5 Juni 1942

Kapal Induk Akagi: Kebanggaan AL Jepang yang Karam Dihajar Amerika

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah - 5 Jun 2022 00:05 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Akagi adalah kapal induk terbesar dan tulang punggung alutsista Jepang di Pasifik. Riwayatnya tamat di Pertempuran Midway.
tirto.id - Selama dua ratus tahun, Jepang adalah negara yang tertutup. Kedatangan orang-orang dari luar negeri selalu disambut penolakan yang tak jarang berakhir dengan pertumpahan darah. Hanya Cina, Korea, dan Belanda yang dapat memasuki teritori Jepang. Itu pun terjadi karena ada kepentingan perdagangan dan terbatas di Pulau Dejima, Nagasaki.

Akibatnya, tidak ada pihak luar yang mengetahui kondisi Jepang. Di sisi lain, Jepang juga sama buta terhadap perubahan dunia luar.

Kondisi ini kemudian berubah pada 1853 ketika Negeri Matahari Terbit didatangi armada Komodor Matthew Calbraith Perry (1794-1858) dari Amerika Serikat. Komodor Perry hendak “membuka paksa” isolasi Jepang. Kedatangan armada Komodor Perry itu pada akhirnya menyadarkan Keshogunan Tokugawa bahwa Jepang adalah negeri yang tidak berdaya. Seluruh sektor yang ada di Jepang sudah ketinggalan zaman.

Saat Perry tiba, Jepang hanya memiliki beberapa senapan dan meriam kuno. Para samurainya pun tidak dibekali dengan senjata memadai. Keadaan ini membuat Jepang tidak memiliki pilihan selain bersedia menjalin kesepakatan dengan Amerika Serikat. Pasalnya, Jepang dihadapkan pada risiko besar jika menolak: bertempur melawan militer Amerika Serikat yang sangat modern.

Apakah Jepang punya kesempatan untuk menang? Jika pun ada, peluang kemenangan itu sangat kecil.

Sebagaimana ditulis Robert B. Edgerton dalam Warriors of the Rising Sun: A History of Japanese Military (1999), ancaman Amerika Serikat itu menerbitkan ambisi Jepang membangun militer secara modern di darat, laut, dan udara. Modernisasi ini kelak terjadi pula di sektor pendidikan, perdagangan, dan perindustrian yang seluruhnya terangkum dalam program Restorasi Meiji (1868).



Berjaya di Laut

Perkembangan militer Jepang mencapai puncaknya ketika memasuki abad ke-20. Kesiapan tentara terlatih dan alutsista modern membuat Jepang semakin percaya diri. Beberapa kali, Jepang bertempur melawan negeri-negeri tetangganya sekaligus unjuk kekuatan. Salah satu prestasi militer Jepang yang paling fenomenal adalah kemenangannya atas Rusia pada 1905.

Keberhasilan ini menjadikan Jepang sebagai negara Asia pertama yang berhasil mengalahkan negara Eropa dengan militer modern.

Seiring berjalannya waktu, dinamika politik global semakin tidak menentu. Eropa diguncang Perang Dunia I (1914-1918) yang dampaknya kemudian menjalar ke berbagai wilayah dunia. Saat itu, Jepang yang dibantu Inggris ikut bertempur mengamankan wilayah Pasifik Barat dari Jerman. Selain untuk memperluas pengaruh, Jepang juga punya misi menunjukkan kekuatan angkatan lautnya yang sesungguhnya.

Jepang berhasil membuktikan diri di akhir perang. David L. Hanely dalam Kokubokan: Japanese Aircraft Carrier Development 1922-1945 (2000) menyebut bahwa berakhirnya Perang Dunia I dan kesuksesan di Pasifik membuat militer Jepang, khususnya angkatan laut, semakin diperhitungkan.

Kekuatan maritim Jepang kini mendominasi Asia Timur, cukup sejajar dengan kekuatan laut Inggris dan Amerika Serikat. Kondisi ini lantas memantik persaingan militer. Jepang yang menyadari pentingnya kemandirian pertahanan nasional lantas berfokus memperkuat angkatan lautnya.


Membangun Kapal Induk

Memiliki wilayah perairan cukup luas dan berbatasan langsung dengan samudera terluas di dunia menjadi alasan utama Jepang menaruh perhatian lebih pada sektor pertahanan laut. Penguatan angkatan laut menjadi hal penting guna menjaga kedaulatan perairan dari ancaman musuh. Salah satu program kongkret dari penguatan ini adalah proyek pembangunan kapal induk.

Hanely dalam studinya menyebut Jepang memulai proyek pembangunan kapal induknya setelah berakhirnya Perang Dunia I. Pada 1920, Jepang memulai pembangunan kapal induk pertamanya yang dinamai Hosho. Proyek ini mendapat bantuan dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang kala itu merupakan angkatan laut terbesar dan terbaik di dunia.

