tirto.id - Perjalanan menuju pabrik parfum di wilayah Al Hada, Kota Taif, cukup menyenangkan. Sepanjang jalan, mata kita dimanjakan dengan pemandangan alam. Deretan pegunungan batu berdiri kokoh di kejauhan, sementara jalan yang berkelok mengikuti kontur bukit menghadirkan panorama yang memanjakan mata.
Perjalanan ke Al Hada butuh waktu kurang lebih dua jam—estimasi menurut Google 1 jam 3 menit, dengan jarak tempuh 77 km dari Kota Makkah. Sopir yang membawa kami tampak berhati-hati saat kendaraan memasuki tikungan demi tikungan yang membelah perbukitan.
Pemandangan tersebut terasa tidak biasa. Jalanan Arab Saudi yang selama ini identik dengan hamparan aspal lurus dan datar, kini berubah menjadi jalur yang sedikit berliku dan menanjak, menghadirkan sensasi perjalanan yang berbeda.
Di sepanjang perjalanan, suasananya bahkan mengingatkan pada kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Semakin tinggi kendaraan menanjak, semakin terlihat sisi lain Arab Saudi yang jarang dikenal banyak orang—bukan hanya gurun dan padang pasir, tetapi juga bentang alam pegunungan yang sejuk dan memesona.
Pada Rabu (10/6/2026) siang itu, tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah tiba di sebuah destinasi yang dikenal sebagai salah satu pusat pembuatan parfum terbaik di Arab Saudi, yakni Rashid Hussein Al-Qurashi atau مصنع راشد القرشي di kawasan Al-Hada, Taif.
Kunjungan ke pabrik penyulingan mawar ini menjadi agenda kedua setelah menyambangi Masjid Abdullah Ibnu Abbas, yang terletak di jantung Kota Taif.
Dari kejauhan, sudah terlihat ramai oleh wisatawan dan peziarah yang ingin mengenal lebih dekat proses lahirnya parfum dan produk mawar khas Taif yang melegenda. Ternyata, bukan hanya rombongan MCH yang datang. Sejumlah jemaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia, lebih dulu memadati area pabrik.

Sebagian tampak antusias menyaksikan proses penyulingan air mawar, sementara yang lain sibuk memilih aneka parfum khas Al-Qurashi yang tersusun rapi di etalase.
Di sudut lain, beberapa pengunjung menikmati secangkir kopi dan es krim sambil bersantai, menjadikan tempat bersejarah ini bukan sekadar pusat produksi parfum, tetapi juga destinasi wisata yang menawarkan pengalaman khas Taif.
Konon, tempat ini dikenal luas karena menghasilkan air mawar asli serta minyak mawar murni berkualitas tinggi dengan menggunakan teknik penyulingan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun selama beberapa generasi.
Setelah berkeliling melihat pabrik, tim MCH diterima oleh salah satu pegawai terbaiknya. Pria itu bernama Abdullah atau Dul. Laki-laki berjubah putih itu mengaku tahu Indonesia bahkan bisa sedikit bicara dengan bahasa Jawa dan Sunda.
Mengetahui tamunya dari Indonesia, Dul berusaha menjelaskan sedetail mungkin proses penyulingan air mawar menjadi parfum dengan Bahasa Melayu.
Selanjutnya, tim MCH diajak berkeliling lagi ke tempat-tempat penyulingan mawar tradisional yang legendaris itu. Sayangnya, kami hanya bisa melihat alat peracikannya saja, tidak proses penyulingannya karena mawarnya sedang tidak musim.
Menurut Abdullah, Mawar di Taif hanya panen pada bulan Ramadhan dan Syawal. Makanya, proses pembuatan parfum pun banyak dilakukan di waktu tersebut.
"Yaah," keluh seorang tim MCH mengetahui mawarnya tidak tersedia.
Proses Penyulingan Mawar Butuh 6-8 Jam
Dul bercerita, proses penyulingan mawar menjadi parfum membutuhkan waktu yang panjang. Ada yang 6 jam, ada juga yang 8 jam tanpa jeda. Semua proses harus dilakukan secara baik, alat penyulingan tidak boleh mati. Adapun bahan baku untuk membuat parfum mawar tersebut menurut Dul yaitu air dan bunga mawar rose yang diambil dari kebun mawar di Taif.

"Nantinya kalau sudah mulai jadi, dia terpisah. Air di bawah kemudian parfum di atas," kata Dul.
Mendengar cerita Dul, saya teringat dengan proses penyulingan manual kelapa menjadi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO). Dalam proses akhir setelah memakan waktu 12 jam, VCO dan air juga terpisah.
Dengan gayanya yang sedikit jenaka, Dul menjelaskan, air mawar yang disuling di pabrik Al-Qurashi tersebut dibuat menjadi parfum, sabun lotion, obat rambut, air arus dan skincare.
"Bisa juga dibuat teh. Soal manfaat, mungkin wangi saja," kata Dul.
Air arus, kata Dul, berguna bagi yang ingin badannya wangi. Sementara obat rambut selain wangi bisa juga untuk menjaga kesehatan rambut.
Menurut Dul, dalam satu tahun, jumlah mawar yang diolah menjadi minyak atau parfum berbeda-beda. Kadang 300 kilogram, kadang juga sampai 900 kilogram.

Sementara 1 wadah kilang penyulingan dengan ukuran sedang dapat menampung 35 ribu bunga mawar. Lalu, kilang besar mampu menampung 600 ribu bunga mawar.
"Di sini ada air panas, ada air dingin campuran," kata Dul dengan bahasa Melayu yang sedikit kedengaran lucu.
Dul memperkirakan pabrik tersebut berusia 150 tahun dan telah menjadi legenda Taif hingga kini ramai dikunjungi wisatawan baik jemaah umrah atau jemaah haji.
Menurut dia, saat musim haji kunjungan menurun satu hari sekitar 300 ribu. Sedangkan di hari biasa, bisa mencapai 600 ribu orang per hari dari berbagai dunia. Demikian juga, kata Dul, soal harga. Saat musim haji, harganya tinggi, sedangkan saat hari biasa, harganya kembali normal.
Dul juga bilang, semua olahan parfum hingga lotion berasal dari satu jenis mawar yang yaitu rose. Semuanya, kata Dul, non alkohol. Ihwal keuntungan pabrik, Dul sempat memberikan bocoran.
"Dalam setahun 1-2 miliar rupiah," kata dia.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































