Yang Dibutuhkan Remaja Meksiko adalah K-Pop

Boyband K-pop di KCON 2017 Mexico. FOTO/kconmexico.com
Oleh: Arif Abdurahman - 1 April 2017
Dibaca Normal 3 menit
K-Pop mulai merambah Amerika Latin. Bagi anak-anak muda di Meksiko, K-Pop menjawab kebutuhan zaman.
"Aku kecanduan," kata Samantha Alejandra, gadis muda dari Mexico City, dilansir oleh National Public Radio.

Bukan, Samantha bukan kecanduan heroin atau obat-obatan terlarang. Ia kecanduang K-Pop. Samantha rela menabung peso demi peso agar dapat membeli barang-barang K-Pop impor, seperti rilisan set DVD paling anyar grup pujaannya. Ia bukan berasal dari keluarga berada, hanya dari keluarga biasa yang sederhana. Namun kegilaan kepada K-Pop sungguh tak terbendung.

"K-Pop benar-benar mengubah hidupku," tegasnya.

Di YouTube, video K-Pop dengan lirik yang diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol menakik sampai jutaan tampilan, banyak pula orang Hispanik yang mengunggah video reaksi ketika ada rilisan baru video klip Kpop.

“Saya bosan nonton video dari penyanyi pop yang sama dari Amerika Serikat kayak Selena Gomez dan Miley Cyrus,” kata Maya Sánchez, yang menjadi fans K-Pop di Meksiko gara-gara mengeklik secara acak video grup Big Bang di Youtube. “Cuma gitu-gitu aja,” cibirnya tentang musik-musik pop Amerika.

Pesta K-Pop di Meksiko

Didorong oleh perusahaan hiburan Korea Selatan yang mencari pasar segar untuk bintang musik mereka, dan munculnya pasar dari kalangan remaja berbahasa Spanyol yang memuja bentuk K-Pop yang kaya dengan pesan optimistis penuh keriangan, gelombang Korea menyapu Amerika Tengah dan Selatan. Sapuan itu tidak hanya menarik khalayak yang besar, namun juga menjadi pemujaan yang nyaris menjadi kultus.

Pada 2017, KCON sebagai hajatan rutin K-Pop di luar Korea, menggelar konser untuk pertama kalinya di Amerika Selatan, di salah satu basis terbesar fans Kpop, Meksiko. KCON dimulai sejak 2012 dan berbasis di California Selatan dan diperluas sampai Pantai Timur dan Jepang pada 2015. Ekspansi berlanjut hingga Abu Dhabi, Uni Emirat Arab dan Paris, Prancis pada 2016. KCON di Meksiko digelar di Mexico City Arena yang sanggup menampung sekitar 22.300 penonton pada 17-18 Maret lalu.

Salah satu yang tampil di Mexico City adalah grup cewek beranggota lima orang, Red Velvet. Sehari sebelumnya mereka tampil di Kpop Night Out dalam gelaran festival musik SXSW di Austin, Texas. Dari Texas mereka langsung terbang ke ke Mexico City. Grup cewek asuhan SM Entertainment, yang juga pernah diikutsertakan di KCON Los Angeles 2015 silam ini, menjadi jadi salah satu penampil KCON Mexico 2017.

Red Velvet tampil di Meksiko tanpa kehadiran sang vokalis utama, Joy. Ia tidak bisa tampil karena masih disibukkan jadwal syuting dan promosi opera sabun di Korea. Wendy menyapa langsung para penonton dengan bahasa Spanyol, yang dibalas dengan jeritan suka cita dari ribuan yang hadir di gelanggang itu.

Fancam
atau rekaman-rekaman amatir dari penonton juga telah banyak tersebar dan dibagi di Youtube. Salah satu video memperlihatkan seorang penonton mengangkat telepon genggamnya yang memacak tulisan biru yang berbunyi:
Wendy te amo. Wendy, aku cinta kau.

Penampil lainnya, BTS atau Bangtan Boys, grup beranggota tujuh cowok yang tengah melejit, menjadi sajian utama dan paling banyak ditunggu. BTS yang belakangan selabel bersama Justin Bieber ini pernah main di KCON Paris 2016 juga.

Mexico Want the King Tour, sebuah tulisan dengan huruf besar-besar dalam sebuah banner diangkat seorang penonton yang dekat panggung. Sejak detik pertama, penampilan BTS di panggung langsung membuat heboh. Jeritan dan tangisan pecah di gelanggang itu. Lalu suara penonton berubah dari semacam salakan menjadi semacam koor ratapan.

K-Pop yang Ringan dan Diinginkan

Dalam penelitiannya, The K-Pop Wave: An Economic Analysis, Profesor Patrick Messerlin menemukan bahwa “artis K-Pop menunjukan kesopanan dan pengendalian diri” dan “bersikeras bekerja keras dan belajar lebih banyak” selama penampilan publik, sesuatu yang artis pop Barat tidak lakukan. Musik mereka “baru, warna-warni dan ceria”, dan bukan “sebuah orde lama”, sesuatu yang akan dengan mudah menarik jutaan anak muda Amerika Selatan, yang hidup dalam tantangan ekonomi yang banyak dan juga menghadapi rezim non-demokratik.

Seperti K-drama, jelas John Seabrook jurnalis The New Yorker, K-Pop adalah campuran bukan hanya antara Barat dengan tradisional tetapi antara yang lama dengan yang baru. Musiknya menonjolkan komponen suara gaduh yang dibikin dengan synths terbaru yang diperkaya dengan gerakan tempo urban. Hook sering dinyanyikan dalam bahasa Inggris, dan kadang-kadang mengacu pada gerakan tari: berkemudi di “Mr. Taxi”-nya Girls Generation, mengelap bibir di “Ice Cream Cake”-nya Red Velvet hingga membagi kartu remi di “Lotto”-nya Exo.

Video menonjolkan latar yang royal dan produksi nomor besar yang mengingatkan pada video-video awal Madonna, sementara musiknya kadang-kadang terdengar seperti New Jack Swing—musik dansa era 80an akhir yang dibuat oleh produser dan penulis lagu Amerika, Teddy Riley, dan dipopulerkan antara lain oleh Michael dan Janet Jackson, Boyz II Men, dan Bobby Brown. Keseksian gadis-gadis, namun dengan gaya sopan, mengingatkan pada grup-grup awal 60an, macam Shirelles, Crystals, dan Ronettes.



“Ayah saya mendengarkan rock berbahasa Inggris; dia enggak suka K-Pop sama sekali,” kata Araceli Galan. Tentu, akan selalu ada orang tua macam begini, mereka yang selalu sinis terhadap apa-apa yang didengarkan para bocah. “Dia bilang ke saya, ‘Mengapa kamu dengerin musik begitu jika kamu enggak ngerti bahasa Korea?” Dan saya mengatakan kepadanya bahwa dia pun enggak tahu gimana ngomong bahasa Inggris. Musik itu hanya perlu dirasa, kok.”

Energi positif K-Pop adalah dunia yang jauh dari sesuatu yang introspektif, meletihkan dan kadang-kadang muram seperti dalam rock Anglophone, indie dan emo. Di Amerika Selatan, yang dilalui oleh tahun-tahun panjang penuh konflik, kudeta dan revolusi, bisa diartikan bahwa orang-orang membutuhkan semacam pelampiasan kegelisahan, keaslian dan kecemasan.

“[Orang-orang Korea] mengatakan, ‘Kami memahami masalah kalian, kami pernah melalui yang begitu juga,'” tulis Profesor Patrick Messerlin mencoba menjelaskan salah satu latar sosial yang memungkinkan K-Pop disukai. Yang dimaksud oleh Messerlin tentu saja Perang Korea dan kejatuhan ekonomi di akhir 1990-an.

“Di Chili, kami enggak punya sesuatu yang seperti K-Pop. Lagu di sini kebanyakan sarat unsur politik dan sosial yang kolot, meski kami pun punya yang namanya irama Latin,” seorang gadis belia asal Santiago, yang berkumpul dengan kawan-kawan di taman tiap minggu untuk berlatih gerakan tarian K-Pop terbaru mengatakan kepada kantor berita Yonhap. “Lagu-lagu Korea membuat saya menari dan tersenyum. Apa lagi yang dibutuhkan?”

Baca juga artikel terkait K-POP atau tulisan menarik lainnya Arif Abdurahman
(tirto.id - Musik)

Reporter: Arif Abdurahman
Penulis: Arif Abdurahman
Editor: Zen RS
DarkLight