tirto.id - Selama ini, yang umum diketahui adalah ada dua jenis kolesterol. Ada kolesterol baik, ada kolesterol jahat. LDL, atau Low-Density Lipoprotein, adalah kolesterol jahat yang menumpuk di dinding pembuluh darah. HDL, atau High-Density Lipoprotein, adalah kolesterol baik yang membantu membersihkannya. Dengan begitu, jantung kita akan aman apabila kadar LDL rendah tetapi HDL tinggi.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Børge Nordestgaard, seorang profesor dari Universitas Kopenhagen, Denmark, sekaligus pakar kolesterol terkemuka, menyebut bahwa sebenarnya ada tiga jenis kolesterol:The Good, the Bad, and the Ugly, persis seperti judul film spaghetti western yang dibintangi Clint Eastwood itu.
The good, atau yang baik, tentu saja adalah HDL, sementara the bad adalah LDL. Lalu, siapakah the ugly yang dimaksud oleh Nordestgaard?
Mari kita mundur ke tahun 1973. Seorang ilmuwan Amerika Serikat (AS) bernama Donald B. Zilversmit berhipotesis, kendatipun partikel raksasa pengangkut lemak makanan (disebut kilomikron) terlalu besar untuk menyumbat arteri, ukuran mereka akan terus mengecil. Saat bergerak bersama aliran darah, partikel-partikel itu akan terdisintegrasi ke dalam ukuran-ukuran lebih kecil yang disebut remnant, 'sisa'. Menurutnya, ukuran sisa-sisa itu cukup kecil untuk akhirnya bisa masuk ke dinding arteri, terperangkap di sana, lalu membentuk plak berbahaya penyebab serangan jantung.
Namun, hipotesis Zilversmit tidak langsung disambut hangat. Dunia ilmu pengetahuan butuh waktu beberapa dekade untuk menanggapi temuannya dengan serius. Kini, komunitas ilmiah global akhirnya sepakat bahwa ia benar, dan yang ia temukan itu sekarang disebut remnant cholesterol 'kolesterol sisa'. Itulah the ugly yang dimaksud Nordestgaard.
Seberapa Berbahaya Kolesterol Sisa?
Untuk memahami alasan kolesterol sisa begitu berbahaya, kita perlu memahami proses pencernaan setiap kali kita makan.
Ketika diserap oleh usus, lemak makanan dikemas menjadi partikel-partikel raksasa berisi trigliserida yang disebut kilomikron, lalu dilepas ke aliran darah. Di sepanjang perjalanan, enzim bernama lipoprotein lipase menggerogoti trigliserida dari dalam partikel itu lalu mengantarkannya ke otot dan jaringan tubuh sebagai bahan bakar. Partikelnya pun makin kecil dan makin kecil.
Yang tersisa setelah proses itu adalah cangkang yang padat kolesterol. Itulah yang disebut kolesterol sisa. Pada orang sehat, hati akan mengenali dan membersihkan partikel-partikel ini dengan cepat. Tapi jika tubuh memproduksi terlalu banyak, atau jika proses pembersihan terganggu lantaran resistensi insulin, kegemukan, atau disfungsi hati, partikel-partikel itu menumpuk di aliran darah dan mulai menerobos dinding arteri.
Di situlah bahayanya bermula. Tidak seperti LDL, yang harus mengalami modifikasi oksidatif terlebih dahulu sebelum bisa dimakan oleh sel imun, partikel kolesterol sisa langsung ditelan oleh makrofag (sel darah putih dari sistem imun yang menelan dan mencerna patogen, seperti sel kanker, mikroba, puing-puing seluler, dan zat asing) tanpa proses awal apa pun. Makrofag kemudian mati keracunan kolesterol dan membentuk foam cell 'sel busa', yang menjadi cikal bakal plak aterosklerotik. Selain itu, kolesterol sisa juga memicu peradangan sistemik.
Sederhananya, kolesterol sisa tidak hanya menyumbat, melainkan membakar dari dalam. "LDL adalah yang kolesterol jahat, tapi kolesterol sisa lebih jahat lagi," kata Nordestgaard. Menurutnya, selama ini kolesterol sisa diabaikan oleh banyak ahli kesehatan, dan itu adalah kesalahan besar.
Sebuah studi, yang dilakukan terhadap 87.192 orang dari Copenhagen General Population Study, menemukan bahwa individu dengan kadar kolesterol sisa di atas 1 mmol/L (sekitar 39 mg/dL), yang mencakup 22 persen dari populasi, memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dua kali lebih tinggi dibanding mereka yang kadarnya di bawah 0,5 mmol/L. Peningkatan risiko tersebut tidak ditemukan untuk kematian akibat kanker, melainkan spesifik pada penyakit jantung dan penyebab lainnya, termasuk infeksi dan penyakit endokrinologi.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah temuan soal bahaya kolesterol sisa, bahkan ketika LDL sudah terkontrol dengan baik. Dalam sebuah studi yang menggabungkan data dari tiga kelompok besar di AS dengan total 17.532 peserta, ditemukan bahwa kelompok dengan kolesterol sisa tinggi tapi LDL rendah tetap memiliki risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik lebih tinggi secara signifikan, sementara kelompok dengan LDL tinggi tapi kolesterol sisa rendah tidak menunjukkan peningkatan risiko bermakna. Dengan kata lain, seberapa pun kadar LDL yang ada, kolesterol sisa akan memberi ancaman secara terpisah.
Temuan serupa datang dari Tiongkok. Sebuah studi yang melibatkan 98.967 partisipan menemukan, tingginya kolesterol sisa berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko stroke iskemik, tapi tidak dengan stroke hemoragik.
Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah ke otak tersumbat, biasanya oleh gumpalan darah atau plak. Sementara itu, stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah sehingga menyebabkan perdarahan.
Keduanya sama-sama berbahaya. Akan tetapi, penyebab dan mekanismenya berbeda. Kolesterol sisa berkaitan dengan stroke iskemik karena ia berkontribusi pada pembentukan plak aterosklerotik yang bisa menyumbat aliran darah, tapi tidak secara langsung terkait dengan pecahnya pembuluh darah. Analisis lebih lanjut dalam studi tersebut menunjukkan, orang-orang dengan LDL rendah tapi kolesterol sisa tinggi memiliki risiko stroke 15 persen lebih tinggi dibanding yang kadar keduanya rendah.
Risiko tersebut tidak hanya mengintai orang tua. Sebuah studi di Korea Selatan, yang melibatkan lebih dari 4,3 juta peserta menemukan, hubungan antara kolesterol sisa tinggi dan risiko kardiovaskular justru paling kuat pada kelompok usia muda, yakni 20 hingga 39 tahun. Mereka yang berada di kuartil tertinggi kolesterol sisa memiliki risiko serangan jantung 42 persen lebih tinggi dan risiko kematian kardiovaskular hingga 119 persen lebih tinggi dibanding kuartil terendah, bahkan ketika faktor-faktor lainnya sudah terkontrol.
Pada penderita diabetes tipe 1, kolesterol sisa menjadi perhatian khusus karena mereka sudah berisiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular, bahkan ketika LDL-nya sudah mencapai target yang disarankan. Penelitian menunjukkan, kadar kolesterol sisa yang tinggi pada penderita diabetes tipe 1 berhubungan dengan kontrol glikemik yang buruk, nefropati diabetik, kaki diabetik, dan disfungsi miokardial subklinis. itu memperkuat argumen bahwa penilaian risiko kardiovaskular pada populasi tersebut tidak boleh hanya bertumpu pada LDL.
Lalu bagaimana cara mengetahui kadar kolesterol sisa?
Kolesterol sisa bisa dihitung dari hasil tes lipid standar dengan rumus sederhana, yakni total kolesterol dikurangi HDL dikurangi LDL. Jika hasilnya di atas 24 mg/dL, risiko Anda terhadap penyakit jantung dan stroke mulai meningkat secara bermakna.
Cara yang lebih mudah lagi, menurut Nordestgaard, adalah mengukur kadar trigliserida, karena trigliserida dan kolesterol sisa punya korelasi erat. Trigliserida di bawah 150 mg/dL umumnya aman, sementara di atas 200 mg/dL sudah masuk kategori mengkhawatirkan.

Mengontrol Kolesterol Sisa dengan Gaya Hidup
Kabar baiknya, kolesterol sisa sangat bisa dikontrol dengan gaya hidup. Berbeda dari LDL yang lebih banyak ditentukan oleh faktor genetik, kolesterol sisa sangat dipengaruhi oleh makanan, aktivitas fisik, dan berat badan.
Mengurangi konsumsi karbohidrat olahan dan gula adalah langkah paling penting. Sebab, kelebihan gula akan dikonversi oleh hati menjadi trigliserida, yang kemudian mengisi partikel-partikel besar itu. Lemak jenuh, alkohol, dan gaya hidup sedentari, juga dapat meningkatkan kadar kolesterol sisa.
Olahraga aerobik secara konsisten terbukti menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan kemampuan tubuh membersihkan partikel-partikel sisa lebih cepat dari aliran darah. Penelitian dari Copenhagen General Population Study menemukan, gaya hidup tidak sehat, termasuk merokok, kurang olahraga, dan pola makan buruk, berhubungan dengan kadar kolesterol sisa yang lebih tinggi. Kolesterol sisa itu menyumbang 12 hingga 21 persen risiko serangan jantung yang dikaitkan dengan perilaku-perilaku tersebut.
Dari sisi pengobatan, situasinya lebih rumit. Statin, obat penurun kolesterol, yang paling banyak diresepkan di dunia, bekerja sangat efektif menurunkan LDL, tapi kurang efektif terhadap kolesterol sisa. Jika statin mampu menurunkan LDL hingga 20 persen, pengaruhnya terhadap kolesterol sisa hanya sekitar 10 persen. Beberapa uji klinis dengan obat-obatan penurun trigliserida, seperti fibrat dan pemafibrat, berhasil menurunkan kadar kolesterol sisa secara signifikan, tapi insiden kardiovaskular tidak menurun signifikan.
Sebenarnya, ada harapan dari obat generasi berikutnya. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah terapi baru berbasis teknologi RNA interference dan antisense oligonucleotide sedang dikembangkan untuk menarget protein-protein kunci dalam metabolisme lemak, dengan kemampuan menurunkan kolesterol sisa hingga 50 hingga 80 persen.
Sayangnya, obat-obat tersebut belum tersedia luas. Para peneliti juga masih menunggu hasil uji klinis fase ketiga, yang akan membuktikan ada atau tidaknya pengurangan risiko serangan jantung dan strok jika kadar kolesterol sisa diturunkan.
Dengan demikian, langkah terbaik yang bisa diambil sekarang adalah bersikap proaktif melakukan tindakan preventif. Kolesterol sisa memang berbahaya, tetapi bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































