Kisah Hidup Souphanouvong: Pangeran Merah Pembentuk Komunisme Laos

Oleh: Tyson Tirta - 3 April 2021
Dibaca Normal 3 menit
Souphanouvong belajar komunisme di Perancis dan Vietnam. Mendirikan rezim komunis usai menang Perang Sipil Laos.
tirto.id - Dalam sejarah revolusi di wilayah Indocina, Souphanouvong adalah sosok penting dan terkenal selain pemimpin Vietnam Ho Chi Minh. Souphanouvong termasuk generasi terakhir monarki Laos yang eksistensinya tamat pada 1975. Meski lahir dalam keluarga monarki yang konservatif, Souphanouvong belajar komunisme sejak muda dan kemudian dikenal sebagai Pangeran Merah.

Usai Perang Dunia II, putra Pangeran Boun Khong dari Luang Prabang ini ikut gerakan nasionalis menentang kembalinya kolonialisme Perancis di Laos. Lalu, setelah negaranya merdeka, Souphanouvong turut membantu Ho Chi Minh dan gerilyawan Vietcong mengusir Amerika Serikat dari Indocina.

Souphanouvong lahir di Luang Prabang, Laos, pada 13 Juli 1909. Sang Pangeran mulai tertarik pada Marxisme saat belajar teknik sipil di Perancis pada 1930-an.

Dalam obituari Souphanouvong yang terbit di The New York Times tertulis, “Meskipun tidak pernah menyebut dirinya komunis, Souphanouvong mengaku mempelajari Komunisme saat bekerja selama setahun di dermaga Le Havre, Perancis, setelah menyelesaikan kuliah.”

Souphanouvong lalu dikirim oleh Pemerintah Kolonial Perancis ke Vietnam pada kurun 1938 hingga 1945. Souphanouvong ikut serta dalam proyek pembangunan jalan dan jembatan di sana. Di masa itu juga dia mengalami sendiri perkembangan ideologi Komunis di Vietnam.

Pengalaman itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan utamanya membangun gerakan komunis di Laos pada 1950-an.

Jalan Menuju Kekuasaan

Ceritanya, usai Perang Dunia II, Pangeran Souphanouvong bergabung dalam barisan nasionalis penentang kolonialisme Perancis. Gerakan nasionalis itu lantas membuat pemerintahan sementara yang terpusat di Kota Vientiane. Dalam pemerintahan sementara itu, Souphanouvong dipercaya sebagai menteri pertahanan.

Akan tetapi, pada 1947 menjalin kontak dengan Viet Minh, sebuah koalisi politik independen bentukan Ho Chi Minh, karena tak puas dengan gerakan nasionalis. Viet Minh pun membantu Pangeran Souphanouvong menggelar konferensi Lao Freedom Front.

Konferensi ini kemudian berbuah pendirian Neo Lao Issara—kemudian lebih populer disebut Pathet Lao—yang berhaluan komunis pada 1950. Pathet Lao dan Viet Minh punya satu kesamaan tujuan: mengusir Perancis dari Indocina.

Laos akhirnya merdeka penuh dari Perancis setelah Konferensi Jenewa 1954. Souphanouvong lantas bekerja sama dengan saudara tirinya, Pangeran Souvanna Phouma, untuk membentuk pemerintahan koalisi di Vientianne.

Souvanna Phouma selaku perdana menteri memberi dua kursi bagi golongan komunis di dalam kabinetnya. Sebagai balasan, Souphanouvong memberikan dukungan dengan memasukkan 1.500 pasukan komunisnya ke dalam militer Laos. Souphanouvong sendiri diangkat menjadi menteri urusan perencanaan, rekonstruksi, dan urbanisasi—sesuai dengan latar belakang pendidikannya di Perancis.

Namun, koalisi itu pecah pada 1959. Souvanna Phouma kemudian membentuk pemerintahan sayap kanan dan Pathet Lao segera menjadi oposisinya. Konflik politik itu memaksa Souphanouvong bersembunyi di Laos bagian utara yang dikuasai Pathet Lao.

Perang Sipil Laos pun dimulai. Phatet Lao sebagai oposisi berhadapan dengan kelompok promonarki pimpinan Pangeran Boun Oum dan kelompok netral Pangeran Souvanna Phouma.

Perang sipil itu tentu saja melibatkan pula dua adidaya Perang Dingin, Amerika dan Uni Soviet. Kelompok promonarki yang konservatif mendapat dukungan dari Amerika Serikat. Sementara itu, Pathet Lao mendapat sokongan dari Uni Soviet dan Vietnam Utara.

Pada 1962, atas prakarsa Raja Sisavang Vatthana sebuah pemerintahan koalisi Tiga Pangeran sempat terbentuk. Lagi-lagi, pemerintahan koalisi itu tak bertahan lama. Pada 1964, Pathet Lao menolak segala macam koalisi dengan pihak promonarki dan netralis.

Perang Sipil Laos terus terjadi hingga 1975. Souphanouvong dan Pathet Lao perlahan muncul sebagai pemenang.

Bersama Pathet Lao dan sayap bersenjatanya Neo Lao Hak Xat, dia berhasil mendesak pasukan pemerintah sebelum akhirnya menguasi Laos. Situasi politik kawasan juga sangat menguntungkan kaum komunis Laos. Pasalnya, seiring dengan kemenangan komunis Vietnam, pengaruh Amerika Serikat di Laos pun ikut melemah.

Pada Agustus 1975, Pathet Lao memasuki Vientiane dan melumpuhkan pemerintahan Pangeran Souvanna Phouma. Raja Sisavang Vatthana pun tak mampu berbuat apa-apa. Pada Desember, sang Raja dipaksa turun takhta.

Pangeran Souphanouvong lalu mendeklarasikan Republik Demokratik Laos. Dia lalu diangkat menjadi presiden pertama Laos komunis.

Infografik Pangeran Souphanouvong
Infografik Pangeran Souphanouvong. tirto.id/Fuad

Membentuk Komunisme Laos

Sebagaimana partai komunis lainnya di dunia, Pathet Lao di bawah Souphanouvong memiliki proyek jangka panjang membentuk organisasi pemuda. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga warisan ideologi Komunis pada generasi berikutnya.

Antropolog dan sejarawan Australia Grant Evans dalam A Short History of Laos: The land in Between (2002, hlm. 130) menulis, “Organisasi kepemudaan sangat penting dalam perjuangan Pathet Lao. para pemuda dipandang sebagai bibit baru dalam kehidupan sosial. Banyak dari mereka dikirim ke Vietnam untuk bersekolah terutama di bidang-bidang seperti mekanik, kedokteran, dan lainnya. Selain itu, mereka dikirim ke sana agar bisa menerima doktrin politik.”

Sebelum perang sipil pecah, Pathet Lao membentuk kantong-kantong perkumpulan rakyat yang tersebar di desa-desa. Lewat kantong-kantong itulah Pathet Lao menanamkan pengaruhnya ke seluruh negeri.

Selain Pathet Lao, ada pula partai kiri Lao’s People Revolutionary Party (LPRP) yang dibentuk pada 1955. Pendirinya adalah beberapa mantan anggota Partai Komunis Indocina. Setelah Souphanouvong berkuasa, Ketua LPRP Kaysone Phomvihane menempati kursi perdana menteri dan menerapkan sistem negara satu partai di Laos.

Komunis Laos berangsur menjadi rezim yang solid. Souphanouvong menjadi figur politik paling penting dalam pemerintahan. Kursi presiden dia duduki selama 16 tahun hingga 1991.

Perannya sebagai presiden membawa berbagai kontroversi tersendiri dalam politik dalam negeri Laos. Banyak juga anggota partainya tak nyaman melihat kedekatannya dengan politisi Vietnam. Mereka menganggap Vietnam hanya memanfaatkan status Souphanouvong selaku presiden dan mantan pangeran.

Mantan petinggi Pathet Lao bahkan menyebut, Souphanouvong sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi pengambil keputusan utama dalam Pathet Lao. Peneliti politik dari University of Pittsburgh Joseph J. Zasloff melacak pendapat orang-orang di sekitar Souphanouvong itu dan merangkumnya dalam laporan berjudul The Pathet Lao: Leadership and Organization (1973:115).

“Souphanouvong sebenarnya tidak memiliki otoritas dan pengaruh besar seperti yang digembar-gemborkan oleh Pathet Lao dan partai komunis lain, seperti Hanoi, Peking, dan lain-lain,” tulis Zasloff.

Setelah kekuasaan rezim komunis di Laos berjalan lebih dari satu dekade, kesehatan Souphanouvong justru melemah. Pada 1986, dia tidak lagi aktif sebagai presiden. Phoumi Vongvichit, petinggi Pathet Lao, lantas naik menjadi pejabat presiden sementara dan Souphanouvong pun menjadi presiden non-aktif. Pada 1991, Kaysone Phomvihane pun naik menjadi presiden menggantikan Souphanouvong secara resmi. Souphanouvong meninggal di Vientiane pada 9 Januari 1995.

Baca juga artikel terkait KOMUNISME atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Politik)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight