tirto.id - Kenapa Folarin Balogun, penyerang Amerika Serikat, mendapatkan kartu merah dalam laga vs Bosnia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 pada Kamis (2/7) di Santa Clara? Tidak sedikit netizen yang menganggap pelanggaran yang dilakukan Balogun itu mirip dengan tindakan Messi saat melawan Aljazair di fase grup. La Pulga tidak dihukum dengan kartu merah.
Dalam laga Amerika Serikat vs Bosnia & Herzegovina, USMNT menang 2 gol tanpa balas. Kunci kemenangan tuan rumah yang memastikan tiket 16 besar adalah aksi Folarin Balogun ('45) dan Malik Tillman ('82). Namun, lolosnya USMNT juga mesti ditebus dengan kartu merah yang diterima oleh Balogun pada menit 64. Ia menginjak engkel kaki Tarik Muharemovic, bek tengah Bosnia.
Wasit Raphael Claus menganggap itu pelanggaran fatal sehingga Balogun langsung dikenai kartu merah. Hal ini memicu perdebatan penggemar sepak bola. Pasalnya, dalam laga pertama Argentina di Grup J, Lionel Messi diklaim melakukan tindakan serupa terhadap Aissa Mandi, bek Aljazair. Tidak ada kartu merah untuk La Pulga. Wasit Szymon Marciniak (Polandia) tidak pula menyodorkan kartu kuning.
Wasit juga tidak melakukan pengecekan VAR. Ini berbeda dengan kasus Balogun, ketika wasit awalnya tidak hendak memberikan kartu, tetapi berubah pikiran setelah melihat tayangan lambat.
Akun X USMNT Only yang merupakan bagian dari jaringan media sepak bola Men in Blazers, pada Kamis (2/7) mengirim post yang berbunyi, "Sekadar mengingatkan bahwa striker USMNT Folarin Balogun diberi kartu merah karena tindakan ini usai ditinjau VAR. Pada awal turnamen, Lionel Messi bahkan tidak diberi kartu kuning atau bahkan mendapatkan cek VAR karena tindakan serupa."
Post tersebut mendapatkan lebih dari 1.200 komentar dan 783 ribu views.
Sementara itu, pelatih Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, menyebut, dari sudut pandangnya, tindakan Balogun itu tidak pantas untuk diberi kartu merah.
"Bagi saya? Tidak layak untuk kartu merah. Bukan tujuannya untuk menginjak pemain lawan. Ini aksi normal dalam sepak bola yang terjadi karena ketidaksengajaan," kata sang juru taktik dikutip New York Times.
Apakah Pelanggaran Balogun & Messi Layak Diberi Kartu Merah?
Dengan kartu merah yang diterimanya dalam laga kontra Bosnia, Folarin Balogun dipastikan bakal absen di laga 16 besar kontra Belgia. Ini akan jadi kerugian tersendiri bagi Amerika Serikat.
Di Piala Dunia 2026 ini, Balogun sudah mencetak 4 gol. Jumlah tersebut membuat sang penyerang AS Monaco bersaing di papan atas top skor, di bawah Lionel Messi (Argentina) dan Kylian Mbappe (Prancis) yang punya 6 gol, juga di belakang Erling Haaland (Norwegia) yang punya 5 gol.
Tanpa Folarin Balogun, pelatih Mauricio Pochettino bisa mengambil alternatif, salah satu dari Ricardo Pepi atau Timothy Weah. Pepi jadi pilihan dalam starting XI versus Turki, laga matchday 3 Grup B saat AS tidak butuh kemenangan lagi. Weah tampil juga di laga tersebut.
Di luar kehilangan AS terhadap sosok Folarin Balogun, reaksi penggemar USMNT terhadap beda perlakuan untuk sang penyerang dengan Lionel Messi, layak disimak. Salah satunya adalah dari Alexi Lalas, pandit FOX Sports yang merupakan mantan penggawa Timnas Amerika Serikat.
Di X, Lalas mencuitkan kalimat "Jika namanya (Balogun) adalah Messi, dia bakal masih ada di lapangan."
Konteks ucapan Alexi Lalas tersebut diperluas dalam komentarnya untuk FOX Sports. Bagi Lalas, Balogun tidak layak dihukum dengan kartu merah.
Ia menyebut, "(Pelanggaran) itu bukan kartu merah. Saya paham pada momen tersebut, pelanggaran itu tampak berbahaya. Jika Anda melihat di video itu terlihat buruk. Tapi, Anda harus memahami apa yang terjadi. Saya pikir itu adalah keputusan buruk (dari wasit)."
“Perlu disampaikan bahwa jika namanya Messi, seperti yang telah kita lihat sebelumnya di turnamen ini, dia masih akan berada di lapangan dan dia masih bisa bermain di Seattle pada hari Senin (waktu setempat lawan Belgia),” tambahnya.
Pendapat senada disampaikan banyak pandit. Menurut mereka, pelanggaran yang dilakukan Folarin Balogun seharusnya tidak membuat wasit Raphael Claus mengeluarkan kartu merah.
Andy Davies, mantan wasit sepak bola elite asal Inggris, dalam pendapatnya untuk ESPN, menyebut, "Ini bukanlah pelanggaran yang layak mendapat kartu merah. Dengan kedua pemain berebut bola, kontak Balogun terhadap Muharemovic, meskipun terlihat buruk dalam tayangan ulang gerakan lambat, murni tidak disengaja. (Ini) merupakan akibat yang tidak menguntungkan dari dua pemain yang berebut penguasaan bola dalam pergerakan sepak bola normal."
Kieran Jackson dari The Independent menyebut pentingnya melihat kronologi dalam kasus Folarin Balogun. Awalnya, wasit Raphael Claus mengabikan pelanggaran tersebut karena Balogun dan Muharemovic sama-sama bertarung memperebutkan bola.
Namun, tiga wasit VAR, Juan Soto (Venezuela), Nicolas Gallo (Kolombia) and Jerome Brisard (Prancis), mengarahkan Claus untuk menyaksikan insiden itu di monitor. Claus pada akhirnya menghukum Balogun dengan kartu merah. Dalihnya, "Balogun dinyatakan bersalah atas pelanggaran serius, karena merebut bola. dengan kekuatan berlebihan atau membahayakan keselamatan lawan."
Jackson menyebut, masalah utamanya adalah inkonsistensi. Tayangan ulang dengan gerakan lambat semestinya hanya diterapkan untuk sesuatu yang berupa fakta. Terkait intensitas pelanggaran, semestinya video diputar dengan kecepatan normal.
Penerapan VAR untuk tindakan Balogun dan Messi berbeda, meski keduanya diklaim sama-sama dilakukan secara tidak sengaja. Dalam kasus Messi, tindakannya adalah pelanggaran, tetapi VAR tidak melakukan intervensi dan alhasil tidak memberikan sanksi. Sebaliknya, dalam kasus Balogun, keputusan wasit VAR untuk menayangkan pelanggaran tersebut dalam kecepatan lambat, membuat keputusan jadi dapat diperdebatkan.
Di sisi lain, jika merujuk pada aturan IFAB, pelanggaran yang mengenai area di atas pergelangan kaki dengan kekuatan penuh tetap dikategorikan sebagai tindakan yang membahayakan keselamatan lawan. Oleh karena itu, jika hanya melihat teks aturan IFAB, wasit Raphael Claus memiliki dasar pula untuk mengeluarkan kartu merah.
Ikuti kabar terbaru seputar Piala Dunia 2026 dari Tirto.id dengan cara klik tautan ini.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id
































