tirto.id - Jam menunjukkan pukul 11.12 Waktu Arab Saudi (WAS) saat jurnalis Tirto yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Makkah tiba di Kota Taif pada Rabu (10/6/2026). Di kota yang berjarak sekitar 95,5 km dari Masjidil Haram ini, terdapat masjid bersejarah yang punya peranan penting dalam dakwah Islam di masa lalu, yaitu Masjid Abdullah Ibnu Abbas.
Nama masjid tersebut diambil dari sahabat sekaligus sepupu Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas. Makam Ibnu Abbas sendiri berada tak jauh dari bangunan masjid ini.
Pemilik nama lengkap Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf al-Quraisy itu semasa hidupnya sangat dekat dengan Rasulullah. Maka tak heran, Ibnu Abbas banyak meneladani sifat Nabi.
Musrif Diny Haji 2026, KH Cholil Nafis, menyebut Ibnu Abbas adalah sahabat yang langsung didoakan Nabi Muhamamd SAW. Doanya "Allahumma faqqihhu fid-din, wa 'allimhut-ta'wil."
"Ya Allah berilah Abdullah bin Abbas sebagai orang yang fakih dalam ilmu agama dan menafsirkan Al-Quran,” kata Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu di Kantor Daerah Kerja Makkah, di Kota Makkah, Jumat (5/6/2026).
Maka tak heran sahabat sekaligus sepupu Rasulullah tersebut melahirkan sebuah tafsir Al-Quran yang dikenal dengan Tafsir Ibnu Abbas—salah satu kitab tafsir klasik yang penting dari periode awal Islam. Dia pun dikenal sebagai salah satu perawi sejarah dan pakar hukum Islam yang kredibel sejak masa awal Islam.
Ketika Nabi Muhammad wafat, Ibnu Abbas baru menginjak usia belasan tahun. Usai Rasulullah wafat, Ibnu Abbas terus bersyiar dan memperdalam ilmu agama Islam.
Semasa hidupnya, Ibnu Abbas meriwayatkan lebih dari 1.600 hadis. Dia juga terlibat dalam Perang Hunain, peristiwa Fathul Makkah, hingga Haji Wada.
Dia menghabiskan masa hidupnya di Taif hingga wafat pada 78 Hijriah di usia 81 tahun. Ibnu Abbas juga berwasiat agar dimakamkan di tanah tempat 11 syuhada sahabat nabi gugur dalam Perang Hunain di Taif.

Sejarah Masjid Abdullah bin Abbas
Dilansir dari berbagai sumber, Masjid Abdullah bin Abbas dibangun pada 592 Hijriah dan mampu menampung sekitar 3.000 jemaah. Salah satu daya tarik utama bangunan ini adalah ratusan tiang yang berdiri kokoh di bagian dalam masjid.
Keistimewaan masjid ini tidak hanya terletak pada arsitekturnya, tetapi juga pada sosok yang diabadikan namanya. Masjid ini berdiri di dekat makam Abdullah bin Abbas, sahabat sekaligus sepupu Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, Kota Taif merupakan wilayah yang memiliki hubungan erat dengan sejarah perjuangan Rasulullah.
Pada tahun ke-10 kenabian atau 619 M, Nabi Muhammad kehilangan dua sosok pelindung utamanya. Pertama, Abu Talib, paman yang telah mengasuh dan melindunginya sejak kecil, wafat dalam usia lebih dari 80 tahun. Kehilangannya merupakan pukulan berat bagai Nabi Muhammad karena selama ini dia merupakan perisai utama dan ancaman kaum Quraisy.
Kedua, Khadijah binti Khuwailid, istri yang setia dan sandaran emosional Nabi, sosok yang pertama kali memberi dukungan saat beliau menerima wahyu dan menghiburnya di kala sedih.
Dalam sejarah kenabian, masa kehilangan dua orang itu disebut Amul Huzn. Setelah kehilangan kedua orang yang dicintai tersebut, gangguan penduduk Quraisy terhadap Nabi semakin menjadi-jadi.
Karena itu, Nabi Muhammad bersama Zaid bin Haritsah pergi ke Taif secara sembunyi-sembunyi untuk mencari dukungan dan perlindungan dari kabilah Thaqif (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad SAW, hlm. 157). Namun, para pemimpin Thaqif menolaknya secara kejam. Mereka bahkan menghasut orang-orang dan anak-anak untuk mengejek serta melemparinya dengan batu hingga Nabi terluka.
Dengan berat hati, Nabi dan Zaid mundur meninggalkan Taif. Menurut satu riwayat, Nabi Muhammad bersembunyi di kebun milik kakak beradik Utbah dan Syaibah.

Berdasarkan salah satu sumber, tempat beristirahat Rasulullah saat itulah yang kini menjadi lokasi berdirinya Masjid Abdullah bin Abbas. Oleh sebab itu, masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan juga penanda sejarah yang mengingatkan umat Islam pada keteguhan Rasulullah dalam menyebarkan ajaran Islam.
Bagi banyak peziarah, kunjungan ke Masjid Abdullah bin Abbas menjadi kesempatan untuk mengenang salah satu fase paling berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah seperti yang telah diuraikan di atas.
Ketua Rombongan Jemaah Umrah asal Sukabumi, Jawa Barat, Suleman, mengatakan dirinya sengaja membawa para jemaah berkunjung ke Taif untuk mengenang perjuangan dakwah Rasulullah SAW.
"Ziarah ke Taif karena ini adalah merupakan kota harapan Rasulullah. Di mana Rasul mendapatkan intimidasi, embargo ekonomi di kala itu. Kemudian, berharap mendapatkan pertolongan dari bangsa Taif, kaum Taif. Dan ternyata Allah belum memberikan izin," kata dia saat ditemui tim MCH di Masjid Abdullah bin Abbas, Rabu (10/6/2026).
Menurut Suleman, kunjungan ke Masjid Abdullah bin Abbas juga dimaksudkan untuk mengenalkan sosok sahabat Nabi yang dikenal memiliki keluasan ilmu agama.
"Semoga kita juga sama menjadi orang-orang yang memperdalam ilmu agama," kata dia berharap.
Suleman mengungkapkan sebelum mengunjungi Masjid Abdullah bin Abbas, rombongannya juga diajak singgah ke salah satu peternakan unta di Taif. Di lokasi tersebut, para jemaah berkesempatan merasakan pengalaman meminum susu unta segar yang diperah langsung dari hewan tersebut.
"Susu untanya diperah langsung diminum. Segar," katanya.
Dikunjungi Banyak Wisatawan
Meski berjarak cukup jauh dari Makkah, masjid ini tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari, ratusan bahkan ribuan jemaah haji dan umrah dari berbagai negara datang untuk beribadah sekaligus menyaksikan langsung peninggalan sejarah Islam yang masih terjaga hingga kini.
Suasana di sekitar masjid pun ramai dengan sejumlah pedagang yang menjajakan aneka ragam jenis jualan. Mulai dari buah-buahan, peci, serban, aneka macam suvenir yang identik dengan Makkah dan Madinah, hingga madu. Rerata para pedagang ini berasal dari Bangladesh dan Pakistan.
Menariknya, para pedagang di lokasi wisata ini fasih berbahasa Indonesia. Hal ini menandakan bila mayoritas pengunjung masjid bersejarah tersebut adalah warga negara Indonesia (WNI) yang sedang berhaji maupun umrah.

Tak hanya itu, tepat di seberang Masjid Abdullah bin Abbas, terdapat warung Bakso Mang Oedin. Resto milik orang Sunda ini berjualan aneka masakan nusantara, mulai dari bakso, mie ayam, pempek, hingga nasi campur.
Pengelola Bakso Mang Oedin di Taif, Irfan, mengatakan pengunjung restonya mayoritas adalah jemaah haji dan umrah yang berasal dari berbagai negara, terutama Indonesia.
"Alhamdulillah Pak Haji, (pembeli) dari semua jemaah, dari seluruh dunia, terutama orang Indonesia. Orang Arab juga banyak pelanggan kita karena suka masakan Indonesia," ucap Irfan kepada tim MCH di Taif, Rabu (10/6/2026).
Jejak orang Indonesia sebagai pengunjung di Masjid Abdullah bin Abbas juga terlihat dari sejumlah coretan di dinding toilet, pagar, dan dinding di sekitar makam Abdullah bin Abbas. Mereka menulis namanya di situ. Ada Waluyo, Fitri Bunga, Surya, hingga Dewi. Nama-nama tersebut dituliskan dalam waktu yang berbeda.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id
































