Menuju konten utama

Komisi I: Pengiriman Pasukan ke ISF Harus DIbahas dengan DPR

Deng Ical mengingatkan, pengiriman pasukan ke Gaza bukan perkara sederhana karena kawasan itu daerah konflik aktif dengan tingkat risiko tinggi.

Komisi I: Pengiriman Pasukan ke ISF Harus DIbahas dengan DPR
Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal menjawab pertanyaan wartawan saat bincang-bincang di Warkop Panjul Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (4/12/2025). (ANTARA/Darwin Fatir)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB, Syamsu Rizal, meminta pemerintah melakukan pembahasan dengan Komisi I DPR RI sebelum mengirim 8.000 personel TNI ke Gaza setelah Indonesia ditunjuk sebagai Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional atau Stabilization Force (ISF) di Gaza.

Politikus yang akrab disapa Deng Ical itu menekankan bahwa keputusan sebesar ini harus melalui pembahasan yang matang dan transparan. Menurutnya, Komisi I DPR RI perlu menggelar pertemuan khusus dengan Kementerian Pertahanan untuk membahas secara rinci rencana pengiriman pasukan tersebut.

“Pertemuan ini penting agar publik mengetahui secara jelas tujuan, mandat, aturan pelibatan (rules of engagement), serta skema perlindungan bagi prajurit kita. Jangan sampai ada keputusan strategis yang minim penjelasan kepada rakyat,” ujarnya sebagaimana dikutip Selasa (24/2/2026).

Ia menegaskan, pengiriman pasukan ke Gaza bukan perkara sederhana. Kawasan tersebut dinilai sebagai daerah konflik aktif yang memiliki tingkat risiko tinggi terhadap keselamatan prajurit TNI.

“Pengiriman pasukan ke Gaza membutuhkan kesiapan khusus, baik dari sisi strategi, perlengkapan, hingga mitigasi risiko. Potensi gesekan dengan pasukan perlawanan di Gaza sangat besar dan tidak bisa dianggap ringan,” ujarnya.

Deng Ical juga menyoroti pernyataan Komandan ISF, Mayor Jenderal Jasper Jeffers, yang menyebutkan bahwa ISF akan dikerahkan ke lima sektor, dengan masing-masing sektor ditempatkan satu brigade. Dalam jangka pendek, pasukan disebut akan difokuskan di sektor Rafah bersamaan dengan pelaksanaan pelatihan kepolisian.

Dalam rencana jangka panjang, ISF menargetkan pembentukan 12.000 personel kepolisian serta 20.000 tentara ISF. Menurut Deng Ical, rencana tersebut menimbulkan pertanyaan serius terkait kedaulatan rakyat Gaza.

“Kalau melihat rencana itu, ISF akan betul-betul menguasai dan mengendalikan Gaza. Pertanyaannya, di mana kedaulatan rakyat Gaza? Apakah ini bukan bentuk penjajahan baru?” ujarnya.

Ia menambahkan, sumber utama konflik dan kehancuran di Gaza adalah agresi Israel yang hingga kini masih berlangsung. Menurutnya, ISF seharusnya memastikan tidak ada lagi serangan maupun penjajahan terhadap Gaza dan Palestina secara keseluruhan.

"Mandat pasukan stabilisasi adalah menjaga perdamaian, bukan mengambil alih kendali wilayah. Biarlah warga Gaza yang mengatur wilayah mereka sendiri,” tegasnya.

Baca juga artikel terkait PASUKAN PERDAMAIAN atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Andrian Pratama Taher