Korea Memanas Lagi: Babak Baru Hubungan Korut dan Korsel

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. ANTARA FOTO/The Presidential Blue House/Handout via REUTERS
Reporter: Felix Nathaniel - 1 Juli 2020
Dibaca Normal 4 menit
Setelah dua tahun, kini perdamaian Korea terancam rusak.
Kenangan terakhir Lee Keum-som soal putranya adalah saat buah hatinya itu berumur 4 tahun. Bersama suami, putri, dan putranya, Lee mengungsi akibat Perang Korea yang pecah pada 1950. Di tengah hiruk-pikuk itulah, Lee kehilangan jejak putra dan suaminya. Mereka baru bertemu kembali setelah 68 tahun lamanya.

Lee berumur 92 tahun pada Agustus 2018. Badannya serasa lumpuh ketika dia terpilih menjadi salah satu peserta reuni keluarga yang akan diadakan pemerintah Korea Selatan dan Korea Utara. Umur putra Lee, Sang Chol saat pertemuan menginjak 72 tahun.

Berusaha sekeras apapun, Lee mungkin tidak akan mengenali perubahan yang terjadi pada putranya. Ketika berpisah, wajah anaknya mungkin tampak polos dengan tinggi di bawah 100cm dan gigi yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kini, Chang Sol, putra Lee, sudah memasuki usia renta. Wajahnya telah keriput, rambutnya mungkin telah memutih atau malah rontok, dan giginya barangkali tak lagi sempurna karena dimakan usia.

Namun itulah kenangan terakhir Lee soal putranya yang bisa ia harapkan. Perang telah membuat Lee melewatkan masa hidup remaja yang berharga bagi putranya.

“Apakah akan baik-baik saja jika memeluk putraku yang sekarang berusia 72 tahun?” katanya seperti dlansir CNN.

Sekarang situasinya berbeda. Korea Selatan dan Korea Utara telah membuka jalur pariwisata masing-masing. Korea Utara yang terkenal sebagai negara tertutup, terutama bagi warga Korea Selatan, memperbolehkan pariwisata bertajuk reuni keluarga di Gunung Kumgang. Program ini masih terbuka hingga sekarang.

Perubahan ini tidak lepas dari pertemuan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un tahun 2018. Untuk pertama kalinya dalam 65 tahun, pemimpin Korut akhirnya menginjakan kaki di tanah Korea Selatan. Selama 10 tahun belakangan, pemimpin kedua negara juga tak pernah bersemuka.

Situasi ini disambut oleh sebagian warga Korea. Washington Post dalam videonya mewawancara beberapa warga Korea Selatan. Dari empat orang warga, semuanya mengapresiasi pertemuan yang dirasa mustahil untuk terjadi. Harapan mereka, pertemuan ini menjadi pintu untuk menjalin lagi hubungan baik antar kedua negara.

“Penyatuan kembali mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat, tapi saya berharap warga bisa hidup dalam kedamaian,” kata warga Korsel, Oh Han-boon.

Namun setelah hampir dua tahun, hubungan Korea Selatan dan Korea Utara kembali memanas. Setelah perdamaian yang diidamkan sekilas nampak nyata, bukan tidak mungkin kedua negara justru kembali terlibat perang dingin dan saling ancam seperti sebelumnya.

Amarah Korea Utara

Perdamaian Korea Utara dengan negara-negara tetangga berawal dari pertemuan Kim Jong-un dengan dua musuh bebuyutannya. Pertama Korea Selatan, kedua dengan Amerika Serikat--sekutu Korsel sejak perang saudara tahun 1950.

Jong-un berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura pada 2018, dua bulan setelah pertemuan impian antara Korsel-Korut. Korut dan AS sepakat akan melucuti senjata nuklir milik Korea. Namun pengertian keduanya berbeda.

Korea Utara setuju menghapuskan senjata nuklirnya apabila AS lebih dulu membinasakan senjata nuklirnya di Korsel bersama senjata sekelas nuklir lainnya. AS hanya sepakat pada poin Korut melucuti senjata nuklirnya. Sikap tidak mau saling mengalah ini kemudian menyebabkan kebuntuan pada program denuklirisasi kedua negara.

Perlahan, Korut menginginkan permintaan baru untuk menghapus senjata nuklirnya. Mereka menginginkan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) mencabut seluruh sanksi yang dikenakan pada Korut, selain yang terkait senjata pemusnah massal.

Sejak 2006, setidaknya ada 9 sanksi yang dijatuhkan PBB kepada Korut. Sanksi-sanksi itu antara lain mengatur pelarangan ekspor persenjataan dan barang mewah, penghancuran kapal kargo yang diduga membawa senjata nuklir atau penelitian tentang senjata nuklir, dan pelarangan ekspor barang-barang tambang seperti emas, biji titanium, biji vanadium, atau bahan mineral lainnya. Otomatis, sederet sanksi ini merugikan perekonomian Korut.

AS sendiri memutuskan akan membekukan aset setiap perusahaan yang menyediakan bahan baku dan jasa untuk Korut. Pada Maret 2019, AS juga menjatuhkan sanksi kepada dua perusahaan kapal asal Cina yang kedapatan berusaha membantu Korut. Dalam pertemuan dengan Presiden Korsen, Moon Jae-in, Trump mengatakan sanksi kepada Korut sejauh ini ada dalam tahapan yang “sesuai”.

“Kami ingin sanksi tetap seperti itu, dan jujur saja saya punya pilihan untuk menaikannya,” kata Trump seperti dilansir CNN.

Sejak permintaan Korut mencabut seluruh sanksi dari PBB, AS telah memberi sinyal bahwa mereka tidak akan tunduk pada permintaan Korut. Kendati menginginkan pelucutan senjata nuklir, Trump menyebut permintaan Korut “tidak bisa dilakukan”. Karena bukan hanya AS, tapi negara lain dan PBB harus bersedia untuk melakukan hal serupa.

Cina dan Rusia sudah berusaha meringankan tekanan kepada Korut. Kedua negara itu meminta PBB agar mencabut sanksinya kepada Korut demi mencapai program denuklirisasi yang menjadi keinginan AS.

Namun agar permintaan itu lolos, PBB harus mendapat persetujuan dari 9 negara dari 15 negara yang terlibat dan tak ada veto dari negara seperti Rusia, Cina, Inggris, dan Perancis dan AS. Trump sendiri mendukung wacana ini, tapi pada praktiknya AS menolak.

Sanksi PBB masih berlaku hingga hari ini.

Malam tahun baru 2020 menjadi penanda besar bagi kelanjutan hubungan Korea Utara dengan Korea Selatan dan AS. Bagi sebagian orang lain, hari itu adalah tanda habisnya kesabaran Jong-un. Ia menyatakan tidak akan lagi terikat dengan perjanjian yang telah disepakati dengan AS. Korut akan mempertahankan senjata nuklirnya dan mengatakan akan segera menyiapkan strategi persenjataan yang baru.

Pada Januari 2020, pemerintah Korut menyiagakan warganya untuk bersiap menghadapi situasi ekonomi yang cukup berat karena AS, menurut Korut, menerapkan kebijakan yang tidak bersahabat. Maret 2020, situasi semakin tegang setelah Korut meluncurkan enam objek yang tidak teridentifikasi. Otoritas Korut menyampaikan peluncuran keenam objek adalah bagian dari latihan militer pasukannya.

Jepang yang menyaksikan peristiwa tersebut mengidentifikasi objek sebagai misil. Ini adalah yang pertama setelah sekian lama Korut vakum melakukan uji coba misil. sebelumnya, Korut meluncurkan uji coba misil pada November 2019.

Hubungan Korut dengan AS dan Korsel sempat di tahap stagnan seperti sebelumnya. Isu yang berkembang: Jong-un tengah didera penyakit serius. Salah satu informasi yang beredar: Jong-un melakukan operasi jantung. Di kemudian hari, kabar ini dimentahkan oleh Cina dan Korea Selatan. Kondisi Jong-un dalam keadaan sehat dan terlalu dini membicarakan penerusnya.



Pada Mei 2020, baku tembak terjadi antara Korut dan Korsel di pos perbatasan kedua negara. Ada empat peluru yang berasal dari Korut. Korsel sendiri menembakan 10 tembakan peringatan agar Korut menghentikan tindakan mereka. Tembakan itu sebenarnya melanggar Deklarasi Panmunjom yang disepakati kedua belah pihak tahun 2018.

AS sendiri menganggap tembakan itu sebagai bentuk ketidaksengajaan.
Pada Juni 2020, balon yang memuat selebaran berisi protes pada Jong-un mendarat di pos perbatasan. Kendati kampanye anti-nuklir ini telah dilakukan aktivis dan pembelot dari Korut selama bertahun-tahun, reaksi Korut sekarang berbeda. Setidaknya, jumlah selebaran itu mencapai lima ribu. Aktivis Korsel menuntut Jong-un segera melakukan tindakan nyata menghentikan program senjata nuklirnya.

Kim Yo-jong, saudara perempuan Jong-un kemudian mengeluarkan ultimatum.

“Pemerintah Korea Selatan harus membayar mahal jika membiarkan situasi ini terus berlangsung,” kata Yo-jong dikutip Al-Jazeera.

Pemerintah Korut kemudian mengancam akan memutus jalur komunikasi seutuhnya dengan Korsel. Ancaman lainnya, pemerintah Korut akan melakukan program anti-propaganda yang belum diketahui hingga sekarang. Sekali lagi, perdamaian yang telah dirajut kedua negara sejak 2018 terancam sirna.

Ancaman dari Korea Utara mencapai puncaknya pada 16 Juni 2020. Korut mengirimkan pasukan untuk meledakan kantor penghubung kedua negara di Kaesong, Korea Utara. Korut juga mengancam akan mengirimkan pasukan militer ke pos perbatasan dan Gunung Kumgang serta Kompleks Industri Kaesong. Dua daerah itu dikelola bersama oleh Korea.

Peledakan kantor di Kaesong menjadi penting karena itu dibangun sebagai bukti nyata perdamaian kedua negara pada 2018.

“Ini mengkhianati harapan perdamaian Korea,” kata deputi Komite Keamanan Nasional Seoul, Kim You-geun seperti dilansir Washington Post.

Rencana untuk mengirim pasukan militer ditunda sementara. Keputusan ini diambil seminggu setelah ledakan. Analis BBC, Laura Bicker menduga Kim Jong-un dan saudarinya sedang memainkan peran “si jahat” dan “si baik”. Ada sesuatu yang ingin dicapai Jong-un, tapi yang jelas Korea Selatan belum aman. Agresi itu hanya ditunda, bukan dihentikan.

Hubungan yang dibina selama dua tahun kini bisa kembali retak. Menteri Penyatuan Korea Selatan Kim Yeon-chul sudah mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri yang hanya berjarak beberapa hari setelah ledakan diakibatkan oleh ketidakmampuannya mempertahankan hubungan baik antar kedua Korea.

Korsel kali ini juga tak mau mengalah dan diam saja. Kepala Staf Kepresidenan Korsel Mayor Jenderal Jeon Dong-jin bersumpah akan menyerang balik aksi militer apapun yang dilakukan pihak Korut.

“Korea Utara akan membayar untuk segala tindakan militernya. Kami memonitor pergerakan pasukan Korea Utara. Kami telah menyiagakan pasukan dan akan berupaya menghentikan peningkatan tensi militer,” kata Dong-jin seperti dikutip Asia.nikkei.

Baca juga artikel terkait NUKLIR atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Editor: Windu Jusuf
DarkLight