tirto.id - Teka-teki di balik pergerakan informasi rahasia saat aksi demonstrasi pekan lalu akhirnya terkuak. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Muhammad Herindra, mengakui adanya pertukaran informasi kilat serta koordinasi ketat antara BIN, TNI, dan Polri saat mengawal demo 27 Agustus 2026 yang berakhir ricuh tersebut.
Menurut Herindra, koordinasi itu berkaitan dengan pertukaran informasi antarunsur intelijen di masing-masing lembaga.
“Kita kan ada koordinasi antarinstansi intelijen, baik dari BIN, dari TNI, dari Polri, dan itu sudah kita sampaikan ke sana [informasinya],” kata Herindra saat ditemui wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).
Ia menjelaskan, saat ini proses hukum usai demonstrasi yang berujung pada kerusuhan itu sudah ditangani oleh pihak kepolisian.
Pihak kepolisian pun disebutnya sudah mengantongi nama-nama pelaku yang diduga bertindak anarkis pada saat kerusuhan tersebut.
“Kepolisian sudah merilis ya beberapa pelaku-pelaku yang melakukan tindakan-tindakan anarkis, dan sekarang sudah ditangani kepolisian. Gitu aja ya,” ucapnya.
Namun, saat ditanya wartawan apakah BIN sudah mengetahui seperti apa pola di balik demonstrasi 27 Agustus yang berujung kerusuhan, Herindra memilih untuk diam.
Sebagai informasi, KontraS bersama Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menyoroti dugaan penggunaan kekuatan berlebihan, penangkapan sewenang-wenang, serta dugaan pengerahan kelompok tertentu dalam penanganan aksi demonstrasi 27 Agustus 2026.
Sorotan KontraS terkait Penangkapan 387 Orang
Anggota Brimob Polda Metro Jaya menaiki motor di Jalan Tol Dalam Kota saat mengamankan aksi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu di depan kawasan Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Polda Metro Jaya mengerahkan 4.274 personel untuk mengamankan jalannya aksi penyampaian pendapat di kawasan tersebut. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengatakan tindakan aparat tidak hanya terjadi di lokasi demonstrasi, tetapi juga di sejumlah jalur mobilitas massa dari wilayah penyangga menuju Jakarta.
Dimas mengatakan terdapat 387 orang yang ditangkap dalam rangkaian aksi 27 Agustus itu. Sebanyak 64 orang ditangkap sebelum aksi dimulai, baik pada 26 Agustus maupun sebelum pelaksanaan aksi pada 27 Agustus pukul 10.00, sedangkan 322 orang ditangkap dalam aksi.
Dari 322 orang tersebut, sebanyak 162 orang berada dalam kelompok usia 18-40 tahun dan 160 orang lainnya merupakan anak di bawah umur. Usia paling muda yang ditangkap berusia 12 tahun.
"Dalam konteks demonstrasi 27 Agustus 2026, kami melihat bahwa penangkapan juga lumayan besar angkanya, yaitu totalnya 387 orang ditangkap [polisi],” ujar Dimas, dalam Konferensi Pers di Kantor KontraS, Senin (31/08/26).
Penulis: Naufal Majid
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































