Menuju konten utama

Kisah Binar Baca: Perpustakaan Mini Bogor yang Lawan Buta Aksara

Berawal dari pandemi, Jihan bangun perpustakaan Binar Baca di Bogor. Sediakan akses buku anak premium gratis demi meningkatkan minat baca.

Kisah Binar Baca: Perpustakaan Mini Bogor yang Lawan Buta Aksara
Anak-anak sedang asyik membaca buku di perpustakaan Binar Baca di Kota Bogor, Jawa Barat. tirto.id/Bayu Septianto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sore hari di Kota Bogor, saat sinar matahari mulai meredup, seorang ibu sambil menggandeng dua anaknya terlihat penasaran dengan bilik kaca di sebuah rumah. Rumah tersebut dikelilingi rindangnya pohon-pohon besar di kawasan perumahan Menteng Asri, Kecamatan Bogor Barat.

"Permisi, mau tanya ini perpustakaan ya? Apakah masih buka?" tanya ibu itu saat jam menunjukkan pukul 17.00 WIB.

"Betul Ibu, tapi maaf sekarang sudah tutup. Kami buka dari jam 10.00 sampai jam 16.00 WIB, dari Selasa sampai Sabtu. Minggu dan Senin kita libur," jawab Jihan (35), pemilik dari perpustakaan Binar Baca, Sabtu (13/6/2026).

"Oh begitu. Tapi ini gratis kan, ya?" tanya lagi si ibu yang terlihat lelah usai berjalan kaki bersama kedua anaknya.

Jihan pun menjelaskan bahwa perpustakaan yang dikelolanya ini gratis alias tanpa biaya bila pengunjung hanya ingin sekadar berkunjung dan membaca buku di tempat.

"Tidak ada biaya, bisa membaca buku dan memanfaatkan mainan edukatif yang ada di sini," kata Jihan.

Berawal dari Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 yang menyebabkan ruang gerak serba terbatas beberapa tahun lalu menumbuhkan ide bagi Jihan untuk membuat aktivitas yang bermanfaat bagi keluarga. Salah satunya adalah aktivitas membaca.

Bagi Jihan, membaca adalah kegiatan yang tidak memerlukan banyak tenaga, tetapi bisa menambah ilmu dan pengetahuan. Berbagai macam buku dibelinya saat kondisi pandemi demi menumbuhkan minat baca, terutama bagi anak-anaknya.

Jihan bercerita, di antara buku yang kerap dibelinya adalah buku impor bertemakan islami. Buku-buku tersebut membuatnya tertarik karena bahasa yang disampaikan tidak menggurui atau menakuti anak-anak. Hal ini berbeda dari beberapa buku islami lokal saat itu yang cenderung kaku.

"Kebanyakan kalau buku lokal pada saat itu masih banyak yang menggurui. Misalnya, kita sebagai umat Islam harus A, B, C, kan anak-anak jadi bosan. Nah, kalau yang buku-buku luar negeri tuh memanusiakan anak, menurut aku," terang Jihan.

Jihan pun berpikir bahwa setiap orang tua seharusnya bisa memberikan buku-buku berkualitas seperti itu untuk anak mereka. Namun, harganya memang relatif lebih mahal dibandingkan buku anak pada umumnya.

Setelah berdiskusi dengan suaminya, Seisar, Jihan tergerak membuat wadah agar setiap orang bisa mengakses buku yang pernah dibelinya. Tak sekadar meminjamkan secara cuma-cuma di tempat, ia juga memutar otak bagaimana agar gerakan ini bisa berkelanjutan secara finansial melalui sistem sewa.

"Dari sinilah tercetus ide membuat Binar Baca pada Desember 2020. Mulai kami luncurkan di media sosial Instagram," jelas Jihan. melalui platform tersebut, ia aktif membuat konten terkait literasi anak hingga layanannya meluas secara daring ke berbagai kota di Indonesia.

jihan;

Jihan (35), mendirikan Perpustakaan Binar Baca di rumahnya di Perumahan Menteng Asri, Kota Bogor demi meningkatkan minat baca pada anak.

Konsep Ruang Nyaman dan Sistem Keanggotaan

Baru pada September 2023, Jihan membangun perpustakaan fisik berupa ruang mini berukuran 2x7 meter di sisi timur rumahnya.

Ruangan ini didesain senyaman mungkin agar pengunjung merasa seperti di rumah sendiri. Mulai dari pemilihan warna dinding putih-jingga yang cerah, hingga tatanan rak buku yang ramah anak. Ada pula fasilitas bean bag dan beberapa bantal di lantai agar anak-anak bisa memosisikan diri dengan santai saat membaca.

Sistem sewa buku yang diterapkan Jihan ternyata efektif menjangkau pembaca hingga ke luar Jabodetabek, bahkan sampai ke Provinsi Lampung. Sementara membaca di tempat digratiskan, tarif sewa rumahan dikenakan jika buku dibawa pulang.

Jihan menyediakan opsi non-membership berkisar Rp35.000 hingga Rp70.000 tergantung kategori buku, serta paket membership bulanan dari Rp170.000 hingga Rp450.000.

Bagi Jihan, esensi Binar Baca tidak hanya berhenti pada peminjaman buku, tetapi juga aktivitas interaktif seperti book exploration.

"Jadi kadang misalnya orang-orang mengenal Bogor itu Kota Hujan, lalu kita baca buku tentang hujan, dan kegiatan mainnya terinspirasi dari buku itu. Misalnya main air yang berhubungan dengan hujan atau sensory play," tambahnya.

Menggandeng Ekspedisi Tepercaya untuk Distribusi

Tantangan utama di awal merintis Binar Baca adalah proses pengiriman. Jihan sempat mengalami pengalaman buruk kehilangan buku akibat tergiur tarif murah dari salah satu jasa ekspedisi.

"Buku hilang itu bikin kapok banget. Daripada mencari yang murah, mending yang pasti-pasti saja pilihnya," kenang Jihan.

Dari pengalaman itu, Jihan akhirnya menambatkan pilihan pada JNE karena rekam jejaknya yang aman dalam menjaga kondisi buku premium miliknya tetap mulus hingga kembali lagi ke perpustakaan.

Kehadiran JNE di Kota Bogor sendiri kini ditopang oleh jaringan kuat yang terdiri atas 207 agen penjualan (point of sales), 1 gedung utama di Karadenan, 2 Smart Point Center (SPC), serta 12 layanan Super Speed.

Marketing Unit Head JNE Bogor, M. Alfian Saputra, mengapresiasi langkah Binar Baca yang sukses mengoptimalkan logistik untuk mengirimkan literasi ke berbagai daerah.

"Selama ini JNE dan masyarakat Bogor saling bersinergi, khususnya para pelaku usaha, di mana produk mereka bisa menjangkau pemasaran yang lebih luas," ujar Alfian.

Perpustakaan Binar Baca

Pendiri Perpustakaan Binar Baca, Jihan, sedang membuka paket kiriman pengembalian buku dari pelanggannya melalui ekspedisi JNE. tirto.id/bayu Septianto

Mimpi Akses Buku Berkualitas untuk Indonesia

Bagi Jihan, benang kusut literasi di Indonesia bukan sekadar soal minat baca, melainkan rendahnya akses masyarakat terhadap buku yang berkualitas karena faktor harga.

Jihan menyimpan mimpi besar agar perpustakaan rumahan seperti miliknya bisa saling terhubung membentuk jejaring kuat di Kota Bogor, berkolaborasi dengan Perpustakaan Daerah maupun Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk saling melengkapi.

"Apa yang saya lakukan memang belum bisa langsung menyelesaikan masalah literasi nasional. Tapi setidaknya, saya yakin sudah memulai satu langkah nyata untuk anak-anak kita," pungkas Jihan optimistis.

Baca juga artikel terkait PERPUSTAKAAN atau tulisan lainnya dari Bayu Septianto

tirto.id - News Plus
Reporter: Bayu Septianto
Penulis: Bayu Septianto
Editor: Rina Nurjanah