5 September 1997

Kontroversi Bunda Teresa dan Gelar Orang Suci dalam Gereja Katolik

Oleh: Tyson Tirta - 5 September 2021
Dibaca Normal 5 menit
Bunda Teresa dianugerahi gelar 'Santa' oleh Vatikan. Di balik itu, banyak kritik terhadapnya.
tirto.id - Dalam tradisi Katolik Roma, santo atau santa—status orang kudus dalam gereja Katolik—adalah gelar yang menunjukkan tingginya kesucian dan kedekatan seseorang dengan Tuhan. Status pemberian gereja itu menjadi spesial karena orang lain bisa berdoa kepada mereka dan sering kali didaulat menjadi pelindung atau panutan bagi hidup orang yang dibaptis. Menurut Ensiklopedia Britannica, meski tidak semua menjadi santo/santa, tidak kurang dari 10 ribu orang telah melalui proses pencalonan sebagai ‘orang suci’ sejak Paus Yohanes XV memperkenalkan sistem kanonisasi itu di abad ke-10. Maklum, sebelum pengakuan formal, status kesucian ini diberikan oleh masyarakat.

Kanonisasi adalah proses panjang yang dilakukan gereja untuk menimbang kepantasan seseorang menerima gelar santo/santa. Dalam proses ini, ada persyaratan yang harus dipenuhi. Orang itu harus menjalani kehidupan yang suci, umumnya heroik, sesuai dengan ajaran gereja, atau telah melakukan suatu pertobatan yang tulus, serta menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dengan sungguh-sungguh. Selain itu, ada syarat lain yang tak bisa ditawar: harus ada minimal dua mukjizat terjadi atas namanya.

Mukjizat itu bisa dilakukan secara langsung, namun boleh juga terjadi setelah orang yang bersangkutan meninggal dan mukjizat itu dipercaya berasal dari almarhum. Jika kriteria itu bisa dipenuhi, prosedur kanonisasi baru bisa dilakukan paling cepat lima tahun setelah yang bersangkutan meninggal.

Dalam pelaksanaannya, proses kanonisasi Gereja Katolik kerap diiringi kontroversi. Salah satu yang paling riuh dan menarik perhatian adalah dalam proses kanonisasi Bunda Teresa yang disahkan menjadi "Santa Teresa dari Kolkata" oleh Paus Fransiskus pada 2016.

Incaran Pemburu Berita

Bunda Teresa lahir di Skopje, wilayah Imperium Ottoman, sekarang ibukota Republik Makedonia Utara, dengan nama Anjezë Gonxhe Bojaxhiu. Ia dikenal sebagai orang yang mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk melayani kaum miskin dan orang-orang sakit. Pengabdiannya pada Gereja katolik dimulai ketika ia meninggalkan rumahnya di usia 18 tahun untuk bergabung dengan ordo Sisters of Loreto di Loreto Abbey, Rathfarnham, Irlandia. Namun, peran Teresa dalam pengabdian masyarakat baru benar-benar dimulai 20 tahun kemudian ketika ia memutuskan keluar dari Loreto dan mendirikan ordonya sendiri.

Ceritanya dimulai ketika ia mengajukan permohonan untuk mendirikan ordo baru yang berdedikasi melayani orang miskin dan sakit. Empat tahun setelah permohonan diajukan, otoritas Vatikan mengizinkan pendirian resminya pada 1950. Maka ordo Missionaries of Charity pun resmi berdiri. Dua tahun kemudian, ordo itu mendapatkan izin untuk menempati sebuah gedung peninggalan komunitas Hindu.

Gedung itu diberi nama Kalighat Home for the Dying—merujuk pada nama wilayah di Kolkata lokasi gedung itu berdiri. Setelah sedikit renovasi, gedung itu dialih fungsikan menjadi lokasi penampungan orang miskin dan peristirahatan orang-orang sakit yang seratus persen bebas biaya. Pada 1969, Malcolm Muggeridge, jurnalis Inggris yang juga mantan simpatisan komunis, mengunjungi gedung itu. Ia berangkat bersama Ken McMillan, juru kamera yang bertugas mengambil video aktivitas di dalam gedung. Mereka datang dengan surat tugas dari British Broadcasting Corporation (BBC) untuk sebuah proyek film dokumenter.


Membawa peralatan baru dari Kodak, McMillan khawatir dengan kondisi dalam gedung yang sangat minim penerangan. Konon, ia tidak yakin video rekamannya bisa terlihat karena ia tidak sempat melakukan uji coba dengan peralatan baru itu sebelum berangkat.

Beberapa Minggu kemudian, seluruh anggota tim pembuatan film dokumenter itu berkumpul untuk meninjau hasil kerja mereka. Ajaibnya, seluruh sudut ruangan gelap di gedung itu terlihat. Barisan alas tidur yang digunakan oleh orang-orang sakit tampak jelas dalam rekaman. McMillan mengakui hasil bagus itu berkat jasa Kodak karena memberikan teknologi mutakhir yang sanggup merekam di situasi gelap.

Berbeda dengan McMillan, Muggeridge yang duduk di barisan depan kala meninjau video itu langsung menegaskan bahwa itu adalah keajaiban yang terjadi pertama kali dalam dokumentasi video. MacMillan dibuat kaget karena ia melihat Muggeridge mengklaim video itu sebagai mukjizat karena berhasil merekam secara detail hal-hal yang ia temui di dalam ruangan gelap. Ia menyebutnya “divine light” dan menganggapnya mukjizat pertama yang berhasil terekam video.

MacMillan tak sempat membantahnya kala itu. Beberapa hari kemudian ia bahkan mendapat telepon dari sesama jurnalis di London yang ingin mewawancarainya karena dianggap sebagai saksi sebuah mukjizat. Dua tahun setelah proyek dokumenter itu rampung, Muggeridge menulis buku dengan judul Something Beautiful for God (1971), yang merupakan cerita pengalamannya mengunjungi Home for the Dying. Sekali lagi ia menegaskan mukjizat yang ia alami di Kolkata.

Sejak itu, popularitas Bunda Teresa semakin menanjak. Ia menjadi sosok religius baru di masyarakat. Dalam waktu singkat, relasi yang saling menguntungkan antara Bunda Teresa dan media massa terjalin. Gëzim Alpion dalam bukunya Mother teresa: Saint or Celebrity? (2007:4) menulis “hubungan biarawati dengan media juga memperlihatkan bahwa seperti orang terkenal lainnya, tokoh agama juga sering menggunakan pers dan setiap alat komunikasi lain dengan cerdik untuk menjangkau audiens yang dituju.”

Seiring popularitasnya menanjak, ordo yang dipimpin Teresa juga semakin menjadi incaran para pemburu berita. Menurut mereka, ordo ini unik karena selain berjasa menampung orang-orang sekarat, mereka juga menerima bayi-bayi yang semula hendak diaborsi. Hingga dekade 1970-an, jumlah bayi yang ditampung di sana bahkan mencapai 3.000.

Proyek menampung bayi ini berkaitan dengan misi Bunda Teresa, yang meninggal pada 5 September 1997, tepat hari ini 24 tahun lalu, dalam memerangi aborsi dan kontrasepsi buatan manusia. Baginya, merawat bayi-bayi itu berarti menjalankan perintah Tuhan untuk menghargai dan menjaga kehidupan. Oleh karena itu, menurutnya, aborsi adalah perbuatan setan.

Menerima Hadiah Nobel Perdamaian & Menjadi Santa

Bunda Teresa dan ordonya menerima banyak penghargaan dan pengakuan publik. Salah satu yang paling penting adalah pada 1979, ketika Bunda Teresa menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas jasanya memerangi kemiskinan dan penderitaan yang merupakan ancaman bagi perdamaian dunia. Tak ingin berlama-lama merayakan hadiah itu, ia menolak perjamuan seremonial yang digelar untuk para penerima hadiah. Ia justru meminta agar dana sebesar 192 ribu Dollar AS yang semula akan dianggarkan untuk perayaan itu diberikan ke orang-orang miskin di India.

Dalam pidatonya ketika menerima hadiah itu, Bunda Teresa kembali menegaskan ke masyarakat luas tentang perjuangannya. “Musuh paling utama bagi perdamaian dunia adalah aborsi. Karena jika seorang ibu saja bisa membunuh anaknya, maka tak ada lagi yang mencegah kita semua untuk saling membunuh satu sama lain,” kata Bunda Teresa.


Infografik Mozaik Bunda Teresa
Infografik Mozaik Agnes Gonxha Bujazhiu. tirto.id/Quita


Meski diterima dengan baik, pidato itu langsung mengundang kritik. Barbara Smoker, kontributor majalah The Freethinker, mengkritik pernyataan Bunda Teresa dalam sebuah artikel berjudul “Mother Teresa: Sacred Cow”. Menurut Smoker, propaganda yang dilakukan oleh Bunda Teresa memang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, tetapi memusatkan perhatian pada aborsi dan kontrasepsi justru membuat aliran dana yang seharusnya bisa memecahkan masalah di India jadi melenceng.

Setelah Nobel Perdamaian, para pengkritik semakin tajam melihat Missionaries of Charity dari segala aspeknya. Hal yang paling menjadi sorotan adalah sirkulasi pendanaan dan perawatan yang diterima orang-orang sakit yang mereka tampung.

“Bunda Teresa sudah tinggal di India selama lebih dari empat setengah dekade. Selama tiga dekade di antaranya, ia menerima begitu banyak donasi dan sumbangan dari seluruh dunia. Tapi orang-orang yang ia tampung mendapatkan perawatan medis yang sangat buruk. Lebih parahnya, justru itulah yang Bunda Teresa inginkan,” kata Christopher Hitchens dalam The Missionary Position: Mother Teresa In Theory and practice (1995: 39).

Mulai dari penggunaan jarum suntik yang sama berulang-ulang hingga mencuci selimut yang terkena feses berbarengan dengan mencuci peralatan makan, gedung Home for the Dying dituding sebagai tempat sakral menuju maut. Film dokumenter berjudul Hell’s Angel (1994) merekam tulisan yang tertera di tembok ruang jenazah gedung itu: “I am on my way to heaven” (“Aku menuju surga”).

Dugaan lain semakin menjadi-jadi ketika para jurnalis berhasil mendapatkan informasi mengenai kedekatan Teresa dengan dua orang penjahat kelas kakap. Mereka adalah Charles Keating, pengusaha kaya yang dijebloskan ke penjara lantaran terlibat skandal keuangan bernilai jutaan dolar, dan Jean-Claude Duvalier, diktator sayap kanan Haiti yang melakukan penyiksaan dan pembunuhan ribuan orang Haiti. Bunda Teresa dikabarkan menerima donasi besar dari dua orang ini. Dalam kasus Keating, Teresa bahkan sempat membelanya dengan menulis permohonan grasi ke pengadilan.

Akan tetapi, betapapun gencarnya kritik itu, tidak ada satupun yang sanggup membatalkan proses kanonisasi Bunda Teresa oleh Gereja Katolik. Dalam aturan Vatikan, seseorang baru bisa dipertimbangkan untuk menjadi santo/santa setelah melewati masa lima tahun sejak kematiannya. Karena Bunda Teresa meninggal pada 5 September 1997, sewajarnya proses baru bisa dimulai tahun 2003. Namun, Paus Yohanes Paulus II menghapus aturan lima tahun itu dan memulai proses kanonisasi Bunda Teresa hanya 18 bulan sejak kematiannya.

Sebagai pemimpin tertinggi otoritas Katolik Romawi di seluruh dunia, sejak tahun 1234, keputusan untuk memberikan gelar santo/santa menjadi keputusan Paus. Hingga 1978, hanya ada 300 orang yang mendapat gelar itu. Ketika Paus Yohanes Paulus II menjadi Paus, ia menyederhanakan aturan kanonisasi dan memberikan gelar itu pada 482 orang.

Pastor Brian Kolodiejchuk diangkat menjadi perwakilan yang melakukan advokasi untuk mendukung pemberian gelar itu. Ia merampungkan hasil wawancara dari 113 orang narasumber yang menjawab 263 pertanyaan ke dalam 76 dokumen setebal 35 ribu halaman. Untuk memenuhi syarat mukjizat, seorang perempuan India bernama Monica Besra mengaku telah sembuh dari kanker ganas di perutnya setelah melihat foto Bunda Teresa yang bersinar dan menempelkan foto itu di perutnya. Pengakuan itu belakangan disanggah oleh dr. Ranjan Mustafi yang merawatnya dan oleh suaminya sendiri yang menganggap pengakuan Besra adalah kebohongan. Menurut sang suami, kanker Besra sembuh berkat perawatan medis dr. Mustafi.

Biasanya, dalam proses kanonisasi ada perwakilan dari Advocatus Diaboli, departemen khusus dalam struktur organisasi gereja yang melakukan sanggahan untuk menolak pemberian gelar itu. Akan tetapi, departemen itu dibubarkan pada 1983.

Agar tetap menjalankan proses dengan berimbang, Vatikan menunjuk Christopher Hitchens, seorang kritikus ateis, untuk menyusun sanggahan dan penolakan. Sesuai dugaan, Hitchens gagal. Proses pun dilanjutkan dan pada 17 Desember 2015 mukjizat kedua pun terjadi. Seorang laki-laki Brazil mengaku sembuh dari tumor otak setelah berdoa kepada Bunda Teresa. Kurang dari setahun kemudian, pada 4 September 2016, Bunda Teresa diberi gelar Santa Teresa dari Kolkata.

Baca juga artikel terkait AGAMA atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Windu Jusuf
DarkLight