tirto.id - Hari ini Kamis Pon, 20 November 2025 merupakan peringatan 279 Tahun Hadeging Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdasarkan kalender Jawa. Pasalnya, hari ini bertepatan dengan 29 Jumadil Awal 1959 Dal.
Peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat setiap tahunnya berlangsung 2 kali, sesuai dengan kalender yang berbeda. Jika mengacu kalender Masehi, berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta adalah pada 13 Maret 1755. Hal ini ditandai dengan proklamasi Hadeging Nagari oleh Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I di Pesanggrahan Garjitowati.
Pada 13 Maret 2025 lalu, dirayakan Hari Jadi Daerah Istimewa Yogyakarta yang ke-270 versi penanggalan Masehi. Tema yang diangkat adalah "Jogja Tumata Tuwuh Ngrembaka", yang bermakna Jogja menata, bertumbuh, dan berkembang. Tema tersebut mengusung optimisme bahwa Yogyakarta terus menata diri, memperkuat pertumbuhan, serta melestarikan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.
Sementara itu, pada 20 November 2025 ini, tepatnya pada 29 Jumadilawal 1959 Dal, diperingati ulang tahun Hari Jadi Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, yang berdasarkan penanggalan Jawa sudah masuk ulang tahun yang ke-279. Pasalnya, antara Kalender Jawa dan Masehi, setiap tahunnya ada perbedaan 10 hingga 11 hari, dengan penanggalan Jawa berlangsung lebih cepat.
Peristiwa proklamasi Hadeging Nagari oleh Hamengku Buwono I pada 13 Maret 1755 bertepatan dengan 29 Jumadilawal 1680.
Kenapa 20 November 2025 Adalah Hari Jadi DIY ke-279?
Peristiwa Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat bermula dari ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian ini adalah Pangeran Mangkubumi, VOC, dan Sunan Pakubuwana III. Dengan diadakannya perjanjian ini, Kesultanan Mataram dibagi dua antara Mangkubumi dan Pakubuwana.
Sejak perjanjian tersebut, Pakubuwana III memimpin Kasunanan Surakarta. Sementara itu, Pangeran Mangkubumi yang kemudian dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I, akan memimpin wilayah sendiri.
Tepat sebulan kemudian, pada 13 Maret 1755 atau 29 Jumadilawal 1680, Hamengku Buwono I memproklamasikan berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat di Pesanggrahan Garjitowati. Proklamasi ini bukan hanya pengumuman politik. Tetapi juga, pernyataan berdirinya nagari baru yang memiliki struktur pemerintahan, tatanan adat, hukum, dan simbol-simbol kekuasaan yang khas.
Mengutip unggahan akun Instagram Humas Jogja, ketika itu, Hamengku Buwana I menentukan hutan beringin yang mempunyai sumber air sebagai tempat paling ideal untuk menjadi ibukota kerajaan (keraton). Usai pembangunan pesanggrahan selesai, nama pesanggrahan diganti menjadi Ayodhya, yang belakangan dilafalkan jadi Ngayodhya atau Ngayogya. Dari sinilah, muncul nama Ngayogyakarta Hadiningrat.
Agenda Hari Jadi DIY ke-279: Khotmil Quran Malam Ini
Terkait peringatan 279 Tahun Hadeging Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kraton Jogja mengadakan 3 kegiatan, yaitu mujahadah akbar, sema'an Al-Qur'an, dan puncaknya Khotmil Qur'an serta pengajian. Seluruh kegiatan berlangsung di Masjid Gedhe Kraton Yogyakarta.
Puncak kegiatan akan berlangsung pada Kamis, 20 November 2025 malam hari.
MUJAHADAH AKBAR
Hari/Tanggal: Rabu, 19 November 2025
Pukul: 20.00 WIB - selesai
SEMA'AN AL-QUR'AN
Hari/Tanggal: Kamis, 20 November 2025
Pukul: 05.00 WIB - selesai
KHOTMIL QUR'AN DAN PENGAJIAN
Hari/Tanggal: Kamis, 20 November 2025
Pukul: 20.00 WIB - selesai
Acara khotmil qur'an ini dapat ditonton melalui live streamingkanal Youtube Kraton Jogja dan akun Instagram Kraton Jogja.
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id


































