Menuju konten utama
GWS

Kita Terlahir dari Rahim Ketakutan

Jika bukan muara laku manusia, bisa jadi ketakutan justru seperti gambaran Rage Against The Machine dalam lagunya, bahwa fear is your only god.

Kita Terlahir dari Rahim Ketakutan
Ilustrasi takut. FOTO/iSTockphoto

tirto.id - Rasa takut membuat kita bisa bertahan hidup. Dan memang pada dasarnya, tindak tanduk manusia dilandasi oleh ketakutan, baik secara sadar maupun tidak.

"Emosi tertua dan terkuat dari umat manusia adalah rasa takut, dan jenis ketakutan tertua sekaligus terkuat adalah ketakutan akan ketidaktahuan," begitu kata Howard Phillips Lovecraft, penulis asal Amerika Serikat, sebagaimana dikutip dari buku Knowing Fear (2007: 4).

Contoh sederhananya, kita menabung demi mengatasi ketakutan datangnya masa depan yang penuh ketidakpastian ekonomi; sederhananya agar bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari di waktu kemudian.

Sebagian besar dari kita juga bereproduksi karena rasa takut, entah takut tak ada yang merawat dirinya di masa tua; takut dicemooh tetangga; takut dianggap mandul; ataupun yang paling purba dan alami, takut gen-nya terputus.

Lalu, pada suatu titik, menurut Bertrand Russel dalam Why I am not a Christian (1957: 2), manusia akhirnya mencari validasi atas kebaikan yang telah dilakukannya semasa hidup serta memburu alkisah kehidupan pasca-kematian melalui agama, sebab tak tahu hal yang bakal terjadi setelah mati.

Jika ditarik kembali ke masa purba, dulu Homo sapiens saling berkelompok dan bekerja sama demi mengatasi ketakutannya terhadap hewan buas cum predator yang jauh lebih besar dan kuat. Berkat kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan berkelompok, manusia mulai bisa mengatasi ketakutan terhadap hewan buas. Akan tetapi, muncul ketakutan lain: kehabisan makanan. Karenanya, manusia mulai menetap, tak lagi nomaden, menanam bahan pangan seluas mungkin, menimbung pasokan sebanyak mungkin.

Ketika menyadari bahwa upaya berkelompok dan bekerja sama adalah hal yang mungkin dan solutif, kelompok itu diperbesar, membentuk entitas abstrak bernama desa, lalu membengkak jadi kerajaan dan negara. Lalu, negara menciptakan kelompok militer karena takut ancaman dari negara lain. Bahkan, tak sedikit di antaranya yang menyerang untuk "bertahan"; mereka menginvasi negara yang berpotensi bakal menyerang--meski itu belum tentu terjadi.

Pada intinya, meski wawasan tentang kehidupan dan kemungkinan mengatasi ketidaktahuan lebih besar, tak berarti ketakutan manusia lantas hilang. Bahkan, ketakutan itu sering kali berubah jadi kewaspadaan berlebihan dan menjelma bahaya bagi yang lain.

Lalu, bagaimana sebenarnya rasa takut membentuk manusia?

Ilustrasi takut

Ilustrasi takut. FOTO/iSTockphoto

Sumber Rasa Takut dalam Diri Manusia

Bayangkan ketika Homo sapiens kali pertama keluar dari gua, mereka amat berhati-hati terhadap serangan hewan buas, apalagi penyakit mematikan yang mengintai tak kasat mata. Ketidaktahuan tentang kekuatan "lawan" itulah yang membuat manusia purba lebih waspada dibanding ketika mereka berada dalam persembunyian.

Lalu, saat suatu hari muncul hewan buas di hadapannya, Homo sapiens dengan cepat memilih lari terbirit-birit atau, jika sudah punya persiapan matang, melawannya secara jantan. Respons seketika itu lahir secara alamiah dalam tubuh manusia, berkat bagian otak yang disebut amigdala dan struktur lainnya.

Amigdala adalah bagian otak yang terletak jauh di dalam lobus temporal otak, di area samping dekat telinga. Ia berperan penting dalam pendeteksian ancaman, pemrosesan respons bertahan hidup, dan ikut andil dalam memori emosional.

Namun, struktur ini tidak hanya berperan sebagai sensor emosional (rasa takut) belaka, melainkan pusat yang mengoordinasi respons terhadap bahaya secara cepat dan efisien. Karenanya, tindak lanjut berupa melawan yang dilakukan Homo sapiens hanya akan dilakukan jika mereka memang punya perhitungan soal persiapan.

Prosesnya kurang lebih begini: saat amigdala mendeteksi ancaman, misalnya melalui yang melihat bahaya di hadapannya, ia akan mengirimkan sinyal ke struktur otak yang lain, seperti hipotalamus dan batang otak. Lalu, dua bagian itulah yang memantik respons cepat secara fisiologis fight-or-flight (melawan atau kabur).

Seiring waktu, manusia purba dapat mengubah ketakutan dalam dirinya itu menjadi sebuah "kekuatan". Utamanya "kekuatan" untuk bertahan hidup di Bumi dan lolos dari seleksi alam. Para ahli mendefinisikannya sebagai kecerdasan bertahan hidup, yakni kemampuan organisme mengontrol lingkungannya, baik untuk mengatasi ancaman lokal maupun beradaptasi dengan ancaman baru.

Proses adaptasi terus-menerus itulah yang memungkinkan terjadinya Efek Baldwin, yakni evolusi perilaku melalui pembelajaran. Berkat itu, manusia, sebagai satu-satunya makhluk yang mampu berpikir dan belajar, mampu bertahan dengan cara meningkatkan kemampuan menghindari atau melawan predator. Lalu, manusia purba yang bertahan hidup itu menurunkan pengetahuannya kepada gen turunannya.

Buah dari ketakutan yang muncul dalam diri manusia itu tak hanya bersifat reaksioner berupa upaya melawan balik atau kabur. Ia tumbuh menjadi upaya antisipasi sebab manusia, menurut teori evolusi, perlahan mendeteksi "keinginan jahat dari orang lain".

Dalam studinya, Dean Mobbs dan kolega menyebut proses tersebut sebagai Survival Optimization System (SOS). Dengan itu, manusia mampu mengimajinasikan ancaman di masa depan (baik langsung maupun tidak), mengurangi ancaman dengan mengubah lingkungan dan membentuk kelompok sosial, merancang strategi bertahan hidup, serta membangun informasi baru tentang ancaman dengan mengolah data.

Sejak itu pulalah ketakutan manusia justru melahirkan ancaman bagi manusia lain dan makhluk hidup nonmanusia.

Ilustrasi takut

Ilustrasi takut. FOTO/iSTockphoto

Ketakutan Manusia Justru Menjelma Ancaman

Rasa takut yang berlebihan dalam diri manusia dapat berubah diagnosisnya menjadi fobia atau bahkan paranoia. Dan hal itu justru dapat berbalik berimplikasi negatif bagi orang itu sendiri, juga orang lain.

Studi yang terbit di jurnal BMC Pregnancy and Childbirth (2012), misalnya, menemukan bahwa perempuan yang mengidentifikasi diri sebagai penakut cenderung memiliki pengalaman persalinan buruk. Tokofobia--ketakutan berlebihan terhadap kehamilan dan persalinan--inilah yang menurut Philip Hunter berperan mengurangi angka kelahiran di banyak negara maju.

Ada juga bukti dari studi lain yang menyebut, ketakutan akan persalinan dapat memengaruhi janin dan berdampak jangka panjang terhadap fenomena pemrograman janin.

Tentu saja contoh kasus implikasi negatif dari ketakutan manusia di atas belum termasuk fenomena masalah kesehatan mental, yang tidak jarang berujung pada perilaku destruktif dan kematian pada orang itu sendiri.

Di masa lalu, bahkan ketakutan dapat menjelma menjadi perlakuan diskriminasi. Contohnya dapat dilihat dalam kasus segregasi orang kulit putih dan kulit hitam. Orang kulit putih cenderung menghindari orang kulit hitam karena mereka mengasosiasikan kalangan kulit hitam sebagai sumber penyakit dan pelaku kekerasan (Sapiens, 2011: 159). Ada pula ketakutan yang merupa penghindaran terhadap masyarakat minoritas, misalnya LGBT, karena alasan sama: menganggap mereka sebagai sumber penyakit.

