Menuju konten utama

Kewajiban Neto Investasi Internasional RI Susut Jadi USD227,6 M

Angka ini menyusut dibandingkan posisi akhir kuartal IV-2025 yang sebesar 273,4 miliar dolar AS.

Kewajiban Neto Investasi Internasional RI Susut Jadi USD227,6 M
Gedung Bank Indonesia di Solo. Flickr/Aditya Darmasurya

tirto.id - Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada kuartal I-2026 mencatatkan penurunan kewajiban neto menjadi 227,6 miliar dolar AS. Angka ini menyusut dibandingkan posisi akhir kuartal IV-2025 yang sebesar 273,4 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan penurunan kewajiban neto tersebut dipicu oleh berkurangnya posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih dalam dibandingkan penurunan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).

Pada akhir kuartal I-2026, posisi AFLN tercatat sebesar 556,7 miliar dolar AS. Angka ini turun 0,4 persen secara kuartal ke kuartal (qtq) dari 559,1 miliar dolar AS pada akhir kuartal IV-2025. Ramdan menjelaskan bahwa penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh berkurangnya cadangan devisa.

"Penurunan posisi cadangan devisa sejalan dengan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons Bank Indonesia terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Ramdan dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026)

Ia menambahkan bahwa pelemahan harga aset dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang negara tempat penempatan aset juga turut mempengaruhi penurunan posisi AFLN.

Meski demikian, posisi aset investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya diklaim justru meningkat.

Sementara itu, posisi KFLN Indonesia pada akhir kuartal I-2026 tercatat sebesar 784,3 miliar dolar AS, turun 5,8 persen (qtq) dari 832,6 miliar dolar AS. Penurunan ini terjadi meskipun aliran masuk modal asing pada investasi langsung dan investasi portofolio tetap terjaga.

"Penurunan tersebut terutama bersumber dari pelemahan nilai instrumen keuangan domestik di tengah kinerja investasi langsung yang tetap membukukan surplus yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik," jelas Ramdan.

Ia juga menyebutkan bahwa posisi investasi portofolio dan investasi lainnya menurun seiring dengan pembayaran surat utang sektor swasta dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo.

Selain itu, pelemahan harga saham serta penguatan nilai tukar dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk Rupiah, turut mempengaruhi posisi KFLN.

Bank Indonesia menilai perkembangan PII Indonesia pada kuartal I 2026 masih tetap terjaga dan mendukung ketahanan eksternal. Hal ini tercermin dari rasio PII terhadap produk domestik bruto (PDB) yang turun menjadi 15,5 persen, dari sebelumnya 18,9 persen pada kuartal IV 2025.

Ramdan menekankan bahwa struktur kewajiban PII Indonesia didominasi oleh instrumen berjangka panjang mencapai 92,5 persen, terutama dalam bentuk investasi langsung.

"Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek PII Indonesia dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal," katanya.

Baca juga artikel terkait INVESTASI atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama