Misbar

Kontes Musik Campur Satir, Jadilah Komedi Eurovision Song Contest

Poster Eurovision Song Contest. FOTO/Netflix
Oleh: Irma Garnesia - 2 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
Fire Saga jadi ode bagi Eurovision yang tak jadi dilangsungkan tahun ini.
Mungkin cuma di Eurovision Song Contest Anda bisa menyaksikan vampir ala opera, band metal dengan kostum monster, atau sekelompok wanita tua Rusia yang memanggang kue di atas panggung sembari bernyanyi. Tapi, Eurovision--ajang pencarian bakat negara-negara di Eropa yang telah digelar sejak 1950--bukan cuma gelaran pop mewah dengan aksi-aksi tak masuk akal di atas panggung. Grup musik ABBA dari Swedia melambung popularitasnya karena memenangkan kontes ini pada 1974 dengan “Waterloo”. Celine Dion juga mendapat pengakuan internasional dari Eurovision 1988 saat mewakili Swiss dengan "Ne partez pas sans moi".

Sayangnya, Eurovision tahun ini dibatalkan karena Pandemi COVID-19. Namun, tahun ini kita bisa menyaksikan keragaman musik ala Eropa di Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga (Seanjutnya Fire Saga). Komedi musikal yang dibintangi Will Ferrell, Rachel McAdams, Pierce Brosnan, Dan Stevens, dan Demi Lovato ini seharusnya rilis bersamaan dengan Eurovision tahun ini pada bulan Mei. Namun, film ini akhirnya rilis sebulan kemudian di Netflix.

Will Ferrell memerankan Lars Ericksong, bocah lelaki Islandia yang tinggal bersama ayahnya (Pierce Brosnan). Suatu hari, Lars yang sedih pasca-kematian ibunya jadi sangat semangat setelah menyaksikan penampilan ABBA yang membawakan lagu "Waterloo" di kontes musik Eurovision. Ia terobsesi untuk tampil dan memenangkan ajang pencarian bakat tersebut. Bersama sahabat baiknya, Sigrit (Rachel McAdams), mereka membentuk grup duo bernama Fire Saga.

Sebenarnya, Fire Saga tak keren-keren amat dan hanya manggung di bar lokal. Tempat Latihan mereka pun hanya studio kecil di rumah ayahnya Lars. Namun, karena bujang lapuk itu tak kunjung menyerah dari mimpi masa kecilnya untuk tampil dan memenangkan kontes Eurovision, keduanya pun mengirim rekaman audisi yang dipilih secara acak oleh sekelompok juri Islandia.

Sebetulnya, rekaman milik Lars dan Sigrit hanya jadi pelengkap, karena Islandia sudah menentukan pemenang, yakni Katiana (Demi Lovato). Namun, lewat serangkaian kejadian lucu, dan bantuan elf, mitos yang dipercaya penduduk Islandia, Fire Saga bisa lolos dan mewakili Islandia ke ajang Eurovision yang berlangsung di Edinburgh.

Fire Saga dianggap sebagai kembalinya Ferrell ke genre komedi. Setelah lama tak membintangi film komedi yang benar-benar sukses. Holmes & Watson (2018) menerima kritik cukup baik, tapi tak setara dengan performanya sebagai Ron Burgundy yang egoistik di Anchorman: The Legend of Ron Burgundy (2004) atau ketika memparodikan kesombongan orang Amerika lewat Ricky Bobby di Talladega Nights: The Ballad of Ricky Bobby. Belakangan, Ferrell dianggap hanya memerankan dirinya sendiri; bapak-bapak suburban kelas menengah yang reaktif dan gampang naik darah.

Film-filmnya yang rilis belum lama ini--The Campaign, Get Hard, Daddy’s Home, dan bahkan Anchorman 2--dengan cepat terlupakan. Sangat disayangkan bagi alumni Saturday Night Live dan juga anggota dari “Frat Pack”, sekumpulan aktor lawak Hollywood yang muncul pada akhir 1990-an hingga 2000-an, seperti Jack Black, Ben Stiller, Steve Carell, Vince Vaughn, dan saudara Owen dan Luke Wilson.



Fire Saga boleh dianggap sebagai komedi satir terbaik Ferrell setelah bertahun-tahun. Namun, jangan lupakan pemeran pendampingnya, Rachel McAdams, yang mampu menjual aksi konyol dengan wajah tanpa ekspresi. Hal serupa yang ia lakukan lewat drama komedi Game Night (2019). McAdams berhasil tampil lucu dan menggemaskan tanpa terkesan berada di bawah bayang-bayang Ferrell. Malah, kadang, segala tingkah kocak Sigrit yang mempercayai mitos elf itu terasa orisinil dan mencuri panggung Ferrell.

Sangat menyenangkan menyaksikan Rachel McAdams berhasil keluar dari zona nyaman yang menuntunnya menjadi sosok girl next door lewat drama-drama seperti The Notebook (2004), The Time Traveler’s Wife (2011), Midnight in Paris (2011), The Vow (2012), atau About Time (2013).

Seperti kebanyakan komedi, Fire Saga menitik beratkan cerita pada hubungan romantis yang tak masuk akal ketimbang kompetisi musik itu sendiri. Tentu hal ini tak jadi masalah karena memang tak ada salahnya menonton dua sahabat yang terjebak dalam hubungan romantis, namun tak memutuskan untuk bersama karena urusan profesional. Seperti yang dikatakan Lars, ia tak mau band mereka bernasib sama seperti Fleetwood Mac, Abba, Post Malone, hingga Simon & Garfunkel. Tapi, apa yang sebenarnya dilihat Sigrit dari Lars selain sebagai partner bermain musik?

Fire Saga disutradarai oleh Davod Dobkin dan jadi ode bagi Eurovision yang dibatalkan tahun ini. Naskah film ditulis oleh Ferrell dan Andrew Steele yang menghubungkan antara komedi satir dan kontes musik paling aneh di Eropa, dan jadilah Fire Saga. Dengan Lars dan Sigrit membaur di antara pemenang-pemenang Eurovision dan menyanyikan medley pop klasik, film ini adalah hasil kerja sama dengan Eurovision. Menjadikannya sebagai hasil kerja sinematografi dengan batasan yang tipis untuk menghormati kontes musik tersebut, sekaligus mengolok-oloknya.

Sayangnya, seperti kebanyakan drama komedi modern dan film Netflix pada umumnya, Fire Saga memiliki durasi yang sangat panjang. Padahal, tak ada alasan bagi film tersebut untuk melampaui durasi dua jam. Namun, Fire Saga bisa jadi semacam eskapisme komedi untuk kebanyakan dari kita yang mencari hiburan dan tak bisa ke mana-mana selama pandemi.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight