Ketika Soeharto Melawan Rambo dan Istri Sukarno di Lapangan Golf

Ilustrasi bermain Golf. FOTO/iStockphoto
Oleh: Petrik Matanasi - 13 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Demi kebugaran tubuh dan kesepakatan-kesepakatan bisnis serta politik, Soeharto sulit meninggalkan golf.
Setelah peristiwa berdarah 1 Oktober 1965, Soeharto dan para stafnya sibuk mengganyang komunis. Salah satunya dengan menekan Presiden Sukarno untuk segera membubarkan PKI. Kesibukan lain datang silih berganti di tengah situasi politik nasional yang belum sepenuhnya stabil. Namun, di tengah kesibukan tersebut, Soeharto tak melupakan olahraga untuk tetap menjaga kebugaran tubuh.

Selain memancing, hobi Soeharto yang lain adalah golf. Olahraga itulah yang kerap ia lakukan bersama para kolega maupun tamu. Tentu, terkadang golf yang dilakoni Soeharto tak hanya untuk menjaga kebugaran tubuh, tapi juga untuk keperluan lain yang bersifat politis.

Sejak awal tahun 1960-an, Soeharto sudah berkenalan dengan olahraga golf. Orang yang memperkenalkannya dengan olahraga itu adalah Ahmad Yani.

”Dulu bapak (Ahmad Yani) senang main golf, Pak Harto juga begitu. Sampai suatu hari bapak mendatangi Pak Harto di hotel dan memberikan seperangkat stick golf,” kenang Indria Ami Rulliati (Rully), putri sulung Ahmad Yani, seperti dikutip Anton Tabah dalam Dua Jenderal Besar Bicara tentang Gestapu/PKI (1999:29).

Pada masa kisruh setelah G30S, hubungan Soeharto dengan Presiden Sukarno kian memburuk. Hal ini membuat prihatin Bob Hasan, anak angkat Gatot Subroto. Oleh karena itu, menurut Probosutedjo dalam Saya dan Mas Harto (2010:297), Bob Hasan berusaha mendekatkan kembali hubungan keduanya. Dan cara yang ditempuh adalah dengan bermain golf.

Soeharto tidak melawan Sukarno di lapangan golf, melainkan dengan seorang perempuan berusia 26 tahun, yaitu Ratna Sari Dewi, istri Sukarno. Mereka bermain golf di Rawamangun, tak jauh dari kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pertemuan itu diatur oleh Bob Hasan. Ia yang mengajak Ratna Sari Dewi, dan di saat bersamaan ia juga mengundang Soeharto untuk main golf di lokasi yang sama.

Dewi dianggap sebagai orang dekat Sukarno yang cukup berpengaruh. Ia tampak hendak menjadi penengah antara Soeharto dengan Sukarno. M. Yuanda Zara dalam Sakura di Tengah Prahara: Biografi Ratna Sari Dewi Sukarno (2008:58) menyebut, ”Dewi melakukan serangkaian lobi kepada Soeharto, salah satunya dengan main golf bersama. Dewi juga menggiring opini Soeharto.”

Di lapangan golf pula, seperti dicatat Aiko Kurasawa dalam Peristiwa 1965: Persepsi dan Sikap Jepang (2015), lewat Dewi, Soeharto memberikan tiga pilihan kepada Sukarno. Pertama, pergi ke luar negeri untuk beristirahat. Kedua, tetap tinggal di Indonesia sebagai presiden namun hanya sebulan. Dan ketiga, mengundurkan diri secara total.

Soeharto merekomendasikan opsi pertama dan menyarankan Jepang atau Makkah sebagai negara peristirahatan. Di lapangan golf itu, Dewi kian menyadari bahwa posisi suaminya makin lemah di hadapan tentara.

Pertemuan Dewi dengan Soeharto di lapangan golf, seperti dicatat B Wiwoho dan Banjar Chaerudin dalam buku Memori Jenderal Yoga (1990:162-163), menerbitkan kecurigaan bahwa ada usaha dari Kostrad untuk menculik Dewi Sukarno. Hal ini membuat Ali Moertopo dan Yoga Soegomo didatangi seseorang yang mengaku utusan Presiden Sukarno, dan mengatakan bahwa mereka dipanggil ke istana. Namun, hal itu dicegah oleh Soeharto yang berkata, ”Ora usah mangkat!”

Tak hanya menimbulkan kecurigaan Sukarno, menurut Probosutedjo pertemuan Soeharto dengan Dewi juga membuat marah Siti Hartinah alias Bu Tien, istri daripada Soeharto. Ia cemburu karena suaminya bertemu dengan perempuan berdarah Jepang yang masih muda dan cantik.



Mengalahkan Rambo

Ketika keluarga Sudwikatmono hendak meresmikan restoran Planet Hollywood, Sylvester Stallone alias Sly diundang ke Jakarta. Aktor kekar yang dikenal karena perannya sebagai Rambo ini diajak Sudwikatmono untuk bertemu dengan Soeharto di lapangan golf Rawamangun.

Seperti dilaporkan Suara Karya (22/10/1994), Sly yang saat itu berusia 50 tahun ditantang Soeharto yang sudah berusia 73 tahun. Ketika Sly mengayunkan stik golf untuk memukul bola, mata Soeharto tak lepas darinya. Pertarungan itu akhirnya dimenangkan oleh Soeharto.

”Anda pemain terbaik,” kata Sly dalam bahasa Inggris. Soeharto juga membalas dalam bahasa Inggris dengan rendah hati, ”Terimakasih. Kau juga tidak buruk, tapi saya beruntung.”

Usai tanding, keduanya tampak akrab. Soeharto menyuguhkan teh manis dan jajanan pasar. Sly tak ragu melahapnya. Mereka kemudian bertukar cendera mata. Sly menghadiahi Soeharto jaket kulit Planet Hollywood. Sementara Soeharto menghadiahi Sly buku foto tempat menarik berjudul Green Indonesia.

Selepas main golf pada hari jumat itu, Soeharto undur diri dari Rawamangun untuk kembali ke rumahnya. Sly ikut mengantarnya ke mobil. Di hadapan wartawan, Sly mengaku, ”Sungguh, saya sudah berusaha bermain baik. Tapi dia bermaih lebih baik. Dia terlalu tangguh untuk Rambo.”

Pada hari-hari yang lain, Soeharto biasa bermain golf dengan kolega dekatnya, termasuk para jenderal yang salah satunya adalah M. Jasin.

”Pada tahun 1970-1971-an, saya selalu diajak bermain golf di lapangan Golf Senayan oleh Presiden Soeharto,” kata Letnan Jenderal M. Jasin dalam Saya Tidak Pernah Minta Ampun kepada Soeharto: Sebuah Memoar (1998:191).

Menurut laporan Suara Karya (05/06/1990), Soeharto bekerja 18 jam sehari. Dalam seminggu, main golf dijadwalkan tiga kali, yakni pada Senin, Rabu, dan Jumat, masing-masing selama 2 jam. Ia biasa bermain pada sore hari di padang golf Rawamangun, Jakarta. Soeharto mampu bermain 9 lubang sekali latihan. Ia sangat disiplin. Hujan tak menghalanginya untuk main golf 3 kali dalam sepekan.

Baca juga artikel terkait GOLF atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight