tirto.id - Media sosial beberapa waktu ini diramaikan dengan fenomena anomali 'Tung-tung Sahur' yang merupakan karakter rekaan produk kecerdasan buatan (AI), dengan bentuk animasi kentongan yang bisa hidup dan bergerak layaknya manusia. Tung-tung Sahur disebut anomali oleh warganet karena wujudnya dalam video atau narasi tidak mengikuti pola visual atau struktur logika yang biasa diterima.
Untuk diketahui, karakter anomali di TikTok dibuat pengguna akun bernama Noxa. Bentuk karakter anomali merupakan gabungan makanan atau minuman dengan hewan atau gabungan hewan dengan kendaraan atau gabungan benda dengan benda. Misalnya, buaya dengan pesawat, gelas berisikan kopi, gelas berisikan teh hijau, pentungan satpam, monyet dengan pisang, dan lainnya.
Ada pula trenBrainrot Italia, yakni tren menggunakan AI untuk membuat gambar hewan. Namun pada tren ini, hewan yang dibuat dikombinasikan dengan sejumlah objek lain seperti tumbuhan, barang, hingga bagian tubuh manusia. Hasilnya, terciptalah gambar hewan hibrida yang aneh. Di antara contoh yang paling populer adalah hibrida buaya dengan pesawat pengebom yang diberi nama “Bombardiro Crocodilo”.
Konten anomali tidak hanya mengubah struktur logika pada benda mati, namun juga tokoh terkenal di Indonesia. Di antaranya, seperti yang diramaikan oleh akun Kementerian Kegelapan yang menyebut karakter anomali seperti "Prabowono Subiantono", hingga "Lil lil Bahlil", tanpa menjelaskan konteks siapa yang dimaksud dalam konten anomali tersebut. Kementerian Kegelapan sampai meraup 3,1 juta penonton untuk video tersebut.
Lantas, bagaimana dampak dari karakter anomali ini terhadap anak-anak?
Orang Tua Wajib Mendampingi
Karakter anomali yang viral di TikTok dikeluhkan para orangtua karena disebut mengakibatkan brain rot atau penurunan kemampuan kognitif dan intelektual, akibat terlalu sering mengonsumsi konten online yang tidak menantang atau dangkal pada anak.
Brain rot secara harfiah bisa diartikan sebagai "kerusakan otak". Namun, jika didefinisikan secara lebih spesifik, brain rot adalah dampak negatif kepada psikologi manusia yang diakibatkan oleh terlalu sering mengonsumsi konten digital berkualitas rendah.
Melalui media sosialnya, pegiat keluarga dan pengasuhan, Ikma Hanifah Restisari, mengungkap bahwa konten anomali diminati oleh anak-anak yang lahir pada 2010-2025 atau dikenal dengan istilah generasi Alpha. Sebab, konten semacam ini dapat menarik perhatian secara instan, dan memancing reaksi lucu, hingga memunculkan pelbagai pertanyaan akibat rasa penasaran.
Sejumlah kritik dilontarkan Ikma atas keberadaan konten anomal, mulai dari mengaburkan batas logika anak, karena membuat mereka sulit membedakan antara fantasi dan fakta, hingga pelemahan daya berpikir kritis, karena terbiasa menerima gambar absurd tanpa ada penjelasan logika yang memadai. Anak dinilai menjadi terbiasa mengonsumsi konten ekstrem karena bentuk dari karakter anomali yang aneh di luar kewajaran.

Psikolog klinis anak dan keluarga dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Anna Surti Nina sependapat dengan ulasan Ikma, terkait dampak dan bahaya dari konten anomali.
"Saya setuju dengan apa yang disebutkan," kata Anna pada Tirto, hari Sabtu (10/5/2025).
Psikolog remaja dan anak, Mutia Aprilia, menyampaikan jika konten anomali saat ini dapat ditemukan di berbagai lini platform dari kartun hingga games. Percakapan mengenai konten anomali menjadi digemari oleh anak-anak SD karena mereka menganggapnya lucu, meski bagi orang dewasa konten ini terlihat aneh.
"Tapi untuk anak-anak, ketika mereka tidak tahu sama sekali ini tentang tokoh-tokoh ini, yang dibicarakan teman-temannya, kadang akan membuat mereka merasa tertinggal, jadi kurang bisa mengobrol dengan teman-teman," kata Mutia.
Mutia menekankan kepada orang tua untuk terus memberikan pendampingan kepada anak agar tidak terpapar bahaya dari konten anomali atau hal lain serupa saat menggunakan gawai.
"Ini yang perlu dipastikan, adalah anak-anak tidak terlalu banyak atau berlebihan mengonsumsi konten-konten yang bentuknya short video," kata Mutia.

Meski demikian, Mutia tidak melarang jika orang tua hendak mengenalkan konten anomali tersebut kepada anak. Ada kekhawatiran, jika anak mengetahuinya dari teman sebayanya, tanpa ada penjelasan yang memadai. Melalui pendekatan tersebut, orang tua dapat memberikan penjelasan apakah video seperti konten anomali dapat dilanjut untuk ditonton atau tidak diperbolehkan.
"Jadi orang tua menyeleksi dulu mana yang bisa diperhatikan, lalu kalau misalnya dirasa si tontonan, ini kurang sesuai dengan value keluar atau lebih banyak jeleknya jadi boleh saja untuk dilarang," kata dia.
Pemerintah Mengawasi Peredaran
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Alexander Sabar, mengungkapkan bahwa pihaknya bakal mengawasi peredaran konten karakter anomali di sosial media.
Upaya pengawasan karakter anomali itu akan dilakukan melalui Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Perlindungan Anak.
"Di peraturan mengenai perlindungan anak kan sebenarnya juga ada mengatur masalah konten. Jadi, di [peraturan] perlindungan anak itu ada mengatur terkait produk, fitur, dan layanan, termasuk konten. Peraturan pemerintah itu dimaksudkan untuk hal tersebut nantinya," katanya di kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat, Jumat (9/5/2025).
Namun, peraturan pemerintah itu masih dalam tahap penyesuaian selama 2 tahun ini sesuai amanat peraturan itu. Oleh karena itu, Komdigi masih mendalami aturan tersebut.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id
































