tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim akan ada pemadaman listrik secara global selama 9 hari dimulai pada 18 Juli 2026 sebagai salah satu agenda 2030 dan diam diklaim sebagai solusi dari protokol pemadaman tersebut.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Sutri Andini” (arsip) pada Selasa (9/6/2026). Unggahan menampilkan gambar ilustrasi sebuah keluarga memegang lilin dalam situasi pemadaman listrik.
“FAKTA NYATA. 18 JULI 2026: PEMADAMAN LISTRIK GLOBAL SELAMA 9 HARI TERHUBUNG DENGAN AGENDA 2030, DIAM ADALAH PROTOKOLNYA.” Begitu narasi tertulis dalam gambar.
Pengunggah juga menuliskan keterangan dalam unggahan tersebut, “24 jam mati lampu aja hampir gilaaak, apalagi smpai 9 hari bisa bisa sak uwonge pun ikut padam.”
Sampai artikel ini ditulis pada Senin (15/06/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 117 likes, 84 komentar, dan 93 kali dibagikan ulang. Kolom komentar diisi dengan kritik masyarakat terhadap informasi tersebut dan meyakini bahwa kabar tersebut tidak benar.
“Baru baca sekilas udah kerasa ada yang janggal loh.. untung udah ada klarifikasinya, jangan gampang kemakan informasi yang belum jelas sumbernya.” Begitu tulis salah satu komentar.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Truth.Seeker 2nd account avicenna,” unggahan tersebut menyebarkan klaim serupa terkait akan adanya pemadaman listrik secara global.
“Pada 18 Juli 2026, Sebuah Teori Mulai Beredar:
✦Pemadaman Listrik Global Selama 9 Hari✦
Bukan Gangguan Sistem.
Bukan Kecelakaan.
Keheningan.
- Ceritanya Bilang, Ini Bukan Sekadar Pemadaman Listrik — ini Adalah RESET Sistem Yang Terkoordinasi. Jaringan Listrik? Mati. Jaringan Komunikasi? Putus. Satelit? Hilang. Tanpa Peringatan. Tanpa Siaran Darurat. Dunia Tiba-tiba Berhenti.
- Tanpa Ledakan. Tanpa Kehancuran. Hanya Dengungan Sistem Yang Memudar Sampai Tidak Ada Apa-apa. Dalam Teori Ini, Pemadaman Ini Bukan Tentang Lampu Yang Mati. Ini Tentang Hilangnya Sinyal. Seluruh Kerangka Digital Dimatikan Tanpa Meninggalkan Jejak.
- Bagian Yang Meresahkan? Teori Ini Mengklaim Ada Protokol Yang Disiapkan Untuk Memastikan Tidak Ada Kebocoran Informasi. Tidak Ada pengumuman. Tidak Ada Kepanikan. Hanya Keheningan Yang Menyelimuti Segalanya.
- Orang-orang Tidak Sadar Betapa Rapuhnya Dunia Kita. Ini Bukan Cuma Soal Listrik Yang Mati. Ini Tentang Sistem-sistem Yang Saling Terhubung Dan Sinkron Yang Kita Bangun, Yang Bergantung Pada Umpan Balik Konstan. Satu Gangguan Saja, Dan Seluruh Sistem Bisa Retak.
- Bayangkan: Sembilan Hari. Tanpa Telepon. Tanpa Internet. Tanpa Kontak. Dalam Keheningan Ini, Pertanyaan Sebenarnya Bukan Apa Yang Duluan Rusak. Tapi Siapa Yang Duluan Rusak. Karena Saat Informasi Menghilang, Pikiranmu Akan Mulai Mencarinya. Kamu Akan Panik. Kamu Akan Merasa Kendalimu Lepas.
Lantas, benarkah mulai tanggal 18 Juli 2026 akan terjadi pemadaman listrik secara global selama 9 hari sebagai bagian dari agenda 2030?

Penelusuran Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Kami justru diarahkan ke laman Kompas, unggahan dengan narasi pemadaman listrik secara global selama 9 hari mulai 18 Juli 2026 tidak benar atau hoaks. Klaim tersebut hanya mengandalkan teori konspirasi tanpa didasari temuan ilmiah dan teknis yang resmi.
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Pemadaman listrik global 9 hari,” pada mesin pencarian Google. Hasil penelusuran mengarah pada akun Instagram @humaspoldajabar yang menyatakan klaim pemadaman listrik tersebut adalah hoaks.
Melansir laman Boatos.org, situs cek fakta terbesar di Brasil pernah menerbitkan artikel dengan narasi yang sama berjudul “It is false that a 9-day global blackout will occur in July 2026" pada Selasa, 26 Mei 2026.
Dalam artikel tersebut, narasi pemadaman listrik secara global mulai 18 Juli 2026 juga dibagikan di media sosial Brasil dalam bentuk video pendek, sehingga menimbulkan kepanikan kolektif. Pemadaman listrik secara global itu dikaitkan dengan agenda 2030 yang dirahasiakan dan dibagikan dalam berbagai bahasa. Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, dipastikan bahwa narasi pemadaman listrik secara global selama 9 hari mulai 18 Juli 2026 tidak benar atau hoaks.
Tidak ada prediksi resmi, temuan ilmiah, dan teknis terkait pemadaman listrik global selama sembilan hari tersebut. Teks dalam narasi yang beredar tidak memiliki dasar faktual dan hanya mengandalkan teori konspirasi yang beredar di media sosial tanpa didukung laporan teknis, pernyataan resmi, atau studi ilmiah. Selain itu, tidak ditemukan pula adanya catatan dari organisasi internasional, perusahaan sektor energi, pemerintah, atau lembaga penelitian mengenai protokol global yang melibatkan pemadaman listrik.
“It is false that a nine-day global blackout is predicted for July 2026. The theory originated on social media and has no technical, scientific, or governmental backing. There is no evidence of a secret plan linked to Agenda 2030 nor a coordinated worldwide interruption of power and communications. The content repurposes common elements of conspiracy theories about global blackouts that have been circulating on the internet for years.” Begitu dikutip Boatos.
Narasi pada unggahan yang beredar juga menggabungkan istilah-istilah yang sama, seperti "Agenda 2030" dan "Diam adalah protokolnya" tanpa disertai penjelasan yang konkret mengapa hal tersebut bisa terjadi. Hal ini serupa dengan pola klasik teori konspirasi, yakni menggunakan bahasa yang menimbulkan kepanikan, tanpa bukti, dan memprediksi peristiwa besar yang terjadi pada tanggal tertentu.
Lebih lanjut, pemadaman listrik secara global, secara teknis tidak mungkin terjadi. Hal ini dikarenakan, jaringan listrik di Bumi tidak disatukan oleh satu tombol yang bisa dimatikan secara bersamaan. Jaringan listrik dikelola secara independen oleh masing-masing negara atau wilayah dan memiliki sistem kelistrikan mandiri yang terpisah. Gangguan berskala global, seperti pemadaman massal membutuhkan fenomena kosmik dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, wilayah yang sangat luas bisa mati lampu secara bersamaan akibat badai matahari ekstrem, serangan siber, atau bencana alam. Peristiwa seperti itu juga hanya bisa terjadi jika ada tindakan terkoordinasi. Namun, agenda seperti ini sangat mustahil dirahasiakan oleh para ilmuwan dan teknisi di dunia.
Penyebaran narasi pemadaman listrik secara global di media sosial adalah bentuk strategi menebar ketakutan dengan menggunakan tanggal dan jangka waktu yang spesifik. Pola seperti ini pernah disebarkan juga di internet seperti narasi pemadaman listrik selama 7 hari pada 20 Februari 2026 juga pernah beredar di media sosial.
Manajer Komunikasi dan tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Jawa Timur, Dana Puspita Sari membantah narasi tersebut.
“Berita yang beredar terkait pemadaman tidak benar adanya,” begitu keterangan Dana dikutip Kompas.com (15/2/2026).
Dalam akun Instagram CNN Indonesia, informasi pemadaman listrik yang dibagikan oleh pihak PLN yaitu pemadaman lampu di beberapa daerah di Jakarta pada 13 Juni 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan ada pemadaman lampu pada Sabtu malam (13/06/2026) selama satu jam mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB. Pemadaman dilakukan sebagai bagian dari Aksi Hemat Energi dan Pengurangan Emisi Karbon dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup 2026.
“Suasana gelap selama satu jam menjadi simbol kepedulian bersama terhadap lingkungan dan masa depan kota,” begitu keterangan Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi dalam keterangannya, Sabtu (13/6/2026).
Pemadaman ini mengacu Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon.
Pemadaman dilakukan di berapa titik penting Ibu Kota, seperti Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Patung Selamat Datang Bundaran Hotel Indonesia (HI), Patung Pemuda, Patung Jenderal Sudirman, hingga kawasan Balai Kota DKI Jakarta. Selain itu, pemadaman juga dilakukan di sejumlah ruas jalan protokol dan arteri.
Sampai artikel ini ditulis PLN tidak pernah memberikan informasi terkait adanya pemadaman listrik secara global mulai 18 Juli 2026.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, video yang mengklaim akan terjadi pemadaman listrik secara global selama 9 hari mulai 18 Juli 2026 adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Pemadaman listrik secara global, secara teknis tidak mungkin terjadi karena jaringan listrik di Bumi tidak disatukan oleh satu tombol yang bisa dimatikan secara bersamaan.
Pihak PLN dan pemerintah sampai saat ini tidak pernah memberikan informasi terkait adanya pemadaman listrik selama 9 hari, tidak ada prediksi resmi, temuan ilmiah, dan teknis terkait pemadaman listrik global tersebut.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id


