Kala perang masih berkecamuk, Jepang telah melihat sendiri bagaimana Inggris membangun kapal induknya, termasuk keberhasilan dan kegagalannya. Jepang lantas meniru prosesnya. Bahan, bentuk, dan tata letak kapal induk mereka dirancang mengikuti model Inggris.

Jepang hanya butuh waktu setahun untuk membangun Hosho. Pada November 1921, Hosho mulai mengarungi lautan.

Jepang pun semakin masif membangun kapal induk setelah itu. Dalam waktu lima tahun, industri militer Jepang sukses melahirkan beberapa kapal induk yang didaku hebat. Salah satunya ialah Akagi, kapal induk terbesar yang pernah dibangun Jepang dan menjadi kebanggan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.

Akagi mulai dibangun pada 1920 dan selesai tujuh tahun kemudian. Ia lalu dimodernisasi ulang pada 1938 dengan menanamkan alat tempur yang lebih canggih. Ia pun mampu membawa puluhan pesawat tempur.

Jika dibandingkan dengan kapal induk USS Enterprise milik Amerika Serikat dan HMS Hermes milik Inggris, spesifikasi Akagi tentu sangat jauh berbeda. Meski begitu, kehadiran Akagi dan kapal-kapal induk lain menunjukkan bahwa AL Jepang sudah naik kelas dan tidak dapat diremehkan. Dengan memiliki kapal induk, Jepang dapat melancarkan serangan ke negara lain tanpa memandang jarak.


Berperang dan Karam

Pada 7 Desember 1941, Jepang melancarkan serangan mendadak ke pangkalan laut Amerika Serikat di Pearl Harbor. Meski tidak menyerang daratan utama Amerika Serikat, militer Dai Nippon berhasil menghancurkan kekuatan Paman Sam di Pasifik setelah menempuh perjalanan 4.000 mil atau 6.436 km.

Serangan ini berhasil membuktikan bahwa jarak bukanlah rintangan bagi Angkatan Laut Jepang. Salah satu faktor utama keberhasilan ini adalah keikutsertaan enam kapal induk, yaitu Akagi, Hiryu, Kaga, Shokau, Soryu, dan Zuikaku. Dengan kekuatan sebesar itu, Jepang mampu membawa ratusan pesawat tempur dan menghabisi kekuatan Amerika Serikat.




Jepang kemudian menjadikan Akagi sebagai kekuatan utama dalam pertempuran laut selama Perang Pasifik berkecamuk. Menurut ahli sejarah militer dan kelautan Kennedy Hickman, Akagi turut serta dalam pertempuran melawan Sekutu di Darwin, Australia (Februari 1942) dan di Jawa, Hindia Belanda (Maret 1942).

Namun, ketangguhan Akagi tidak bertahan lama.

Enam bulan setelah serangan ke Pearl Harbor—tepatnya pada 4-7 Juni 1942, Jepang dan Amerika Serikat terlibat pertempuran sengit di Atol Midway. Saat itu, Jepang dibawah arahan Isoroku Yamamoto (1884-1943) ingin menghabiskan sisa-sisa militer Amerika Serikat di sana. Jika berhasil, Jepang dapat memegang kontrol atas Pasifik sepenuhnya.

Tentara Dai Nippon begitu percaya diri karena masih memiliki berbagai macam kapal perang, kapal induk, dan pesawat tempur. Sementara itu, alutsista Amerika Serikat sedang tidak dalam kondisi prima. Di atas kertas, Jepang berada di atas angin. Namun, hasil pertempuran ternyata berbicara lain.

Jepang gagal menang. Pasalnya, militer Amerika Serikat sudah tahu lebih dulu rencana perang Jepang usai meretas kode telegram rahasia Jepang. Saat pertempuran berlangsung, militer Paman Sam sudah pun mampu menjawab tantangan militer Jepang dengan strategi matang.

Di hari pertama pertempuran, armada Amerika Serikat langsung menjadikan kapal induk Akagi sebagai target utama. Pada 4 Juni 1942, pukul 10.26, tiga pesawat tempur Amerika Serikat berhasil menerobos serbuan senapan antipesawat Jepang dan menjatuhkan bom seberat 453 kg ke hanggar Akagi.

Terjangan bom itu membuat Akagi rusak parah dan kebakaran hebat segera melanda seluruh isi kapal. Akagi sudah tak dapat diselamatkan lagi. Pada subuh 5 Juni 1942—tepat hari ini 78 tahun lalu, Yamamoto memerintahkan kapal perusak untuk menembakkan torpedo ke Akagi dan raksasa itu pun langsung tenggelam di Lautan Pasifik.

Jepang makin babak belur setelah itu. Selain Akagi, Jepang juga kehilangan tiga kapal induk lain selama pertempuran berlangsung. Kekuatan laut Jepang pun pincang dibuatnya. Hasil pertempuran itu memperlambat laju militer Jepang di Pasifik dan menjadi momentum awal bagi keunggulan Amerika Serikat.

Baca juga artikel terkait JEPANG atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight