Menyelami Militansi K-Popers

Oleh: Aditya Widya Putri, Nindias Nur Khalika - 19 November 2018
Dibaca Normal 6 menit
Persaingan antara K-Popers setangguh prajurit membuat musik pop Korea susah surut.
tirto.id - “Plastique!”

Rimay Prawita, 27 tahun, mengetik papan huruf di layar gawai, membalas serangan komentar dari seorang warganet. Sebuah forum di situs Allkpop kali itu ramai membincangkan EXO, boy grup dari Korea Selatan yang memulai debut pada 2011. Sebagai K-Popers sejati, sebutan bagi penggemar pop Korea alias K-Pop, Rimay perlu membela.

“Enggak semua operasi plastik, lagi pula kalau memang operasi, kenapa? Kami, kan, [suka] musik dan talentanya,” gerutunya sambil terus mengetik.

“Jangan ladeni komen toxic, wasting time. Mending kubur komen mereka dengan pujian dan apresiasi terhadap perjuangan dan prestasi idol-idol kita.”

Kirim.

Rimay sejatinya bukan EXO-L militan, sebutan bagi penggemar EXO. Tapi kecintaannya pada K-Pop jangan ditanya. Ia menggilai K-Pop sejak 2009, tahun ketika Demam Korea belum mewabah seperti sekarang.

Cinta pertama Rimay dimulai dari lagu 'It's You' dari Super Junior (Suju), singel promosi kedua Suju pada album ketiga Sorry Sorry yang rilis pada Mei 2009.


Temannya ikut andil menunjukkan video musik boy grup beranggotakan 12 orang itu. Perkenalan singkat Rimay dengan K-Pop membuatnya penasaran, lalu ia mulai menyelami MV Suju lain, merembet ke TVXQ, dan menambatkan hati kepada EXO.

Suju, TVXQ, dan EXO merupakan boy grup asuhan agensi SM Entertainment. Artis-artis SM dikenal cenderung berpenampilan metroseksual dan girly; begitupun lagu-lagunya yang lebih terdengar populer.

Bila dicermati, tiap agensi di Korea punya ciri khas kuat yang dibawa artis-artisnya. Jika boy grup dan girl grup di SM terlihat lebih 'manis', artis di agensi lain, YG Entertainment misalnya, memilih tampil 'swag' dan berkiblat ke musik hip hop. Maka, banyak rapper mumpuni di agensi YG.

Sementara JYP Entertaiment unggul satu tingkat di bidang tari dan olah tubuh dibanding agensi lain. Koreografi mereka selalu unik dan terlihat gahar.

Tapi yang pasti, setiap comeback para idola ini selalu punya tampilan berbeda, dari tatanan rambut, baju, hingga konsep albumnya. Para penggemar bisa membedakan tahun comeback mereka hanya dari potongan rambutnya saja. Konsep inilah yang jarang dimiliki oleh penyanyi dari negara lain, termasuk Indonesia.

“Aku melihat MV [music video] K-Pop itu punya paket komplet. Artisnya cakep, setting dan koreografinya juga totalitas,” ungkap Rimay yang kini beralih menggemari boy grup Wanna One.

Kami dan Rimay bertemu di sebuah kedai kopi di kawasan Jakarta Selatan sepulang ia kerja. Baru saja duduk, Rimay sudah mengeluarkan koleksi-koleksi merchandise; ada majalah, album, tiket konser, dan foto-foto idolanya; kebanyakan memuat wajah Kang Daniel, personel Wanna One.

“Ini cuma sebagian, sisanya banyak ditinggal di Medan,” kata gadis bermarga Rajagukguk ini.

Buat membeli itu semua, Rimay tak segan mengeluarkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah, apalagi untuk album dan foto eksklusif.

Penting untuk membeli album asli, selain mendengarkan lagu idola lewat streaming karena penjualannya akan terhitung ke chart lagu, ujarnya. Alasannya, semakin banyak lagu didengarkan dan album dari idola terjual, posisi lagu akan semakin merangkak naik. Kesempatan memenangkan ragam penghargaan musik pun makin terbuka lebar.

Selain rajin mengoleksi merchandise, militansi Rimay ditunjukkan dari caranya menambah 'viewers' di setiap MV idola.

Di antara penggemar grup K-Pop satu dari lainnya seringkali adu 'viewers' demi MV idolanya mendapatkan predikat paling laris ditonton. Dalam sehari, gadis lulusan IT Telkom, Bandung, ini bisa menggunakan empat gawai untuk menonton MV, yang bisa ia ulangi masing-masing hingga 15 kali tiap satu gawai. Artinya, Rimay bisa menonton MV yang sama sebanyak 60 kali dalam sehari.


Berburu Tiket Konser

Gadis berambut pendek yang duduk di depan kami bergegas memasukkan laptop dan mengeluarkan sebuah toples kaca berisi gulungan kertas. Malam itu ia mengenakan kemeja putih dengan pin hati berwarna merah di kerah, yang kami ketahui belakangan sebagai ikon dari Jun.K, vokalis utama boy grup 2PM.

Sambil mengaduk teh tarik hijau pesanannya, Fani Rachmita mempersilahkan kami membuka sedikit dari sekian banyak koleksi berharganya.

“Itu tiket konser yang aku kumpulin buat kenang-kenangan,” ujarnya.

Satu per satu tiket ia tunjukkan sambil memberi keterangan singkat tentang tahun dan tempat konser digelar. Terhitung delapan konser 2PM yang sudah pernah ia datangi; lima di Indonesia, tiga lain di Korea, Bangkok, dan Jepang.

Di Jepang, ia datang khusus untuk melihat solo konser Jun.K. Itu pun belum termasuk konser dalam negeri beberapa grup K-Pop lain, seperti BEAST, MBLAQ, SNSD, Suju, dan BIGBANG.

Untuk urusan nonton konser, Fani bukan termasuk K-Popers recehan. Ia selalu membeli tiket paling mahal, VIP, dengan harga mencapai Rp2,5 juta untuk konser di Jakarta; harga yang sama untuk tiket konser di Bangkok. Jika ditambah biaya akomodasi, total pengeluarannya bisa Rp10 juta untuk militansinya menonton konser di Bangkok.

Berbeda dari Jakarta dan Bangkok, konser di Korea dan Jepang punya harga tiket lebih murah, rata-rata Rp1 juta untuk semua posisi. Hanya saja penggemar yang berlangganan kartu anggota dapat mengisi posisi paling dekat panggung, itu pun harus adu cepat saat membeli.

Kemewahan kartu anggota 2PM ini harus dibayar sekitar Rp1,5 juta per tahun. Total pengeluaran Fani saat menonton konser di Korea atau Jepang berkisar Rp15 juta.

Saat menonton konser Jun.K di Jepang, Fani sempat kesulitan mendapatkan tiket. Sebabnya, tiket hanya bisa dibeli oleh penduduk asli Jepang. Alhasil ia harus membeli dari pihak kedua, bukan langsung dari promotor.

Fani sempat ditawari tiket yang harganya sampai dua kali lipat, tapi untung seorang Hottest—sebutan bagi penggemar 2PM—di Jepang berbaik hati menawarkan jasa titip tiket tanpa biaya tambahan.

“Biasanya yang jual lebih mahal itu bukan Hottest. Mereka (Hottest) sudah paham. Kami mau ke sana sudah susah payah, masak mau dimahalin lagi?” kata Fani, terselip rasa bangga atas kekompakan Hottest.

Selain itu, gadis yang mulai menggemari 2PM sejak 2011 ini menyiapkan bujet khusus untuk membeli ragam merchandise 2PM. Rata-rata mencapai Rp500 ribu hingga Rp2,5 juta per bulan. Lagi-lagi, membeli merchandise pun, militansi Fani sangatlah total. Untuk album misalnya, ia selalu membeli semua edisi terutama edisi terbatas.

Lazimnya, para idola K-Pop meluncurkan beberapa edisi dalam satu album. Album-album ini berbeda dari segi pengemasan dan bonus. Semakin terbatas edisi album, semakin bagus pengemasannya, semakin banyak bonusnya, meski semakin mahal harganya.


Pada kesempatan lain, Fani menunjukkan koleksi-koleksi merchandise miliknya, termasuk album yang ia susun dalam lemari tiga tingkat. Satu yang terunik adalah koleksi album yang bisa berubah sesuai temperatur udara.

Ia mengambil album ketiga 2PM itu dari lemari pendingin. Samar-samar terlihat tulisan 'GROWN' di sampul depan album berwarna hitam itu. Fani lalu menyalakan pengering rambut, mengarahkannya ke sampul album, dan—Simsalabim!—muncul rupa enam personel 2PM di sana.

Selain album GROWN bersampul hitam itu, mantan wartawati Free Magz ini masih punya dua album sama dengan edisi berbeda; satu kuning emas, satunya lagi bersampul gambar personel 2PM.

Di koleksi album keempat bertajuk My House, 2PM punya konsep sampul berbentuk pintu. Fani punya dua versi: sampul berpintu hitam dan putih.

Koleksi terakhir Fani yang menarik perhatian kami adalah album pertama Jun.K berjudul 77-1X3-00 dengan konsep hologram.

“Enggak cuma beli album, tapi saya beli seni juga,” jawab Fani menjelaskan motivasinya membeli beberapa edisi dalam satu jenis album. “Biar Oppa bisa makan,” tambahnya, setengah berkelakar.

Infografik HL Fans Kpop Militan


Di Balik Layar Militansi

Setiap grup idola K-Pop memiliki penggemar dengan julukan berbeda, biasa disebut fandom. Sementara penggemar yang rela berburu info serta foto-foto eksklusif dari salah satu anggota grup K-Pop dinamakan fansite. Suatu wilayah dengan jumlah fandom besar bisa dikategorikan sebagai fanbase.

Masternim, orang-orang di belakang fansite, rela menghabiskan waktu untuk membikin merchandise versi sendiri. Foto-foto eksklusif hasil buruan mereka biasanya dikumpulkan dan dijual kepada fandom di berbagai belahan dunia.

Hasil penjualannya bukan dinikmati sendiri, tapi diputar untuk membahagiakan idolanya. Masternim rela membeli kamera dan lensa dengan tipe teranyar demi mendapat foto sejajar profesional.

Kami berbincang bersama Pui, 30 tahun, seorang masternim sekaligus Hottest dari Thailand lewat surel dan aplikasi chat. Thailand merupakan salah satu fanbase terbesar 2PM karena salah satu anggotanya, Nichkhun, berasal dari negara ini. Ia mengelola akun twitter @2pmlovethailand yang memiliki pengikut 21,4 ribu akun.

“Akun ini adalah representasi Hottest Thailand,” ungkap Pui.

Akun itu dibuat usai bencana banjir melanda Thailand pada 2011. Seluruh anggota 2PM menjual merchandise, barang pribadi, dan menandatangani kaos untuk menggalang dana bagi masyarakat Thailand. Setelah itu @2pmlovethailand menjadi akun pusat kegiatan, acara amal, dan proyek untuk 2PM dari Hottest Thailand.

Biasanya saat 2PM datang ke Thailand, para Hottest menyambut kedatangan di bandara, lengkap dengan banner dan slogan. Info kedatangan terkadang diperoleh dari agensi, tapi lebih sering mereka hitung 5 jam usai foto anggota 2PM dari Korea beredar. Penerbangan dari Korea ke Thailand ditempuh selama 5 jam.

“Kami sering menjamu 2PM dengan mengirimkan makanan saat mereka datang,” ujar Pui.

Pad thai, nasi goreng babi, tom yum koong, kepiting kari Thailand, dan jus semangka adalah makanan favorit 2PM. Untuk tiga kali suguhan makan 2PM serta stafnya, Hottest Thailand bisa mengeluarkan dana 2.000 dolar AS atau lebih dari Rp29 juta.

Sebelum mengirimkan makanan, para Hottest ini menghubungi promotor dan mengajukan semacam proposal. Setelah proposal disetujui, baru rangkaian kejutan dilakukan.

“Personel 2PM sangat mengapresiasi kami,” kata Pui. Ia sangat yakin cinta dan persahabatan yang sama diberikan 2PM kepada fandom.

“Mereka tersenyum dan membahas upaya kami selama acara, atau menulis atau mengunggah foto di SNS (social networking service),” ujar Pui.

Hal sama terjadi di Indonesia.

Masternim yang kami temui adalah Nadia Febri, pengelola akun Instagram @btsarmy.id. Army adalah sebutan bagi fanbase boy grup Bangtan Boys alias BTS. Sehari-hari Nadia kuliah di salah satu kampus negeri di daerah Jatinangor, Jawa Barat.

Perempuan asal Bekasi ini menceritakan akun itu dibuatnya pada Mei 2017. “Tapi 2 September akun kehapus, di-suspend Instagram. Terus aku buat lagi,” katanya. Ia mengelola akun itu bersama seorang admin.

BTS menjadi boy grup yang digandrungi Nadia sejak akhir tahun 2016. Sebelum itu, ia bukanlah K-popers. Perhatian pada BTS mulai muncul sejak saudaranya menunjukkan variety show serta video musik boy grup bentukan label rekaman Big Hit Entertainment itu, dua tahun lalu.

“Mereka lucu banget. Pas aku lihat langsung tertarik dengan Jimin,” terangnya. Jimin adalah penari sekaligus vokalis utama BTS. Ketika muncul di video musik “Blood, Sweat, and Tears”, rambut penyanyi berusia 23 tahun itu dicat abu-abu sehingga terlihat menonjol.

Nadia sama sekali awam sebelumnya soal BTS, lalu ia penasaran dengan Jimin. “Aku makin kepo, terus aku lihat BTS. Ternyata lagunya enak, liriknya juga bagus,” ujarnya.

Pengetahuan Nadia soal musik K-pop selama ini berkiblat pada genre lagu yang dibawakan oleh Super Junior dan Girls Generations, yang kental dengan musik pop dibanding hip hop dan R&B seperti yang dibawakan BTS.

Dari segi lirik, beberapa lagu BTS menceritakan kehidupan dan kegelisahan remaja, termasuk soal kekerasan; membuat Nadia semakin menyukainya.

Sebagai fan berat BTS, Nadia mengoleksi banyak album dan merchandise, menonton konser BTS di Indonesia, serta mengikuti variety show “Run BTS!”.

“Love Your Self aku komplet 12 album, ada Wings 2 album, Young Forever yang versi Night, The Most Beautiful Moment in Life
bagian 1 dan 2, Summer Package 2018, dan 3rd Muster 2017. Harganya antara Rp270 ribu sampai Rp800-an ribu,” terangnya.

Nadia juga memiliki sepatu yang didesain BTS keluaran merek PUMA. Ia juga memiliki merchandise BT21, karakter buatan personel boy grup itu lewat aplikasi LINE, dari sandal, kaca, bando masker, towel hoodie, hingga kaos kaki.

Selain orang di balik akun @btsarmy.id, Nadia turut membikin akun Instagram fanbase A.R.M.Y atau Adorable Representative M.C for Youth, sebutan fan boy grup BTS, yang memuat setidaknya 8.198 foto dan video serta diikuti 73 ribuan pengikut.

Foto dan video yang diunggah di akun btsarmys.id berasal dari ratusan akun Twitter fanbase, fansite, maupun A.R.M.Y asal Korea yang diikuti Nadia.

“Misalkan kuliah, terus ada update-an dari BTS, ya, kami upload pasti telat. Sekali posting bisa banyak banget. Kalau BTS ada kegiatan, aku bisa paling banyak 50 [kali] nge-post, “ katanya.

Saat BTS comeback alias merilis album atau singel dan tampil di stasiun TV, Nadia menggunakan akun Instagram btsarmys.id untuk berkoordinasi demi menjalankan rencana menaikkan posisi BTS di tangga lagu, bersama admin akun A.R.M.Y Indonesia yang lain.

“Harus trending nomor lima di Youtube Indonesia. Spotify harus bisa masuk chart Indonesia,” katanya.

Tangga lagu di radio, i-Tunes, serta Apple Music tak luput dari perhatian A.R.M.Y. Mereka tak segan bekerja sama agar lagu BTS berada di peringkat atas.

Ada beberapa syarat yang mesti diperhatikan ketika memainkan video musik BTS agar masuk ke dalam tangga lagu YouTube.

“Pertama harus high definition tampilannya, enggak boleh diulang. Jadi harus pakai akun lain atau kalau enggak [mesti] clear cache jadi history-nya dihapus, video enggak boleh di-pause. Kalau ada iklan, enggak boleh di-skip,” jelas Nadia.

Dua puluh empat jam pertama usai comeback adalah masa-masa kritis, ujar Nadia. Sehingga tak jarang ia terus menonton video musik BTS agar viewers bertambah selama jangka waktu tersebut.

Nadia memandang persaingan antara K-Popers membuatnya melakukan hal itu semua.

“Aku termasuk K-Popers baru. Aku kaget ternyata sebersaing itu di dunia K-Pop. Terus aku kayak terdorong gitu,” katanya.

Baca juga artikel terkait K-POP atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri & Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Hobi)

Penulis: Aditya Widya Putri & Nindias Nur Khalika
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight