang menganalisis pola pergerakan penggemar K-Pop Indonesia di media sosial.


YouTube menjadi kekuatan pendorong utama di balik distribusi sosial K-pop sejak akhir tahun 2000-an. Terutama di wilayah Asia yang akses internetnya baru bergeliat di dekade tersebut. Sejak saat itu hingga kini, mesin-mesin pencari internet Indonesia dipenuhi bebagai macam kata kunci yang berkaitan dengan Hallyu.



Bahkan analisis Google Trends (7/1/2020) meletakkan Indonesia di urutan ke-6 negara yang menghasilkan istilah 'KPop' dari lalu lintas dunia. Peringkatnya dimulai dari Brunei, Filipina, Myanmar, Singapura, Malaysia, Indonesia. Sementara untuk istilah ‘Hallyu’ Indonesia menyumbang pengaruh pada urutan ke-7 di seluruh dunia.

Korea selatan selain mampu menyaingi Jepang dan Meksiko dalam produksi drama. Ekspansi musik mereka juga patut diperhitungkan. Laporan Statista bertajuk "Music industry in South Korea" (2020) merangkum keberhasilan K-Pop menempati posisi keenam pasar musik dunia, didahului oleh Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, dan Prancis.

Mereka berhasil menancapkan pondasi kuat di negara-negara tujuan utama ekspor musik seperti Jepang, Cina, dan negara-negara Asia Tenggara. Di sektor pariwisata, peningkatan pelancong dari Indonesia paling signifikan pertumbuhannya dibanding negara lain di Asia Tenggara.


Pada 2016, Korea Tourism Organization (KTO) menempatkan Indonesia di urutan ke-9 bersama Cina, Jepang, Amerika, Taiwan, Hong Kong, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Vietnam, Rusia, Singapura menjadi negara penyumbang turis terbanyak setelah Indonesia. Tahun 2015 193 ribu dari 13.23 juta pelancong berasal dari Indonesia.

Jumlah tersebut naik tajam di tahun 2016, mencapai 295 pelancong Indonesia dari 17,24 juta turis. Dalam 10 tahun ke depan (2026), pemerintah Korea Selatan memprediksi Indonesia masuk pasar besar pariwisata mereka. Bersama Cina dan Jepang, negara ini akan menempati posisi tiga hingga empat besar penyumbang devisa pariwisata Korea.

Melihat sudah banyak entitas sadar ceruk bisnis menjanjikan di pasar penggemar K-Pop, para penggemar harus mulai waspada dan memilah agar tak terjebak transaksi bodong yang memanfaatkan militansi mereka.

Baca juga artikel terkait K-POP atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight