Menuju konten utama

KSP: Hasil Cek Lab, Siswa di Bengkulu Wafat Bukan Karena MBG

Uji laboratorium BPOM menunjukkan tak ada bakteri ataupun cemaran berbahaya dari makanan di dapur MBG di Bengkulu Utara.

KSP: Hasil Cek Lab, Siswa di Bengkulu Wafat Bukan Karena MBG
Karyawan mengemas paket makanan bergizi gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Senin (23/2/2026). Penerima MBG mendapatkan dua kali paket dalam satu pekan berupa susu, buah, kacang, roti selama bulan Ramadhan dengan tetap memperhatikan kandungan gizi, higienitas dan keamanan pangan. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menegaskan bahwa meninggal dunianya Fatih, siswa MIN 2 Ketahun, Bengkulu Utara, tidak berkaitan dengan konsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan hasil investigasi Badan Gizi Nasional dan pemeriksaan laboratorium, siswa tersebut meninggal bukan akibat keracunan makanan.

Qodari menjelaskan, fakta di lapangan menunjukkan siswa tersebut sempat pingsan sebelum memakan menu MBG berupa burger yang dibagikan hari itu.

Pemeriksaan medis melalui CT Scan di RS Bhayangkara memperlihatkan adanya pendarahan otak pada korban, bukan gejala klinis keracunan makanan.

"Uji laboratorium BPOM terhadap sampel makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi [SPPG] Giri Kencana menunjukkan hasil negatif terhadap bakteri E. coli, maupun cemaran berbahaya lainnya," ujar Qodari dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Beragam Capaian MBG

Dalam kesempatan tersebut, Qodari turut memaparkan capaian program pemerintah tersebut.

Ia mengklaim program prioritas MBG hingga kini telah mencapai 61,2 juta penerima manfaat, yang terdiri dari anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Qodari juga menyebut program ini didukung oleh 24.443 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di berbagai daerah. Sebanyak 32.869 SPPI bertugas memastikan operasional berjalan sesuai standar.

“Pemerintah menargetkan 82,9 juta penerima manfaat pada 2026, untuk itu jumlah SPPG ditingkatkan menjadi 32.000 unit untuk memperluas cakupan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Qodari menyebutkan bahwa 8.700 SPPG telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Program MBG ciptakan lapangan kerja baru

Sejumlah pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dipan Tanjunganom, Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (8/1/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Mada/nz

Ekosistem ini juga melibatkan 94.056 pemasok, termasuk 38.938 UMKM, dengan klaim sekitar 70 persen belanja bahan pangan berasal dari produk lokal.

“Program ini tidak hanya meningkatkan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa. Implementasi terus diperkuat melalui pengawasan kualitas dan tata kelola,” tambah Qodari.

Qodari menekankan peran KSP sebagai unit pengawal, penyelesaian hambatan (debottlenecking), serta pemantauan dan evaluasi untuk memastikan transparansi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Terkait insiden di Bengkulu, pemerintah memastikan setiap dugaan masalah akan ditindaklanjuti dengan serius.

"Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya siswa MIN 2 Ketahun, Bengkulu Utara. Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama pemerintah. Setiap kejadian yang diduga terkait program MBG tidak pernah dianggap remeh dan pemerintah langsung menindaklanjutinya," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait MBG atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Alfons Yoshio Hartanto