Kebaikan-Kebaikan Hati Para Pemain Bola

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 8 April 2017
Dibaca Normal 4 menit
Ronaldo, Messi, maupun Drogba tak melupakan sesama saat sudah sukses dan bergelimang harta. Rajin menyumbang di ranah kemanusiaan, lingkungan, hingga pendidikan dilakukan karena mereka paham rasanya jadi orang tak berpunya.
tirto.id - Bagi sebagian pemain bola profesional, kesuksesan berkarier bukan perkara takdir, tapi akumulasi dari kerja keras mengolah si kulit bundar yang dilakoni sejak dini.

Christiano Ronaldo, misalnya. Satu dari sedikit bintang lapangan dengan julukan “yang terbaik di dunia” ini pada enam tahun lalu pernah tak senang dengan pemberitaan majalah Forbes yang menyebut nilai kekayaannya sebesar Rp2,13 triliun. Kepada Mirror, ia mengoreksi angka itu, sebab sebenarnya kekayaannya hampir Rp3,26 triliun. Pada 2017, jumlahnya kian gemuk dan makin membuat orang geleng-geleng kepala. Terkesan sombong. Angkuh.

Namun Ronaldo juga tak akan pernah lupa masa kecilnya saat tumbuh di kawasan miskin di Santo Antonio, daerah sekitar Funchal, Madeira, Portugal. Ia anak termuda dari Maria Bolores dos Santos, ibunya yang bekerja sebagai juru masak, dan Jose Dinis Aveiro, tukang kebun yang kerap mencari nafkah hingga ke kota. Dua profesi ini hanya menghasilkan gaji pas-pasan untuk sekadar makan sehari-hari dan pemenuhan keutuhan pokok lain.

Ronaldo kecil harus berbagi kamar tidur dengan kakak lak-lakinya Hugo. Sementara dua saudari perempuannya, Elma dan Liliana, tidur bersama orang tuanya di kamar yang lain. Meski kamarnya sempit, Ronaldo justru bersyukur sebab kondisi itu membuatnya lebih dekat dengan sang kakak. Kedekatan ini menjadi sumber kebahagiaannya di rumah. Di sisi lain, saking miskinnya, Ronaldo kecil tak pernah mendapat hadiah mainan saat Natal tiba. Tapi, kata Ronaldo, semuanya terasa normal saat itu.

“Sebab semua tetanggaku hidup dengan kondisi yang sama,” imbuhnya.

Ronaldo dewasa paham bahwa tumbuh dalam lingkungan miskin itu berat. Maka ia pun tak hanya menjelma sebagai pesepakbola dengan nilai transfer dan gaji luar biasa, namun juga sikap dermawan untuk membantu sesama. Saking royalnya menyumbangkan harta, pada 2015 lalu ia dinobatkan oleh Dosomething.org sebagai atlet paling dermawan, mengalahkan 20 nama mentereng lain seperti Serena Williams, Lebron James, Maria Sharapova, atau Ronda Ronsey.

Jejak filantropis Ronaldo bisa ditelusuri pada 2004 kala merintis karier di Manchester United. Ia berkunjung ke Aceh pada 2005 untuk mengumpulkan dana rehabilitasi dan rekonstruksi korban bencana Tsunami sekaligus bertemu dengan Martunis, bocah penyintas berusia delapan tahun yang terlantar selama 19 hari dan selama bertahan hidup sedang memakai kostum tim nasional Portugal bernomor punggung 7 kepunyaan Ronaldo.

Tahun 2008 ia mendonasikan uang hasil konfliknya dengan koran The Sun untuk kota kelahirannya Madeira. Tambahan sebanyak Rp1,6 miliar diberikan pada 2009 untuk sebuah rumah sakit, dan pada 2010 ia bermain dalam pertandingan amal untuk membantu korban banjir di Madeira. Dua tahun berselang ia membayar biaya operasi kanker untuk seorang anak asal Pulau Canary, menunjukkan kepeduliannya yang besar pada kesehatan anak-anak.

Termasuk pada 2012 ia menjual sepatu emasnya yang dimenangkan pada 2011 senilai Rp24.9 miliar untuk mendanai sekolah anak-anak di Gaza, juga bergabung dengan program '11 for Health' FIFA demi pencegahan narkotika, HIV, malaria, dan kegemukan anak-anak. Setahun kemudian ia menjadi duta Save the Children untuk mengatasi bencana kelaparan anak-anak dunia.

Hingga di awal 2017 ini kegiatan filantropisnya masih berjalan. Termasuk berkampanye pencegahan Ebola, menyumbang Rp1,1 miliar kepada seorang penggemarnya untuk operasi otak, sampai mendermakan lebih dari Rp2,19 miliar untuk yayasan kanker di Portugal. Bonus kemenangan Liga Champions musim 2015-2016 sebesar Rp9,96 miliar juga ia sumbangkan untuk kepentingan amal.

Atas Nama Kemanusiaan

Ronaldo tentu bukan satu-satunya pemain bola dengan hati seluas samudra usai mengentaskan kemiskinan di masa lalunya. Rivalnya, Lionel Messi, juga berangkat dari kondisi serupa. Messi besar di Rosario, Santa Fe, Argentina. Ia anak dari seorang pekerja pabrik manufaktur magnet. Pada usia 10 tahun, masa keemasan saat ia mulai dikenal sebagai penyerang produktif di sebuah klub bola lokal, Newell's Old Boy, ia didiagnosa kekurangan hormon pertumbuhan.

Asuransi kesehatan sang ayah hanya mampu melunasi biaya penyembuhannya sebanyak kurang lebih Rp32,3 juta per bulan. Saat itu klub Newell's Old Boy bersedia untuk turut melunasinya, namun sayangnya Argentina kala itu sedang dilanda krisis. Kolapsnya ekonomi negara turut menjadikan hidup Messi tambah berat, namun kepindahan Messi ke Akademi Sepakbola Barcelona lambat laun memperbaiki nasibnya dan keluarga. Messi beruntung sebab bakat bolanya tak luntur hanya karena ia pendek.

Saat sudah dinobatkan sebagai bintang muda lapangan, Messi ditunjuk sebagai ikon sekaligus duta UNICEF sejak 2010 dan telah mengumbangkan sebagian hartanya untuk lembaga PBB yang berkonsentrasi pada nasib anak-anak sedunia itu sejak 2004. Kondisi ini bukan kebetulan sebab hubungan Barcelona dan UNICEF telah mesra sejak lama. Bahkan pernah bagian depan seragam Barcelona diisi oleh nama UNICEF. Messi memiliki konsentrasi khusus pada isu anak-anak yang hidup di daerah bekas bencana, pencegahan HIV, pendidikan, isu anak-anak cacat, dan bagaimana menekan tingkat kematian anak-anak yang kurang beruntung.

Pada 2007, peraih lima FIFA Ballon d'Or itu mendirikan Leo Messi Foundation yang berkontribusi untuk membiayai perawatan anak-anak sakit di Boston, Amerika Serikat, dan juga membiayai beragam penelitian di bidang kesehatan, pelatihan dokter. Lembaga ini juga mendirikan pusat pembangunan fasilitas kesehatan di Argentina, Spanyol, dan negara lain. Serupa dengan Ronaldo, pada 2016 Messi menyumbang Rp923,9 juta untuk lembaga donor Doctors Without Borders usai menang dalam kasus melawan koran La Razon.

Bintang lapangan dari Chelsea yang kini berlabuh di Persib Bandung, Michael Essien, adalah pesepakbola dermawan lain. Ia mendirikan sekaligus menjadi pemilik lembaga donor bernama Michael Essien Foundation yang menyediakan layanan kesehatan air minum bersih, toilet umum, dan perpustakaan. Istrinya, Akosua Puni, ikut berkampanye pencegahan penyebaran virus Ebola bersama Health Africa International.

Salah satu punggawa tim nasional Jerman, Mesut Ozil, pernah menjadi perbincangan di media massa internasional usai mendonasikan bayaran kemenangan di Piala Dunia 2014 Brazil sebesar Rp3,98 miliar untuk 23 anak-anak Brazil yang memerlukan operasi. Pada 2016 kegiatan atas nama kemanusiaannya berlanjut dengan mengunjungi kamp pengungsian Zaatari di Yordania untuk menyemangati anak-anak korban perang sipil di Suriah.

infografik hebat bola rajin berderma

Misi Perdamaian Drogba

Cerita menarik lain datang dari Pantai Gading dan terwakilkan dari pesepakbola paling sukses dari Afrika: Didier Drogba. Drogba lahir di Abidjan, Pantai Gading, bukan di lingkungan yang glamor. Ia kerap bermain sepakbola di parkiran mobil di daerah kota, dan kondisinya di suatu masa tak berubah lebih baik sebab kedua orang tuanya kehilangan pekerjaan. Drogba harus tinggal bersama pamannya.

Kepindahan Drogba ke Prancis menjadi batu loncatan pertamanya dalam berkarier di cabang olahraga paling populer di dunia, termasuk di negara asalnya sendiri. Sebagaimana diketahui, Chelsea menjadi pelabuhan terbaik Drogba selama bertarung di musim 2004-2012 dan 2014-2015. Ia pun otomatis menjadi legenda baik di dalam maupun di luar lapangan sepakbola bagi rakyat Pantai Gading. Ia juga menjadi tulang punggung tim nasional era 2002-2014.

Drogba sadar bahwa ia dibutuhkan oleh negaranya tak hanya sebagai ikon. Sebagai salah satu orang paling sukses (tentu juga paling kaya), ia pun rajin berderma untuk kampung halamannya. Pada 2009, misalnya, mendermakan Rp49,8 miliar hasil kerjasamanya dengan Pepsi untuk pembangunan rumah sakit di kampung halamannya Abidjan, Pantai Gading.

Drogba juga meniti jalan yang sama dengan Messi maupun Essien, yakni dengan mendirikan Didier Drogba Foundation dan berhasil mengajak bekas klubnya Chelsea untuk turut mendanai program-program yang dilaksanakan lembaga donor tersebut. Di awal hijrah ke Satmford Bridge, Drogba bahkan menyumbang Rp 9,96 miliar dari total transfernya ke Chelsea sebesar Rp 398,4 miliar untuk mendukung keberlangsungan klub amatir pertama Drogba, Levallois Sporting Club.

Namun, terlepas dari segala sumbangsih materiil yang ia sisihkan dari gaji, salah satu peran penting Drogba yang akan selalu dikenang dunia internasional adalah membawa perdamaian di Pantai Gading pada tahun 2006. Kala itu Pantai Gading lolos kualifikasi Piala Dunia di Jerman. Drogba, kepada media massa, memohon kepada kelompok-kelompok yang sedang perang sipil selama lima tahun belakangan untuk gencatan senjata dan bersatu untuk mendukung timnas Pantai Gading berjuang di Jerman.

Drogba juga kembali membantu mendamaikan suasana jelang Piala Afrika dan berdampak pada meredanya tekanan dari kelompok pemberontak Bouake. Langkah ini turut melancarkan proses perdamaian beberapa waktu setelahnya.

Atas kontribusinya, Drogba ditunjuk oleh UNDP sebagai duta perdamaian sebab UNDP juga terkesima dengan kerja-kerja derma Drogba dan percaya bahwa profil populer Drogba akan meningkatkan kewaspadaan atas isu-isu sensitif di Afrika. Pada 2011 Drogba juga bergabung dengan Komisi Kebenaran, Rekonsiliasi, dan Dialog sebagai upaya menjaga perdamaian di negaranya. Konsistensi Drogba diganjar prestasi oleh majalah Time dengan masuk sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia tahun 2011.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Akhmad Muawal Hasan