Alih-alih konstruktif, ketakutan dalam diri manusia yang mewujud perilaku diskriminatif itu justru dapat merugikan orang lain.

Melintas ke persoalan politik, ketakutan yang mewabah ke otak penguasa juga sangat mungkin membawa dampak luas. Sebagai misal, karena menganggap orang yang bersimpang sebagai ancaman, pemimpin diktator memilih untuk menyingkirkan pihak bersangkutan. Atau, mereka hanya “memilih” pihak-pihak yang mau tunduk kepadanya, alih-alih orang kritis, tersebab ketakutan akan digulingkan dan disingkirkan.

Dalam tatanan lintas negara, ketakutan bahkan dapat menjelma moncong senjata ketika dihadapkan pada urusan politik egoistis. Perang Sipil Guatemala, misalnya, lahir dari ketakutan AS dan pemerintahan militer Guatemala terhadap komunisme. Hal sama juga terjadi di masa Orde Baru, Indonesia, yang menyebabkan ratusan ribu orang dibunuh tersebab fobia komunis ciptaan rezim.

Amerika Serikat, dalam contoh lain, menginvasi Irak pada 2003 dengan alasan pembelaan diri terhadap “ancaman dahsyat” demi keberlangsungan hidup umat manusia. "Ancaman" yang dimaksud adalah senjata pemusnah massal yang dituduhkan diproduksi oleh Irak. Tapi kemudian, ketika tuduhannya terbantahkan, AS tetap mampu berkilah dengan mengalihkan retorikanya pada sesuatu yang disebut "kerindungan terhadap demokrasi". (Who Rules The World, 2016: 103)

Jauh sebelumnya, Negeri Abang Sam telah lebih dulu mengobarkan perang Irak-Iran atas tuduhan yang sama, bahwa Iran punya senjata pemusnah massal. Sebagaimana dikatakan oleh Noam Chomsky (hal. 347), AS bahkan mendukung Saddam Hussein dalam perang tersebut, yang terjadi selama kurang lebih sewindu pada dekade 1980-an.

Tak cukup sampai di situ, Washington juga melakukan cyber war melawan Iran--bahkan mendeklarasikannya dengan bangga--serta mempersulit keterlibatan Iran dalam sistem keuangan internasional (hal. 348).

Alasan purba Israel menginvasi tanah Palestina pun sama. Ketika pertama kali bermigrasi dari segala penjuru Eropa menuju Palestina, kaum Yahudi hidup tenang bersama masyarakat setempat. Namun, itu hanya sesaat. Pada waktu kemudian, mereka takut bakal terusir. Dan karenanya mereka berupaya sebisa mungkin mengambil kontrol atas semuanya, dari penguasaan tanah sampai kebijakan. Singkatnya, mereka ingin menjadikan Palestina sebagai negara Israel mutlak.

Yuval Diskin, mantan kepala badan keamanan dalam negeri Israel, mewanti-wanti Pemerintah Israel bahwa opsi two state solution hanya akan menimbulkan "ancaman eksistensial langsung terhadap penghapusan Israel sebagai negara Yahudi dan demokrasi." (hal. 206)

Semuanya terjadi atas dasar ketakutan (yang diperalat).

Seiring waktu evolusi berlalu, kemampuan manusia dalam "mengimajinasikan" dan "memprediksi" ancaman justru berbalik menjadi bahaya bagi diri sendiri dan makhluk lain. Barangkali lebih tepatnya, kemampuan itu dimanipulasi oleh manusia untuk melegitimasi tindakan destruktifnya. Namun yang jelas, ketakutan lahir secara alami dalam diri manusia dan dapat merupa apa saja sekehendak manusia.

Baca juga artikel terkait KETAKUTAN atau tulisan lainnya dari Fadli Nasrudin

tirto.id - GWS
Penulis: Fadli Nasrudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi