Kekuatan Diplomasi Kuliner

Koki dan personel Angkatan Laut dari 32 negara mengikuti lomba memasak rendang ikan tuna, dalam rangka memeriahkan event Komodo 2016, di kawasan Danau Cimpago, Padang, Sumatera Barat, Rabu (13/4). [antara foto/iggoy el fitra/pd/16]
Oleh: Sammy Mantolas - 25 Juli 2016
Dibaca Normal 3 menit
Indonesia diberkahi oleh kekayaan kuliner. Pemerintah pun terus mendorong upaya untuk menjadikan kuliner sebagai duta Indonesia melaluli gastrodiplomacy. Sejauh mana efektivitasnya?
tirto.id - Tidak ada yang lebih ampuh menjadi duta bakso dan nasi goreng ketimbang Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Kedatangan Presiden Obama ke Indonesia pada 2010 silam, terbukti langsung mengangkat pamor bakso dan nasi goreng di kancah internasional.

“Terima kasih untuk bakso, nasi goreng, emping, kerupuk, semuanya enak!” kata Presiden Obama ketika menghadiri jamuan makan malam kenegaraan, saat kunjungannya pada November 2010 silam.

Presiden Negara Adikuasa itu kembali mempromosikan bakso ketika berpidato di kampus Universitas Indonesia. Presiden Obama tanpa malu-malu menirukan gaya penjual bakso menjajakan dagangannya, sembari mengenang masa kecilnya di Menteng. “Baksoooo!” teriak Presiden Obama, yang langsung disambut tawa hadirin.

Kunjungan Presiden Obama dalam kurun waktu hanya 24 jam di Indonesia langsung membuat bakso, nasi goreng, dan sate menjadi terkenal. Turis-turis yang berkunjung ke Indonesia sontak ramai-ramai mencari makanan tersebut. Indonesia tak perlu repot-repot menyusun strategi marketing jitu untuk memperkenalkan masakan Indonesia. Hanya dengan secuil ucapan Presiden Obama, makanan Indonesia langsung ngetop.

Berkat nasi goreng dan bakso pula, orang mengenal adanya kedekatan antara Presiden Amerika dengan Indonesia. Inilah kekuatan diplomasi kuliner.

Diplomasi Kuliner Indonesia

Gastrodiplomacy atau diplomasi kuliner bisa disebut sebagai "instrumen diplomasi tertua". Diplomasi ini memanfaatkan makanan dan masakan untuk menciptakan pemahaman lintas budaya dengan harapan bisa meningkatkan interaksi antara kedua pihak. Indonesia yang dianugerahi beragam kuliner tentu saja dengan mudah melakukan gastrodiplomacy ini.

Salah satu diplomasi kuliner yang dilakukan Indonesia adalah dengan membuka restoran restoran “Wonderful Indonesia” tepatnya di No. 311 Jinzhai Road Shushan District, Hefei, Anhui, Cina.

"Diplomasi kuliner adalah langkah cerdik untuk memperkenalkan buah karya budaya masakan Indonesia ke pasar Tiongkok. Sekaligus promosi Wonderful Indonesia melalui selera lidah,” kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya sesaat setelah pembukaan restoran wonderful Indonesia, seperti dilansir dari Antara.

Menpar menambahkan, Indonesia memiliki setidaknya 5.300 masakan khas, dari sekitar 17.000 pulau. Kekayaan kuliner itu bisa menjadi penunjang industri wisata.

“Sekali mem-branding restoran yang namanya sudah sangat promotif, Indonesia bisa sekaligus promosi masakan khas” ucap Menteri Pariwisata Arif Yahya,

Kementerian Pariwisata pada saat ini, sedang gencarnya menjadikan promosi kuliner sebagai bagian dari promosi wisata. Menurut Markus Schueller, Wakil Presiden untuk F&B Operations Asia Pasifik Hilton Worldwide, sebagaimana yang dikutip dari nationalgeographic.co.id, kuliner khas sebuah negara atau kota dapat menentukan kemana para wisatawan Asia Pasifik memilih untuk berlibur.

Melihat peluang tersebut, Kementerian Pariwisata menargetkan 2,1 juta wisatawan Cina akan berkunjung ke Indonesia pada 2016. Total turis asing yang ingin ditarget Indonesia mencapai 12 juta orang.

Pengenalan kuliner Nusantara tidak hanya berhenti di Cina. Pada Juni 2016, Indonesia juga memperkenalkan kuliner Nusantara di Denmark dalam acara Asian Culture Festival (ACF). Festival dilaksanakan selama hampir 1 bulan. Kegiatan tersebut diselenggarakan di empat kota besar di Denmark, yaitu di: Havneparken, Kopenhagen (3-4 Juni 2016), Bispetorvet , Aarhus (10-11 Juni 2016), Gammeltorv, Aalborg (17-18 Juni 2016), Brandts Klædefabrik, Odense (24-25 Juni 2016).

Di bulan yang sama, diplomasi kuliner Indonesia juga dilakukan di Jerman, tepatnya di kota Kiel, ibukota Schleswig-Holstein pada tanggal 18-26 Juni 2016. Bedanya, penggagas kegiatan tersebut adalah para diaspora yang berada di Jerman, yang berkolaborasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hamburg.

Ini merupakan jalan baru baru bagi diplomasi Indonesia. Adanya peran dari masyarakat umum ataupun diaspora sebagai nonstate actors, semakin membantu penyebaran kuliner nusantara ke mancanegara.





Meskipun begitu, Indonesia bukanlah Negara pertama yang melakukan diplomasi kuliner. Ada sejumlah negara yang telah lebih dulu melakukannya, negara mana sajakah itu?


Jejak Gastrodiplomacy


Thailand merupakan salah satu negara yang memelopori penggunaan kuliner sebagai sebuah diplomasi. Pada 2002, Thailand mengkampanyekan “Global Thai Programe”. Melalui program itu, Thailand mendirikan restorannya di negara-negara lain. Hasilnya, makanan Thailand begitu mendunia. Global Thai tidak hanya membranding negara Thailand sebagai tempat tujuan kuliner, tetapi mampu mendatangkan peluang ekonomi, membangun kemitraan bagi koki Thailand, produk makanan serta budaya.

Dua tahun setelah program Global Thai dilakukan atau tepatnya tahun 2004, Negara-negara Nordik seperti: Denmark, Swedia dan Norwegia pun melakukan diplomasi kuliner. Sebanyak 12 koki Nordik melakukan pertemuan di Kopenhagen yang akhirnya mengeluarkan “Manifesto for the New Nordik Kitchen”. Pada 2011, dikeluarkan “Nordic Food Diplomacy”. Hingga saat ini, masakan Nordik selalu menjadi rekomendasi untuk program diet seperti, Berry Backed Oatmeal, Berry Green Smouthtie, Root Vegetable Red Lentil Strew, tulis dailyburn.com.

Jauh di belahan bumi utara, ada Jepang dengan program kuliner "Shoku-bunka kenkyū suishin kondankai" yang dimulai pada tahun 2005. Berkat program tersebut, saat ini Sushi menjadi salah satu makanan yang populer di dunia. Berdasarkan Facebook Poll yang dilakukan oleh CNN tahun 2015, masakan Jepang berada pada posisi ke-5 dengan jumlah voters sebanyak 453 orang.

Ada pula Peru dengan program, "Perú Mucho Gusto" yang bila diartikan ke dalam bahasa Inggris menjadi, "Peru, nice to meet you" atau "Peru, full of flavor". Arroz Chaufa adalah nasi goreng yang menggunakan seafood dan cabai Peru. Menu ini merupakan perpaduan antara budaya Asia dan Amerika Selatan, sekaligus menjadi populer di wilayah Singapore.

Sementara Malaysia, pada tahun 2010 mengeluarkan program “Malaysia Kitchen For The World” dengan menargetkan 5 negara yang dianggap penting, di antaranya adalah Amerika Serikat, United Kingdom, Australia, Selandia Baru, dan Cina. Di tahun yang sama, sebanyak $34,2 juta dikeluarkan oleh Taiwan untuk mengadakan program “Dim sum diplomacy”.

Negara selanjutnya yang menerapkan program gastrodiplomacy adalah Australia, melalui program “There's Nothing Like Australia” pada 2014. Melalui program tersebut, pemerintah Australia mengajak seluruh masyarakat untuk berbagi pengalamannya melalui sosial media, selama berlibur di Negara tersebut. Kelompok yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut adalah masyarakat biasa, para pekerja, hingga penyedia jasa tur dan travel.

Pada 2010, Indonesia pernah memiliki program gastrodiplomacy melalui program ”Rendang diplomasi”. Hasilnya cukup ampuh. Pada 2011, polling CNN melalui “Facebook poll” mengenai World's 50 Best Foods, Rendang terpilih sebagai makan yang paling lezat dan berada pada posisi pertama.

Sebagai negara yang diberkahi oleh aneka budaya dan kuliner, sudah saatnya Indonesia menggencarkan diplomasi kuliner. Indonesia harus menunjukkan keberagaman budayanya melalui beragam kulinernya.

Baca juga artikel terkait DIPLOMASI atau tulisan menarik lainnya Sammy Mantolas
(tirto.id - Politik)

Reporter: Sammy Mantolas
Penulis: Sammy Mantolas
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight