Menuju konten utama

Kemenkes Fokus Pulihkan Layanan di Wilayah Bencana

Kemenkes mengaktifkan HEOC, memperbaiki faskes rusak, mengerahkan dokter cadangan, dan memantau penyakit pascabanjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Kemenkes Fokus Pulihkan Layanan di Wilayah Bencana
Konferensi pers Kementerian Kesehatan terkait fasilitas kesehatan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Foto/ Merlina Aryanti

tirto.id - Kementerian Kesehatan mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat setelah banjir bandang dan rendaman panjang yang merusak 31 rumah sakit dan 156 puskesmas.

Wamen Kesehatan II, Benyamin Paulus Octavianus, mengatakan kerusakan terparah terjadi di Aceh dengan 13 rumah sakit dan 122 puskesmas terdampak.

Benyamin menjelaskan situasi di Bener Meriah sangat kritis karena 125 jembatan rusak sehingga akses antar desa terputus total.

“Rumah sakit besar dengan 22 dokter spesialis hanya satu yang hadir, karena BBM habis, listrik mati, air tidak ada, dan akses terputus,” ujarnya saat konferensi pers bersama media di Jakarta pada Jum'at (5/12/2025).

Di Langkat, Sumut, satu rumah sakit terendam selama sembilan hari, membuat seluruh alat rusak dan layanan berhenti. Pasien dipindahkan ke RS Putri Bidadari yang relatif aman dan memiliki kapasitas lebih dari 300 tempat tidur.

Untuk mengkoordinasikan pemulihan, Kemenkes mengaktifkan Health Emergency Operations Center (HEOC) di Banda Aceh, Medan, dan Padang. Melalui HEOC, seluruh bantuan kesehatan, pengiriman oksigen, BBM, alat medis, serta mobilisasi tenaga kesehatan dilakukan terpusat untuk menghindari bantuan yang tidak terkoordinasi.

Kemenkes juga berkoordinasi dengan Pertamina untuk mengirim 1.000 liter BBM lewat pesawat militer guna menghidupkan generator rumah sakit, sehingga bank darah, vaksin, dan stok obat tidak rusak. Langkah darurat seperti pengiriman oksigen konsentrat dan alat habis pakai juga dilakukan ke titik-titik isolasi.

Dirjen Farmalkes, Lucia Rizka Andalusia, memastikan pasokan obat dan vaksin aman meski 5 gudang farmasi kabupaten di Aceh, terutama Aceh Tamiang, rusak total. “Penyakit dominan adalah batuk-pilek, demam, diare, dan penyakit kulit. Semua sudah kami suplai agar tidak ada kekurangan,” ujarnya.

Distribusi Bantuan, Evakuasi, dan Pembukaan Akses

Distribusi bantuan kesehatan sempat mengalami hambatan berat akibat jalan putus dan banjir tinggi di beberapa wilayah. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Sumarjaya, mengatakan bantuan harus dikirim melalui laut, udara, dan darat secara kombinasi karena banyak lokasi tidak bisa ditembus.

“Untuk wilayah Tamiang, kami baru bisa masuk setelah memastikan jalur aman. Kami bawa dua mobil logistik dan tim pelayanan,” ujarnya pada Jum'at.

Sempat muncul laporan warga Aceh meminta bantuan hingga ke Malaysia, namun Kemenkes menegaskan hal itu terjadi karena akses darat terisolasi, bukan karena distribusi tidak berjalan.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Agus Jamaludin, menegaskan semua bantuan termasuk dari Malaysia, wajib melalui HEOC untuk diuji BPOM dan dipastikan distribusinya tepat sasaran. Logistik tidak dibagikan per individu, tetapi melalui puskesmas, RS, dan posko yang sudah beroperasi.

Evakuasi pasien dilakukan di seluruh wilayah terdampak. Di Sumut, pasien dari RS Tanjung Pura dan RS Pertamina Pangkalan Brandan dipindahkan ke RS Putri Bidadari.

Di Aceh Timur, tiga rumah sakit yang terendam memindahkan pasien ke rumah sakit yang masih beroperasi. TNI dan mahasiswa Poltekkes membantu pembersihan lumpur agar fasilitas dapat segera digunakan kembali.

Kemenkes menurunkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) untuk mengisi kekosongan tenaga medis di daerah terdampak. Kebutuhan mencakup dokter spesialis penyakit dalam, anak, bedah, obstetri, anestesi, pneumonologi, dokter umum, apoteker, hingga ahli elektromedis untuk memeriksa alat kesehatan rusak.

“Tenaga kesehatan sebanyak mungkin diperlukan karena kelelahan pasti terjadi,” ujar Benyamin.

Ratusan dokter dari UI, RSCM, Unhas, UGM, Adam Malik, dan berbagai Emergency Medical Team (EMT) datang secara sukarela bahkan menggunakan biaya pribadi.

“Saya terharu karena banyak yang berangkat tanpa menunggu koordinasi, memakai uang sendiri,” tambah Benyamin.

Penyakit pascabencana seperti ISPA, diare, penyakit kulit, influenza, suspek campak, leptospirosis, dan DBD mulai meningkat. Kemenkes menggelar pelayanan door to door untuk menjangkau warga di wilayah yang sulit mengakses posko kesehatan.

Data Pengungsi dan Pemetaan Layanan

Tim Pusat Krisis Kesehatan mencatat perkembangan terbaru bahwa sejumlah wilayah di Aceh—seperti Aceh Barat, Aceh Selatan, Subulussalam, Singkil, dan Kota Langsa—tidak lagi memiliki pengungsian aktif. Banyak warga memilih tinggal di rumah saudara.

Jumlah titik pengungsian juga menurun dari 828 titik menjadi 692 titik seiring pembukaan akses dan evakuasi bertahap.

Data kelompok rentan yang harus dilayani mencakup:

Bayi: 104.623 jiwa

Balita: 100.008 jiwa

Ibu hamil: 394.250 jiwa

Ibu menyusui: 2.380 jiwa

Lansia: 459.428 jiwa

Penyandang disabilitas: 17.077 jiwa

Pasien hemodialisa: 545 orang

Penyakit berpotensi KLB seperti campak, leptospirosis, dan dengue diawasi melalui sistem surveilans berbasis provinsi dan kabupaten. Tim Kemenkes bersama Dinkes daerah, Balai Karantina, dan Balai Laboratorium Kesehatan melakukan pemantauan langsung di titik rawan.

Di sisi layanan, beberapa rumah sakit dan puskesmas sudah beroperasi penuh, sementara sebagian masih dalam pembersihan. Di Aceh Tamiang, 3 rumah sakit belum beroperasi karena kerusakan berat. Di Sumatera Utara, dua rumah sakit masih terendam. Namun seluruh fasilitas di Sumatera Barat telah kembali berfungsi.

Baca juga artikel terkait KEMENSOS atau tulisan lainnya dari Merlina Aryanti

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Nuran Wibisono